Foto: Ilustrasi Benteng Trumon Trumon pernah punya benteng. Ada yang menyebutnya Benteng Trumon. Ada juga yang menyebutnya Benteng Kuta Batee.
Jejaknya masih ada. Di Desa Keude Trumon, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan. Sekitar 92 km dari Tapaktuan, atau sekitar 2 jam perjalanan darat.
Benteng Trumon yang berada dekat pantai ini bentuknya segi empat. Di dalamnya disebut ada bungker percetakan mata uang Negeri Trumon.
Itu seperti kabar bagi kita saat ini bahwa Trumon pada masanya pernah mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik.
Ada juga yang menyebut, di benteng ini juga ada pusat pemerintahan, dan kegiatan adat, tempat raja, balai sidang, juga gudang.
Singkat kata, benteng itu sedang bicara tentang perlindungan atas negeri, rakyat, dan juga segenap kekayaan negeri.
Rakyat Aceh Selatan, juga sukses melindungi Benteng Trumon. Buktinya, pada 2022 Benteng Trumon sukses meraih Juara 1 API Award untuk katagori situs sejarah.
Ajaibnya, Benteng Trumon tidak runtuh karena perang melawan penjajah. Dia rusak oleh waktu seiring melemahnya kekuasaan politik Kerajaan Trumon di era kolonial Belanda.
Artinya, sekalipun raja-raja Trumon terguling, diguling, diganti. Benteng Trumon masih setia meninggalkan pesan: jaga negeri sebab di situ alam memberi, jaga alam sebab di situ negeri berdiri.
Sayangnya, cerita Trumon hari-hari ini seperti tak kuat lagi memegang simbolisasi pesan dari Benteng Trumon yang masih bisa dilihat.
Bayangkan, tiga tahun lalu saja Aceh Selatan dilaporkan kehilangan tutupan hutan mencapai 1.705 hektar. Daerah paling banyak kehilangan termasuk Trumon, Trumon Timur dan Trumon Tengah.
Itu mencakup juga Taman Nasional Gunung Leuser (11,04 hektar), dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil (628,66 hektar). Di wilayah Trumon, yang paling signifikan terlihat di hutan gambut Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
Di Trumon juga ada Tahura Trumon. Luasnya mencapai 1.865 hektar. Tahura Trumon terhubung dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Suaka Marga Satwa Rawa Singkil.
Tahura Trumon ini sebelumnya hutan produksi.
Rakyat menjaganya, maka ditetapkan menjadi taman hutan raya berdasarkan keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selanjutnya, Gubernur Aceh menetapkan pengelolaan tahura tersebut oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan.
Di Tahura Trumon inilah habitat satwa kunci di Pulau Sumatera, yakni gajah, harimau, orangutan, dan badak berada. Hutan Trumon pantas disebut benteng terakhir Leuser yang menjadi paru-paru dunia.
Sejak pertengahan 2000 an daya tahan benteng historis dan benteng alam benar-benar dibuat rapuh pertahanannya oleh pemburu ekonomi di jalur alam. Investor datang, tidak hanya membawa peta, tapi juga dokumen izin, yang dalam banyak temuan – belum final.
Entah siapa yang membentengi mereka? Jelas bukan Belanda, apalagi Amerika walau dulu pernah menghancurkan Kuala Batee, di Abdya sana. Tapi siapa pula yang begitu berani jika tidak dilindungi? Pasti benteng mereka adalah “belanda-belanda” hitam yang tidak mau tahu dengan pesan dari benteng sejarah dan benteng alam.
Bayangkan, bahkan sebelum mengantongi izin HGU ada yang sudah mulai beroperasi mengelola lahan, melakukan pembibitan dan penanaman. Jadi, mereka begitu pede dengan “merobek” Qanun Meukuta Alam Al-Asyi.
Apakah ini pertanda, Iskandar Muda pun mereka abaikan?
(T Darma Putra)
Tidak ada komentar