Kurban untuk Emak

3 menit membaca View : 242
Redaksi
Cerpen, News - 27 Mei 2026

MATAHARI sore mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga di langit kampung. Arini duduk di dipan bambu teras rumahnya, menatap sebuah celengan tanah liat berbentuk ayam di pangkuannya.

Di dalam celengan itu, tersimpan jerih payahnya selama setahun terakhir dari hasil memburuh cuci dan menyetrika pakaian tetangga.

Tiga hari lagi adalah Hari Raya Idul Adha. Sejak tahun lalu, Arini sudah membulatkan tekad. Ia ingin sekali membelikan seekor kambing kurban atas nama Emak.

Sepanjang hidupnya, Emak yang kini sudah menjanda dan mulai sakit-sakitan, belum pernah sekalipun merasakan nikmatnya berkurban.

Setiap kali Idul Adha tiba, Emak hanya tersenyum haru menerima kantong plastik berisi daging kurban dari pengurus masjid, sambil berbisik lirih, “Semoga suatu hari nanti, Emak bisa yang memberi, bukan cuma menerima.”

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Arini. Dengan tangan gemetar, ia memecahkan celengan itu. Prang! Kepingan uang koin dan lembaran uang belasan ribu berserakan.

Setelah dihitung dengan teliti, jumlahnya mencapai 1,5 juta rupiah.Arini menghela napas panjang.

Kemarin ia sempat bertanya ke pasar hewan, harga kambing paling murah berukuran sedang sudah mencapai 1,7 juta rupiah.

Uangnya kurang 200 ribu rupiah. Kebingungan melanda hatinya. Ia tidak mungkin meminta kekurangannya kepada Emak.

Keesokan paginya, dengan langkah penuh harap dan doa, Arini nekat pergi ke tempat penjualan hewan kurban milik Pak Sodik.

Di sana, ratusan kambing berjejer. Arini mendekati sudut kandang, tempat kambing-kambing yang ukurannya paling kecil berada.

“Silakan, Neng. Cari kambing yang mana?” sapa Pak Sodik ramah.

“Pak, kalau kambing yang kurus di pojok itu harganya berapa?” tanya Arini ragu, menunjuk seekor kambing jantan berbulu putih campur hitam.

“Oh, yang itu harganya 1,7 juta, Neng. Pasnya 1,6 juta deh buat Neng, bapak kurangi untungnya,” jawab Pak Sodik.

Arini menunduk, meremas dompet kainnya. “Pak, kalau boleh, saya tawar 1,5 juta, boleh? Uang tabungan saya cuma segini.ini untuk kurban Emak saya, Pak.

Beliau sudah tua dan sakit-sakitan, kepingin sekali kurban tahun ini…” suara Arini mulai bergetar menahan tangis.

Pak Sodik terdiam. Nominal 1,5 juta rupiah sebenarnya adalah modal pas-pasan baginya tanpa ada keuntungan sama sekali.

Namun, melihat ketulusan di mata Arini, hati pedagang itu mendadak luluh. Ada rasa haru yang menjalar di dadanya.

“Ya sudah, Neng,” ucap Pak Sodik sambil tersenyum hangat. “Bapak lepas kambing ini 1,5 juta untuk Emak kamu.

Anggap saja bapak ikut mencari berkah dari niat muliamu.Mata Arini seketika berbinar. Air mata bahagianya luruh tanpa bisa dibendung.

“Benar, Pak?Alhamdulillah.Terima kasih banyak, Pak! Semoga Gusti Allah membalas kebaikan Bapak.”

Sore harinya, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah kayu milik Emak. Pak Sodik sendiri yang mengantarkan kambing tersebut.

Emak yang sedang menjahit baju robek di ruang tamu keluar dengan langkah tertatih menggunakan tongkat kayunya.

“Ini ada apa, Arini? Kambing siapa ini?” tanya Emak bingung melihat seekor kambing diturunkan di halaman rumah.

Arini mendekati Emak, menggenggam kedua tangan tua yang sudah keriput itu, lalu menciumnya takzim.

“Mak, ini kambing kurban untuk Emak besok,” bisik Arini lirih dengan suara tercekat menahan haru.

“Ini hasil tabungan Arini. Tahun ini, nama Emak yang akan disebut di masjid saat penyembelihan.”

Emak terpaku. Matanya melebar, menatap kambing di halaman lalu beralih menatap anak perempuan semata wayangnya.

Air mata perlahan mengalir membasahi pipi tua Emak. Ia langsung memeluk Arini dengan begitu erat.

“Ya Allah.Terima kasih, Nak. Terima kasih” tutur Emak menangis tersedu-sedu di pundak Arini.

“Emak tidak menyangka, di sisa umur Emak, akhirnya Emak bisa ikut berkurban.”

Pak Sodik yang menyaksikan momen tersebut diam-diam menyeka sudut matanya. Di sore yang tenang itu, kebahagiaan yang begitu megah menyeruak di dalam rumah kayu yang sederhana.

Sebuah pengorbanan kecil dari seorang anak, telah mewujudkan impian terbesar dalam hidup sang ibu.[]

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *