
ASPIRATIF – Kemunculan buaya di aliran Sungai Kedai Padang, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, membuat masyarakat setempat resah.
Satwa liar yang diperkirakan berjumlah dua ekor itu beberapa hari terakhir kerap terlihat di sekitar sungai yang berada tak jauh dari permukiman warga.
Kondisi tersebut mendorong Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kluet Utara bersama unsur terkait turun langsung melakukan penanganan pada Selasa (29/9).
Kapolres Aceh Selatan AKBP T. Ricki Fadliansyah, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Kluet Utara Iptu Darwin mengatakan, langkah tersebut dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dan informasi dari masyarakat mengenai kemunculan buaya yang mulai mengganggu rasa aman warga.

“Buaya tersebut beberapa kali terlihat di sekitar aliran Sungai Kedai Padang. Masyarakat menjadi resah dan takut melakukan aktivitas di sekitar sungai,” ujar Iptu Darwin.
Menurutnya, keberadaan buaya menjadi perhatian serius karena sungai tersebut tidak hanya berada dekat dengan permukiman, tetapi juga menjadi jalur aktivitas masyarakat, termasuk nelayan.
Dalam penanganan tersebut, Forkopimcam Kluet Utara bersama unsur terkait terlebih dahulu melakukan koordinasi di Kantor Keuchik Kedai Padang.
Pertemuan itu membahas langkah penanganan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat serta tetap memperhatikan ketentuan terkait perlindungan satwa liar.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Kluet Utara Alman Paluti, S.STP., M.Ec.Dev., Kapolsek Kluet Utara Iptu Darwin, perwakilan Danramil 06 Kluet Utara Serda Mediyanto, anggota DPRK Aceh Selatan Arjuna, Keuchik Kedai Padang Raja Inal, tokoh masyarakat Alfa Rahman alias Agen, pawang buaya Wailan alias Nek Yok, personel Polsek Kluet Utara serta perangkat Desa Kedai Padang.
Setelah koordinasi, tim kemudian bergerak menuju lokasi yang dilaporkan menjadi tempat kemunculan buaya.
Di lokasi tersebut, pawang buaya melakukan ritual dengan harapan satwa tersebut meninggalkan aliran Sungai Kedai Padang dan tidak kembali mengganggu aktivitas masyarakat.
Namun, langkah tersebut belum menjadi solusi permanen. Apabila dalam waktu satu minggu buaya kembali muncul, rencana penangkapan akan dipertimbangkan.
Pawang buaya Wailan alias Nek Yok menyebutkan, upaya penangkapan secara langsung memiliki risiko cukup tinggi.
Selain keterbatasan peralatan, buaya yang diperkirakan lebih dari satu ekor dinilai dapat membahayakan apabila salah satu berhasil ditangkap sementara yang lainnya masih berada di sekitar lokasi.
“Kalau dilakukan penangkapan, risikonya cukup besar karena buayanya diperkirakan lebih dari satu ekor dan peralatan juga terbatas,”ucapnya.
Masyarakat berharap persoalan ini segera mendapat penanganan dari instansi yang memiliki kewenangan terhadap satwa liar.
Pasalnya, berdasarkan informasi di lapangan, aliran Sungai Kedai Padang hanya berjarak sekitar 10 meter dari permukiman penduduk.
Kondisi itu membuat warga khawatir kemunculan buaya dapat berkembang menjadi ancaman keselamatan apabila tidak segera ditangani.
Warga kini memilih meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di sekitar sungai sembari menunggu langkah lanjutan dari pemerintah dan instansi terkait.
Kemunculan satwa liar di dekat permukiman bukan hanya persoalan keresahan warga, tetapi juga membutuhkan penanganan yang terukur agar keselamatan masyarakat tetap terjaga sekaligus ketentuan perlindungan satwa liar tetap diperhatikan.[]

Tidak ada komentar