USK dan UII Tandatangani MoA, Bahas Memori, Perdamaian, dan Ketahanan Masyarakat dalam Menghadapi Krisis dan Bencana

5 menit membaca View : 22
Redaksi
Daerah, News - 19 Jun 2026

ASPIRATIF|BANDA ACEH – Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan (DIB) Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) sukses menyelenggarakan Seminar Series I bertajuk “Memori, Perdamaian, dan Ketahanan Masyarakat dalam Menghadapi Krisis dan Bencana”,Kamis 18 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Mini Theatre Sekolah Pascasarjana USK dan melalui Zoom Meeting ini mempertemukan akademisi, mahasiswa, peneliti, praktisi, serta masyarakat umum untuk mendiskusikan hubungan antara memori, perdamaian, media, dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai krisis dan bencana.

Kegiatan diawali dengan laporan Ketua Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan, Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil., yang menegaskan pentingnya pengembangan ruang akademik yang mampu menjembatani berbagai perspektif ilmu pengetahuan dalam memahami dinamika bencana, konflik, dan proses pemulihan masyarakat. Selanjutnya sambutan disampaikan oleh Direktur Sekolah Pascasarjana USK, Prof. Dr. Hizir.

Seminar secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, S.E., M.Ec.Dev., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala yang hadir mewakili Rektor Universitas Syiah Kuala.

Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya penguatan kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi dalam pengembangan ilmu kebencanaan, perdamaian, dan ketahanan masyarakat.

Menurutnya, tantangan krisis dan bencana yang semakin kompleks membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial, budaya, dan kemanusiaan.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (FISB UII) dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala yang meliputi Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan (DIB), Magister Ilmu Kebencanaan (MIK), dan Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK), serta LPPM Universitas Syiah Kuala melalui Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB) dan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala.

Penandatanganan MoA dilakukan oleh Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. Hizir selaku Direktur Sekolah Pascasarjana USK, Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, S.E., M.Ec.Dev. selaku Ketua LPPM USK, dan Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil. selaku Ketua TDMRC USK.

Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, seminar akademik, pengembangan kebijakan, serta pengabdian kepada masyarakat pada isu-isu sosial, budaya, perdamaian, dan kebencanaan.

Memasuki sesi seminar, Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. menyampaikan materi bertajuk “Media, Komunikasi Publik, dan Ketahanan Sosial dalam Situasi Krisis dan Bencana.”

Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa media memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi.

Media turut membentuk cara masyarakat memahami krisis, mengingat peristiwa masa lalu, serta membangun makna terhadap proses pemulihan.

Oleh karena itu, komunikasi publik yang inklusif dan berorientasi pada masyarakat menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan sosial di tengah berbagai situasi krisis dan bencana.

Narasumber kedua, Dr. Hamdani M. Syam, M.A., membawakan materi “Jurnalisme Damai: Media, Konflik, dan Rekonsiliasi dalam Masyarakat Pascakonflik.” Sebagai akademisi yang telah lama meneliti isu media dan perdamaian, Dr. Hamdani menyoroti pentingnya pendekatan peace journalism dalam peliputan konflik.

Menurutnya, media tidak hanya berperan sebagai pengamat atau penyampai informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan narasi yang mampu mendorong dialog, mengurangi polarisasi, serta mendukung proses rekonsiliasi.

Dalam konteks Aceh, pengalaman panjang konflik menunjukkan bahwa media dapat menjadi instrumen penting dalam membangun pemahaman bersama dan memperkuat perdamaian yang berkelanjutan.

Pada sesi berikutnya, Alfi Rahman, S.I.Kom., M.Si., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Direktur Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB), serta pengajar pada Program Magister dan Doktor Ilmu Kebencanaan dan Program Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK), menyampaikan materi berjudul “Layered Disasters and Contested Memory: Konflik, Tsunami, dan Pemulihan Pascakrisis di Aceh.”

Dalam presentasinya, Alfi memaparkan hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Social Science yang menunjukkan bahwa konflik bersenjata Aceh (1976–2005) dan tsunami Samudra Hindia tahun 2004 tidak dapat dipahami sebagai dua peristiwa yang terpisah.

Kedua peristiwa tersebut membentuk apa yang disebut sebagai layered disasters atau krisis berlapis, yang secara bersama-sama memengaruhi pengalaman hidup, kerentanan, proses pemulihan, dan memori kolektif masyarakat Aceh.

Melalui wawancara mendalam di berbagai wilayah Aceh, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascakrisis tidak hanya berlangsung melalui rekonstruksi fisik dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui proses sosial yang melibatkan praktik-praktik perawatan (care practices), dukungan psikososial, solidaritas komunitas, pengetahuan lokal, dan pewarisan memori antargenerasi.

Studi ini juga menyoroti peran penting perempuan dalam menjaga keluarga dan komunitas selama masa konflik maupun pascatsunami, serta pentingnya pengetahuan lokal seperti Smong di Simeulue sebagai bentuk memori kolektif yang berkontribusi terhadap ketahanan masyarakat menghadapi bencana di masa depan.

Para narasumber Seminar Series I Program Doktor Ilmu Kebencanaan USK berdiskusi mengenai peran memori, media, perdamaian, dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi krisis dan bencana.

Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si., Dr. Hamdani M. Syam, M.A., dan Alfi Rahman, S.I.Kom., M.Si., Ph.D., dengan moderator Prof. Dr. Ir. Ella Meilianda, S.T., M.T., IPU.

Diskusi yang dipandu oleh Prof. Dr. Ir. Ella Meilianda, S.T., M.T., IPU. berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan terkait hubungan antara memori, media, konflik, perdamaian, trauma, dan kebencanaan, serta bagaimana pengalaman Aceh dapat menjadi pelajaran berharga bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.

Melalui penyelenggaraan Seminar Series I ini, Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala berharap dapat terus memperkuat tradisi akademik yang kritis, reflektif, dan transdisipliner dalam memahami berbagai bentuk krisis yang dihadapi masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk memperluas jejaring kolaborasi antara perguruan tinggi, pusat riset, dan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pembangunan perdamaian, serta pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan.[]

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *