
PERGANTIAN nakhoda di sebuah fakultas selalu membawa dua hal: beban dan harapan. Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, amanah itu kini dipikul Bapak Dr. Hamdani. Dan harapan yang disematkan publik kepadanya sederhana namun berat: hadirkan “wajah baru” FISIP. Wajah yang lebih humanis, lebih cerdas, dan lebih berguna dan bermanfaat bagi Aceh.
FISIP USK bukan fakultas biasa. Ia lahir untuk mencetak para pemikir, birokrat, jurnalis, dan aktivis sosial Aceh. Dari ruang-ruang kelas inilah lahir orang-orang yang kelak menentukan arah kebijakan, mengkritisi kekuasaan, dan merawat denyut kemanusiaan di tengah masyarakat. Maka, ketika kita bicara FISIP, kita sedang bicara tentang masa depan Aceh itu sendiri.
Humanis: Mengembalikan Kampus keberlanjutan Damai Manusia
Di era yang serba cepat dan terukur, kampus rawan kehilangan ruhnya. Angka akreditasi penting, publikasi penting, tapi yang paling penting adalah: apakah kampus ini masih peduli pada keberlanjutan manusia?

Kepemimpinan Hamdani diuji untuk mengembalikan FISIP sebagai rumah kedua. Rumah yang aman bagi mahasiswa dari Sabang sampai Singkil untuk bertanya, berbeda, dan bertumbuh. Rumah yang dosennya tidak hanya mengajar, tapi juga mendengar. Humanisme ini harus menjadi napas. Karena ilmu sosial tanpa empati hanya akan menjadi statistik yang dingin.
FISIP harus turun ke bawah. Meneliti kemiskinan bukan dari balik meja, tapi dari dapur warga. Mendengar cerita penyintas bencana, mengangkat kearifan lokal seperti Sumang di Gayo, Meminjam sebuah skripsi mahasiswa yang pernah diuji di FISIP USK oleh penulis Tempoe dulu, dan menerjemahkannya menjadi kebijakan. Itulah keberpihakan sejati ilmu sosial.
Visioner: Menjawab Tantangan Zaman
Tantangan 2026 bukan lagi sama dengan 10 tahun lalu. Ada media sosial yang membelah, ada AI yang mengubah cara kerja, ada krisis iklim yang mengancam pesisir Aceh. FISIP tidak bisa hanya mengajarkan teori lama dengan cara lama.
Wajah baru FISIP harus visioner. Membangun laboratorium kebijakan publik yang jadi rujukan Pemda. Menguatkan kurikulum komunikasi digital dan data. Mendorong riset lintas prodi tentang ketahanan sosial, tata kelola pemerintahan, dan kesejahteraan masyarakat. Tujuannya satu: agar lulusan FISIP bukan hanya pencari kerja, tapi pencipta solusi.
Lebih dari itu, FISIP harus menjadi ruang dialog. Di tengah polarisasi, kampus harus menjadi tempat paling beradab untuk berbeda pendapat. Mengundang semua suara, menguji semua argumen dengan data dan etika.
Tentang Ikhtiar
Pak Hamdani, kami tidak berharap kesempurnaan dalam 100 hari pertama. Kami berharap keberanian. Berani memangkas birokrasi yang berbelit. Berani berpihak pada mahasiswa. Berani menjadikan FISIP mercusuar pemikiran bagi Aceh.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak Ijazah dan SK Pangkat dosen/tendik yang Bapak tanda tangani. Sejarah akan mencatat berapa banyak kehidupan yang berubah lebih baik karena FISIP hadir. Dimana bapak adalah Dosen Pertama yang diangkat langsung sebagai Dosen di FISIP USK dan menjadi Dekan pertama setelah 4 periode dekan Fakultas Merah Maron tersebut berdiri.
Selamat mengemban amanah. Masyarakat Aceh menaruh harapan besar di pundak FISIP USK. Semoga di bawah kepemimpinan baru Dr. Hamdani, FISIP benar-benar tampil dengan wajah yang lebih muda, lebih berani, dan lebih manusiawi. Aamiin
Penulis : Dr. Masrizal, M.A, Dosen Prodi Sosiolog/Peneliti, Sekarang menjabat Koordinator Prodi Magister Damai Dan Resolusi Konflik SPs- USK

Tidak ada komentar