Di Gua Tsur : Ketika Langit Menjaga Dua Kekasih Allah

Redaksi
2 Jan 2026 08:16
News Tarikh 0 239
3 menit membaca

Malam itu Mekah tidak tidur. Demdam berembus di setiap sudut kota. Para pemuka Quraisy telah sepakat, Muhammad harus dibunuh malam ini. Pedang-pedang di pilih dari setiap kabilah, agar darahnya terbagi dan Bani Hasyim tak mampu menuntut balas.

Namun langit telah lebih dulu bergerak. Rasulullah keluar dari rumahnya dengan tenang,menaburkan pasie ke kepala para algojo yang mengepung,sementara mereka dengan mata terbuka,tak terlihat apapun. Allah menutup pandangan mereka.

Beliau menuju rumah sahabat yang paling setia. Sahabat yang mencintainya bukan dengan kata,melainkan dengan seluruh hidupnya.

Abubakar Ash-Shiddiq Radhiallahu anhu.Ketika Rasulullah berkata ” Allah telah mengizinku berhijrah,”

Abubakar menangis,bukan karena takut tapi karena bahagia.

“Apakah aku akan menemanimu, wahai Rasulullah?”

“Ya,”

Itulah jawaban yang dinantikan Abu Bakar seumur hidupnya. Mereka tidak menuju Madinah. Mereka justru berjalan ke arah berlawanan,ke selatan Mekah,menuju Gua Tsur.

Abu Bakar berjalan di depan,lalu di belakamg. Ia berkata, ” Jika ada bahaya dari depam,aku didepan mu,jika dari belakang aku dibelakangmu,”

Ia tidak menjaga dirinya, Ia menjaga Rasulullah Shallahu alaihi wasallam. Saat tiba di gua, Abu Bakar masuk lebih dulu. Ia meraba lubang-lubang batu. Ia menutupnya dengan kain. Dengan tumit kakinya.Satu lubang tersisa.Ia menutupnya dengan kakinya sendiri

Rasulullah tertidur di pangkuannya.Tiba-tiba ular berbisa menyengat kaki Abu Bakar.Air matanya jatuh.Bukan karena sakit. Tapi takut tangisannya membangunkna Rasulullah.

Air mata itu jatuh ke wajah Nabi.Beliau terbangun dan bertanya, lalu Abu Bakar bercerita.

Rasulullah meludahi lukanya. Dan rasa sakit itu pun hilang. Di luar gua, jejak kaki ditemukan. Para pengejar berdiri tepat di mulut gua. Jika mereka menunduk sedikit saja,mereka akan melihat dua manusia yang paling di cari di Jazirah Arab.

Abu Bakar berbisik,dengan suara gemetar:

“Wahai Rasululah,jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya,niscaya ia akan melihat kita.”

Rasulullah menjawab dengan ketenangan yang hanya dimiliki orang yang yakin kepada Allah, ” jangan bersedih,sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS.At-Taubah:40)

Kalimat itu bukan penghiburan,itu janji langit. Allah menurunkan pertolongan-Nya.Jaring laba-laba terbentang di pintu gua.Burung merpati bersarang.Para pengejar berkata,”Tak mungkin ada orang masuk ke sini.”

Mereka pun pergi.Dua manusia itu selamat.Bukan karena strategi, tapi karena tawakal. Tiga hari mereka bersembunyi.

Abdullah bin Abu Bakar membawa kabar. Asma binti Abu Bakar membawa makanan hingga ia dikenal sebagai Dzatun Nithaqain.Lalu mereka melanjutkan perjalanan panjang ke Madinah.

Perjalanan yang mengubah arah sejarah. Hijrah bukan sekadar pindah tempat. Hijrah adalah bukti bahwa pertolongan Allah turun ketika iman mencapai puncaknya.

Dan di Gua Tsur, Allah mengabadikan persahabatan yang tak tertandingi oleh zaman.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x