Hari Ketika Rasulullah Kehilangan Khadijah : Cinta yang Tak Pernah Padam

Redaksi
31 Des 2025 06:35
News Tarikh 0 266
2 menit membaca

Rumah yang dulu penuh cahaya itu, hari itu terasa hening. Tidak ada tawa Khadijah. Tidak ada suara langkahnya menyambut Rasulullah seperti biasa. Yang ada hanya nafas yang makin pelan dan tatapan yang makin redup

Khadijah Radhiyallahu Anha ,wanita pertama yang percaya kepada Rasulullah ketika seluruh Mekkah meragukan. Wanita yang memeluk beliau saat pulang gemetar dari Gua Hira.

Wanita yang mengorbankan harta,tenaga dan ketenangan demi dakwah Islam. Wanita itu kini terbaring  lemah di hadapan suaminya.

Rasulullah duduk di sisi tempat tidurnya.Beliau menggemgam tangan Khadijah.Tangan yang dulu selalu menjadi tempat kembali saat dunia menolak.

Tidak ada banyak kata yang diucapkan. Hanya tatapan dalam menyimpan puluhan tahun pelajaran, tawa,tangis,perjuangan,pengorbanan dan cinta.

Khadijah menatap Rasulullah dengan senyuman kecil. Senyum terakhir dari wanita yang tidak pernah sekalipun membuat beliau kecewa.

“Wahai Rasulullah,apakah engkau ridha kepadaku?”,tanyanya dengan suara lirih.

Rasulullah menunduk,air mata jatuh tanpa ditahan.

“Bagaiman aku tidak ridha? Engkau pembenarku,ketika orang lain mendustakan,”

Khadijah tersenyum mendengar itu. Ia memejamkan mata dan ruhnya kembali kepada Allah dengan tenang. Rasulullah tidak langsung berdiri,beliau menunduk lama,seolah bagian dan hatinya ikut pergi  bersama istrinya itu.

Beberapa hari setelah pemakaman,sahabat melihat Rasulullah duduk sendiri.Beliau tetap tersenyum ketika orang datang,meskipun matanya tetap tampak lelah.

Bukankah ini wanita yang menemaninya sejak sebelum kerasulan?, yang menguatkan wahyu saat pertama turun?,yang mendanai dakwah ketika kaum Quraisy memboikot mereka?

Tahun itu disebut ‘Aamul Huzn’ tahun kesedihan. Dalam satu tahun, Khadijah pergi, Abu Thalib pelindung beliau juga wafat.

Dunia seperti menyempit menekan dada Nabi,hingga harus melangkah ke Thaif tak lama setelah itu. Namun cinta Rasulullah kepada Khadijah tidak pernah padam.

Bertahun-tahun kemudian,ketika Aisyah melihat beliau memotong-motong daging dan mengirimkan kepada sahabat-sahabat Khadijah,ia bertanya cemburu:

“Wahai Rasulullah,mengapa engkau terus menyebut-nyebutnya?”

Rasulullah tersenyum,sebuah senyum yang membawa memori panjang.

“Dia percaya kepadaku ketika orang lain meragukan. Dia membenarkanku ketika semua mendustakan. Dia memberikan hartanya ketika tak seorangpun memberi. Dan dari dialah aku mendapatkan anak,” kata Rasullah dengan suara lembut.

Aisyah berkata,” Aku tidak pernah cemburu kepada istri manapun seperti aku cemburu kepada Khadijah,padahal aku tidak pernah melihatnya.”

Begitu besar cinta Rasulullah kepada Khadijah.Bukan cinta yang meledak-ledak,tapi cinta yang tinggal,bertahan dan menetap,meski tubuh telah tiada.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x