Ketika Hati Tetap Jernih di Tengah Kabut Niat

Admin
17 Okt 2025 20:11
News Opini 0 98
3 menit membaca

Oleh: Hanzirwansyah (Ketua Pandawa Lima Aceh Selatan)

Ada masa di mana hidup tak lagi diwarnai oleh terang dan gelap, melainkan oleh kabut. Kabut yang lembut, menenangkan, tapi menyembunyikan niat.

Di sanalah manusia sering tersesat, bukan karena buta arah, tapi karena terlalu percaya pada cahaya semu yang ditawarkan orang lain.

Manipulasi hari ini tidak lagi datang dengan ancaman. Ia hadir dengan senyum, perhatian, bahkan doa. Di Aceh, tanah yang dikenal dengan kelembutan dan ketaatan, permainan niat sering berselimut kesopanan.

Banyak orang ingin menjadi baik, tapi lupa menjadi sadar. Kita terbiasa menunduk agar diterima, tersenyum agar aman, dan mengalah agar disebut beradab. Namun, di balik itu, sering tersembunyi ketakutan untuk kehilangan penerimaan.

Padahal, kebaikan yang lahir dari ketakutan bukanlah kebaikan, ia adalah keterikatan. Dan keterikatan adalah pintu paling lembut bagi manipulasi.

Orang Aceh mengenal ungkapan tua yakni “ulee seunara, hatee meuhom” (kepala yang berpikir jernih, hati yang teguh).

Dua hal yang seharusnya menjadi jangkar di tengah dunia yang riuh oleh kepentingan. Tapi kini, banyak hati kehilangan “meuhom”-nya.

Kita mudah tersulut oleh pujian, cepat tersentuh oleh iba, dan mudah goyah oleh permainan kata yang tampak suci.

Ketegasan sering disalahartikan sebagai keangkuhan, padahal ia adalah bagian dari kasih terhadap diri sendiri. Menolak dengan tenang adalah cara paling halus menjaga martabat.

Orang yang mampu berkata “tidak” tanpa amarah adalah mereka yang telah menaklukkan diri. Ia tak butuh tepuk tangan, tak haus pujian, karena tahu nilai dirinya tak bisa diguncang oleh pendapat orang lain.

Dalam pandangan sufistik yang hidup di Aceh sejak masa para ulama besar seperti Syeikh Hamzah Fansuri dan Syeikh Syamsuddin al-Sumatrani, kejernihan hati bukanlah hasil dari dunia yang tenang melainkan kemampuan melihat terang di tengah kekacauan. “Hatee meuhom” bukan berarti hati yang keras, tapi hati yang tidak mudah dibengkokkan oleh kepentingan.

Lihatlah dunia kini, banyak yang tampak berjuang untuk kebenaran, tapi diam-diam memperdagangkan niat. Banyak yang berbicara tentang cinta, tapi menukar kejujuran dengan posisi.

Di tengah semua itu, yang paling dibutuhkan bukanlah keberanian untuk melawan orang lain, tetapi keberanian untuk tetap jernih.

Ketenangan bukan tanda kalah. Diam bukan berarti tak peduli. Justru dalam diam yang sadar, manusia menemukan kekuatan tertingginya. Sebab di saat orang lain berlomba menguasai, mereka yang benar-benar kuat memilih memahami.

Menjadi jernih di tengah kabut niat orang lain bukanlah perkara mudah. Tapi di situlah nilai manusia diukur, bukan dari banyaknya kata yang ia ucapkan, tapi dari seberapa dalam ia mengenal dirinya sendiri.

Karena pada akhirnya, sebagaimana pesan orang tua di Aceh, “meuhom hatee, meuseuraya pikiran”( teguhkan hati, jernihkan pikiran).

Itulah jalan sunyi yang membawa manusia menemukan dirinya di tengah dunia yang ramai tapi kehilangan arah.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x