Duta Konservasi Aceh Selatan Kampanyekan Pelestarian Harimau, Gajah, Orangutan, dan Badak Sumatera

3 menit membaca View : 2
Redaksi
Daerah, News - 13 Jul 2026

ASPIRATIF – Di tengah meningkatnya ancaman krisis ekologis di Pulau Sumatera, lima anggota Duta Konservasi Aceh Selatan menginisiasi gerakan edukasi lingkungan bertajuk “Dari Hutan untuk Generasi Kita” sebagai upaya menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan dan satwa liar.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (11/7/2026) di Aula Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Selatan itu dipimpin oleh Miftahul Zikri selaku ketua panitia bersama empat anggota lainnya, yakni Fadlul Hadi, Putri Rahma Saira, Flora Sekar Wahyuni, dan Khesya Febrianti.

Di bawah pendampingan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mereka menghadirkan edukasi lingkungan yang bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat, khususnya kalangan muda, terhadap pentingnya menjaga keberlangsungan ekosistem Leuser dari ancaman kerusakan hutan dan kepunahan satwa dilindungi.

Dalam pelaksanaannya, panitia turut menghadirkan dua narasumber dari Forum Konservasi Leuser (FKL) untuk memberikan materi mengenai kondisi terkini kawasan Leuser, tantangan konservasi, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan.

YEL sebagai lembaga yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berperan sebagai mitra pembinaan Duta Konservasi Aceh Selatan.

Melalui pembinaan tersebut, para duta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang aktif mengedukasi masyarakat mengenai isu-isu lingkungan.

TNGL, Benteng Terakhir Empat Satwa Kunci

Dalam sesi pemaparan materi, narasumber menjelaskan pentingnya Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sebagai salah satu kawasan konservasi paling penting di dunia.

Selain berstatus sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO, TNGL juga menjadi benteng terakhir bagi empat satwa kunci yang masih hidup berdampingan di habitat alaminya, yakni Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Orangutan Sumatera, dan Badak Sumatera.

Keempat satwa tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis. Karena itu, keberadaan TNGL dinilai sangat vital, tidak hanya bagi kelangsungan satwa liar, tetapi juga sebagai penyangga sumber air, penyerap karbon, dan penyeimbang iklim.

Illegal Logging Jadi Ancaman Serius

Selain memperkenalkan pentingnya kawasan konservasi, pemateri juga mengingatkan peserta mengenai dampak buruk praktik pembalakan liar (illegal logging) dan minimnya upaya reboisasi.

Kerusakan hutan disebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko banjir bandang, tanah longsor, berkurangnya cadangan air bersih, hingga meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar akibat menyempitnya habitat alami.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa menjaga kelestarian hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Edukasi Dikemas Interaktif

Suasana sosialisasi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan permainan edukatif yang menguji pemahaman peserta mengenai fungsi TNGL, satwa endemik Sumatera, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Antusiasme peserta terlihat ketika mereka berlomba menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan panitia. Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan hadiah berupa kaus eksklusif bertuliskan

Kita dan Orangutan: Satu Alam, Satu Harapan” kepada peserta yang berhasil menjawab dengan benar

Salah seorang peserta mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut.

“Acara ini sangat mengedukasi dan bermanfaat bagi kami sebagai peserta sosialisasi ini,” ujarnya.

Melalui gerakan “Dari Hutan untuk Generasi Kita”, Duta Konservasi Aceh Selatan berharap semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya menjaga kelestarian hutan Leuser serta ikut berperan aktif dalam melindungi lingkungan demi keberlanjutan kehidupan di masa depan.[]

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *