
ASPIRATIF – Perjalanan menuju Tanah Suci tidak cukup hanya dengan kesiapan fisik dan kemampuan memahami tata cara pelaksanaan ibadah haji.
Lebih dari itu, calon jamaah perlu memiliki fondasi aqidah yang kuat agar setiap ibadah dilakukan dengan niat yang benar, penuh keikhlasan, dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam pertemuan kelima Manasik Haji KBIHU Nashita Al Hujjaj yang berlangsung di Masjid Taqwa Muhammadiyah, Jalan KH Ahmad Dahlan No. 07, Banda Aceh, Ahad (04/10).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB itu menghadirkan Ustaz H. Dr. Aslam Nur, MA. sebagai narasumber yang juga merupakan Rektor Muhammadiyah Aceh dengan materi “Aqidah Ibadah Haji Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW.”

Materi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian pembinaan jamaah dalam mempersiapkan perjalanan spiritual menuju Baitullah. Acara dipandu moderator Dr. Mainita, M.H. Kes
Dalam penyampaiannya, jamaah diajak memahami bahwa ibadah haji memiliki landasan aqidah yang tidak dapat dipisahkan dari tauhid.
Haji bukan sekadar rangkaian aktivitas fisik seperti thawaf, sa’i, wukuf, dan rangkaian manasik lainnya, tetapi merupakan bentuk penghambaan seorang muslim kepada Allah SWT.
Selain itu, pembahasan juga mencakup kedudukan haji dalam Islam, dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta pentingnya prinsip ittiba’, yakni mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam melaksanakan ibadah.
Begitupun, jamaah juga diingatkan agar berhati-hati terhadap berbagai praktik yang tidak memiliki dasar tuntunan yang kuat.
Pemahaman yang benar diharapkan dapat membantu jamaah menjalankan ibadah dengan lebih tenang, yakin, dan tidak mudah terpengaruh oleh kebiasaan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat.
Ketua KBIHU Nashita Al Hujjaj, Hj. Zaidar Jaafar, S.Ag., mengatakan bahwa pembinaan manasik yang dilakukan secara bertahap merupakan bagian dari upaya mempersiapkan jamaah secara menyeluruh.
“Manasik bukan hanya tempat untuk belajar bagaimana melakukan thawaf, sa’i atau rangkaian ibadah haji lainnya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana jamaah mempersiapkan hati dan keyakinannya. Kita ingin jamaah memahami bahwa mereka sedang memenuhi panggilan Allah, sehingga ibadahnya dilakukan dengan tauhid yang kuat, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW,” ujar Hj. Zaidar.
Menurutnya, pemahaman aqidah menjadi bekal penting karena perjalanan haji akan mempertemukan jamaah dengan beragam kondisi, mulai dari perbedaan budaya, karakter jamaah, hingga tantangan fisik selama berada di Tanah Suci.
“Kesabaran, keikhlasan dan kepatuhan kepada Allah harus menjadi bekal utama. Harapan kita, jamaah Nashita Al Hujjaj tidak hanya pulang membawa pengalaman perjalanan, tetapi juga membawa perubahan dalam kehidupan dan memperoleh haji yang mabrur,” tambahnya.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh perhatian dan kekeluargaan. Para jamaah mengikuti materi dengan antusias, sekaligus menjadikan kegiatan manasik sebagai ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan memperdalam pemahaman sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Bagi KBIHU Nashita Al Hujjaj, proses manasik merupakan bagian dari ikhtiar untuk menemani calon tamu Allah sejak masa persiapan hingga mereka siap menjalankan ibadah.
Setiap pertemuan diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesiapan mental dan spiritual.
Dengan bekal aqidah yang kokoh, pemahaman manasik yang benar, serta semangat mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, para calon jamaah diharapkan dapat menjalani perjalanan haji dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
Sebab, perjalanan menuju Baitullah pada hakikatnya bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat, melainkan perjalanan seorang hamba untuk semakin dekat kepada Allah SWT.[]

Tidak ada komentar