Menghidupkan Sedekah dari Gampong: Podcast Kito Dorong Penguatan Umat Berbasis Kebersamaan

Redaksi
20 Mei 2026 07:50
Daerah News 0 61
4 menit membaca

ASPIRATIF.ID – Semangat membangun kekuatan umat dari akar rumput kembali digaungkan melalui Podcast Kito.Sahabat Zakat Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan Episode 11 bertajuk “Bersama Menguatkan Umat.”

Episode yang menghadirkan narasumber Zirhan, SP, seorang tokoh masyarakat Aceh Selatan yang juga Anggota DPRK Aceh Selatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan moral bagi seluruh elemen masyarakat untuk kembali memperkuat budaya zakat, infak, dan sedekah sebagai solusi nyata membangun kesejahteraan umat.

Dipandu oleh host Saidi Hasan, S.Hi, seorang jurnalis sekaligus Pengurus MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan, diskusi berlangsung hangat, mendalam, dan penuh inspirasi tentang pentingnya membangun kemandirian masyarakat dimulai dari tingkat gampong.

Dalam pemaparannya, Zirhan menegaskan bahwa penguatan umat tidak cukup hanya dengan bantuan sesaat, tetapi harus melalui sistem pemberdayaan yang berkelanjutan.

“Amanah yang diberikan bukanlah sekadar untuk menertibkan apa yang sudah ada, tetapi untuk menggali jalan keluar baru bagi kemaslahatan umat. Jangan biarkan hambatan dan dinamika membuat kita lalai dari tujuan utama kita berbuat untuk umat,” ujar Zirhan.

Menurutnya, kekuatan umat harus dibangun melalui ekonomi masyarakat, penguatan solidaritas sosial, dan pengelolaan dana umat yang lebih produktif serta menyentuh langsung kebutuhan masyarakat bawah.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan sedekah sebagai investasi akhirat yang bernilai abadi.

“Saat harta duniawi sudah cukup dan pendidikan anak sudah terpenuhi, pikirkanlah investasi yang sesungguhnya yang akan kita bawa saat menghadap Allah Ta’ala, yaitu sedekah yang meringankan, menerangkan kubur, dan melapangkan jalan kita,” ungkapnya penuh makna.

Salah satu pembahasan yang paling mendapat perhatian dalam podcast tersebut adalah urgensi keberadaan dan optimalisasi Baitul Mal Gampong (BMG) sebagai pusat gerakan sosial dan ekonomi umat berbasis komunitas.

Zirhan menilai, BMG memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan masyarakat. Kedekatan emosional dan geografis membuat pengelola di tingkat gampong lebih memahami siapa yang benar-benar membutuhkan bantuan tanpa proses birokrasi yang rumit.

Menurutnya, potensi infak dan sedekah masyarakat Aceh Selatan sangat besar apabila mampu dihimpun secara terorganisir di tingkat gampong.

“Kita tidak harus selalu terikat pada cara-cara lama. Kita perlu merancang langkah baru, keluar dari kebiasaan yang sekadar baik menuju kebiasaan yang jauh lebih baik untuk memberdayakan mereka yang kurang beruntung,” lanjut Zirhan.

Ia menggambarkan bahwa gerakan sederhana seperti program “Sedekah Jum’at”, “Seribu Sehari”, atau pengumpulan sedekah berbasis komunitas dapat menjadi kekuatan besar apabila dilakukan secara konsisten.

Jika dalam satu gampong terdapat 500 warga yang bersedekah Rp1.000,- per hari, maka akan terkumpul sekitar Rp.15 juta per bulan, dana tersebut dapat diputar kembali untuk modal usaha, masyarakat miskin, bantuan alat kerja, beasiswa anak yatim, santunan kesehatan, hingga program pemberdayaan ekonomi produktif.

Dengan konsep tersebut, BMG tidak lagi hanya dipandang sebagai lembaga penyalur bantuan, tetapi berkembang menjadi lembaga pemberdaya ekonomi umat yang mampu membangun kemandirian masyarakat secara nyata.

Dalam diskusi tersebut juga ditekankan bahwa keberhasilan Baitul Mal Gampong sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat.

Karena itu, pengelolaan dana ZIS harus dijalankan secara: transparan, amanah, profesional, dan memiliki dampak yang nyata.

Masyarakat, menurut Zirhan, akan semakin terdorong untuk bersedekah ketika mereka melihat langsung perubahan yang terjadi dan mengetahui secara jelas manfaat dari dana yang mereka titipkan.

Selain itu, ia mendorong pemanfaatan teknologi digital seperti QRIS, transfer bank, dan grup donasi WhatsApp untuk mempermudah partisipasi generasi muda dalam gerakan sedekah.

Selain itu, Host acara, Saidi Hasan, S.Hi, turut mempertegas bahwa zakat, infak dan sedekah sejatinya merupakan bentuk nyata keadilan sosial dalam Islam.

Ia menilai bahwa keberhasilan gerakan penguatan umat tidak mungkin berjalan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pihak mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, ulama, pemuda, hingga masyarakat umum.

“Penguatan umat bukan sekadar tentang niat yang baik di dalam hati, tetapi tentang langkah nyata yang konsisten dan kebersamaan yang terus kita jaga,” ujar Saidi saat menutup sesi podcast.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi adalah “bahan bakar” utama agar Baitul Mal Gampong tidak hanya hadir sebagai formalitas administratif, tetapi benar-benar menjadi jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

Podcast ini menjadi pengingat bahwa membangun kesejahteraan umat tidak selalu harus dimulai dari program besar dan rumit. Justru perubahan besar sering lahir dari gerakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama dan penuh keikhlasan.

Kehadiran Baitul Mal Gampong dinilai sebagai peluang emas untuk menata ulang kesejahteraan masyarakat dari bawah. Dengan sistem yang transparan, pengelolaan yang amanah, serta partisipasi aktif masyarakat, Aceh Selatan memiliki peluang besar menciptakan ekosistem sosial yang lebih kuat dan berkeadilan.

Jika setiap gampong mampu mandiri, maka Kabupaten Aceh Selatan secara keseluruhan akan tumbuh menjadi daerah yang kuat, produktif, madani, dan diberkahi.[]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x