Lulus Sebagai Indonesia Dyslexia Specialist Teacher, Founder SAY Montessory School Siap Membantu Anak-anak Aceh yang terdeteksi Dyslexia

2 menit membaca View : 6
Redaksi
News, Pendidikan - 30 Jun 2026

ASPIRATIF|BANDA ACEH – Founder SAY Montessory School, Rita Frisillia berhasil menyelesaikan tugas nya sebagai calon Indonesia Dyslexia Specialist Teacher, Founder SAY Montessori School yang pelantikanya berlangsung beberapa hari yang lalu di Bandung.

Rita menyelesaikan program sertifikasi yang digagas melalui Gerakan Bhinneka untuk menyiapkan guru-guru spesialis disleksia di Indonesia bersama 21 orang lainnya dari berbagai provinsi di Indonesia.

Menurut Ketua Gerakan Bhinneka, Laurentia Mira, S.H., M.Fil, program ini lahir dari kebutuhan mendesak.

“Indonesia tidak kekurangan anak-anak berbakat. Yang masih kurang adalah orang dewasa yang mampu membaca tanda-tanda kesulitan belajar secara tepat. Akibatnya banyak bakat yang tersia-siakan dan terperangkap dalam masalah sosial emosional,” ungkap Lauren, Selasa 30 Juni 2026.

Ia menegaskan, Dyslexia Specialist tidak hadir hanya untuk mengajarkan anak membaca.

Mereka hadir untuk mengubah cara sekolah, keluarga, dan masyarakat memandang anak yang belajar dengan cara berbeda.

Anak yang dipahami memiliki kondisi sosial emosioanl yang baik, yang mencegahnya melakukan tindakan kriminal.

“Artinya, sertifikasi ini bukan sekadar hasil mengikuti seminar. Ini adalah proses pembentukan tenaga profesional yang dipersiapkan untuk kembali ke daerah masing-masing dan menjadi pusat pengetahuan baru bagi sekolah, guru, orang tua, dan komunitas,” katanya.

Dukungan terhadap gerakan ini juga hadir melalui UN Dyslexia Network yang menempatkan disleksia dalam paradigma berbasis kekuatan, yaitu melihat disleksia bukan semata-mata sebagai kelemahan, tetapi sebagai perbedaan neurologis yang memiliki tantangan sekaligus potensi.

Dalam konteks Indonesia, gagasan itu menjadi sangat relevan. Di banyak daerah, anak-anak disleksia belum ditemukan dan diberikan bantuan.

Mereka yang terlambat dikenali, menjadi kehilangan kepercayaan diri dan membawa luka akademik hingga dewasa.

Lebih lanjut, Laurentia juga menyampaikan, kehadiran 22 Dyslexia Specialist pertama bukan hanya kabar tentang kelulusan guru. Ini adalah tanda dimulainya jaringan nasional baru: guru-guru yang akan kembali ke daerahnya untuk memastikan semakin sedikit anak Indonesia yang disalahpahami.

Setelah menyelesaikan program sertifikasi ini, Rita bersama SAY Montessori School berkomitmen untuk memperkuat kemampuan guru dalam mendidik anak-anak Dyslexia.

”Insya Allah, dengan bekal ilmu yang sudah saya dapat, saya akan menjadikan SAY Montessori School sebagai pusat pembelajaran Dyslexia,” ucap Rita.

Lebih Lanjut, praktisi Pendidikan Montessori ini menyampaikan salah satu kalimat sederhana yang menjadi filosofinya adalah “Kamu tidak bodoh, cara belajarmu saja yang berbeda,dan kami akan membantumu,”.[]

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *