Terkait Rehab Irigasi Gunung Pudung,  Abu Heri: Kawal Sampai Tuntas

2 menit membaca View : 26
Redaksi
News, Parlemen - 01 Jun 2026

ASPIRATIF|ACEH SELATAN  – Persoalan irigasi di free intake Gunung Pudung menjadi aspirasi utama yang disuarakan masyarakat saat bertemu dengan politisi Partai Aceh, T. Heri Suhadi atau biasa disapa Abu Heri. Menurutnya,  irigasi ini dinilai krusial karena menjadi penentu keberlanjutan sektor pertanian di kawasan Kluet Raya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Gampong Ruak, Kariaman, menyebut kawasan free intake Gunung Pudung sebagai “jantung” bagi para petani di Kecamatan Kluet Utara dan sekitarnya.

Hal serupa juga disampaikna Keuchik Ruak, T. Zuhar Nizan yang berharap pemerintah dan legislatif dapat mewujudkan pembangunan irigasi permanen di lokasi tersebut.

Mendengar keluhan itu, Abu Heri langsung turun meninjau lokasi free intake. Ia memastikan akan mengawal penuh tahapan pembangunan ini. Saat ini, draf Detail Engineering Design (DED) untuk irigasi tersebut sedang diproses.

Tidak hanya itu, untuk memberikan kepastian kepada warga, Abu Heri bahkan langsung menelepon dinas terkait di tengah-tengah forum silaturahmi guna mengonfirmasi progres terbaru.

Saluran irigasi bukan sekadar infrastruktur beton atau aliran air biasa, melainkan urat nadi dan jantung bagi keberlangsungan hidup para petani.

Sadar akan vitalnya peran tersebut, anggota DPRA dari fraksi Partai Aceh, Abu Heri, menegaskan komitmennya untuk mengawal perencanaan pembangunan jaringan irigasi di wilayahnya hingga selesai tanpa celah.

Menurut Abu Heri, keterlambatan atau kerusakan pada sistem irigasi berdampak langsung pada isi dompet dan piring para petani. Jika air macet, dipastikan gagal panen membayangi.

“Irigasi ini jantungnya petani. Kalau jantungnya tersumbat, matilah sawah-sawah kita. Oleh karena itu, pasokan air yang lancar dan adil adalah harga mati untuk menjaga ketahanan pangan daerah kita,” ujar Abu Heri dengan nada optimistis, Senin (1/6/2026).

Ia menambahkan bahwa selama ini petani kerap mengeluhkan pendistribusian air yang tidak merata, terutama saat memasuki musim kemarau.

“Saya pribadi bersama teman-teman petani akan mengawal ini sampai tuntas, sampai air benar-benar mengalir lancar ke petak sawah paling ujung,” ujarnya. []

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *