Jumat Sunyi Presiden Soeharto…

6 menit membaca View : 0 View
Redaksi
Nasional, News - 08 Jun 2026

ASPIRATIF|JAKARTA  – Selama 32 tahun memimpin Indonesia, Soeharto lebih banyak dikenang melalui pidato-pidatonya, kebijakan pembangunan, serta berbagai keputusan politik yang membentuk perjalanan bangsa.

Di hadapan publik, Presiden ke-2 RI itu tampil sebagai sosok yang tegas dan penuh perhitungan. Namun, di balik podium kenegaraan dan berbagai seremoni resmi Istana, terdapat sisi lain Soeharto yang tidak selalu terekam dalam catatan sejarah maupun pemberitaan sehari-hari.

Sisi tersebut justru lebih banyak disaksikan oleh orang terdekat maupun para wartawan yang bertahun-tahun mengikuti aktivitasnya dari dekat.

Bagi para peliput Istana pada era Orde Baru, Soeharto bukan hanya seorang kepala negara yang memimpin rapat kabinet atau menerima tamu-tamu penting.

Ia dikenal gemar menyapa wartawan dengan pertanyaan sederhana, melakukan perjalanan yang tidak banyak diketahui publik, hingga memiliki rutinitas tertentu yang membuat hari-hari di Istana berjalan berbeda dari biasanya.

Jumat tenang

Salah satu kebiasaan yang paling diingat para wartawan Istana adalah suasana Jumat yang berbeda dibanding hari-hari lainnya.

Kebiasaan ini dibagikan oleh jurnalis senior Bambang Wiwoho, dalam bukunya berjudul “Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen” yang diluncurkan, pada Senin (8/6/2026).

Bambang menyaksikan, hari Jumat memiliki ritme yang tidak sama dengan hari-hari lainnya. Hampir tidak ada agenda kepresidenan yang dapat diliput pada hari tersebut, kecuali kegiatan kenegaraan, kunjungan kerja, atau peristiwa yang dinilai sangat penting.

“Di luar acara-acara tadi, biasanya pada Jumat siang beliau beristirahat,” kata Bambang, dikutip dalam buku tersebut, Senin. Menurut Bambang, pola tersebut tidak terlepas dari laku spiritual yang dijalani Soeharto pada malam sebelumnya.

Berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari sejumlah anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Soeharto kerap menghabiskan malam Jumat untuk bertafakur hingga larut, bahkan sesekali menjalani uzlah atau menyendiri di tempat-tempat yang jauh dari keramaian.

“Tempat beruzlah yang sering dikunjungi saat itu adalah goa dan bukit kecil di pantai selatan Cilacap, yang dikenal sebagai Gunung Srandil,” tutur dia.

Ia menuturkan, di kalangan masyarakat, lokasi tersebut dikenal memiliki nilai spiritual dan kerap menjadi tujuan para peziarah.

Selain Gunung Srandil, sejumlah sumber juga menyebut beberapa tempat lain yang pernah digunakan Soeharto untuk bersemadi, mulai dari kawasan Gunung Selok di Cilacap hingga sejumlah titik di lereng Gunung Lawu.

Bagi Bambang, kebiasaan-kebiasaan tersebut memperlihatkan bahwa di balik sosok Soeharto yang dikenal tenang, tidak banyak bicara, dan penuh pertimbangan, terdapat dimensi spiritual yang diyakini ikut membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan maupun kepemimpinan.

Pada Jumat malam, ia kerap mengadakan pertemuan tertutup di kediamannya di Jalan Cendana, Jakarta, bersama Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) Yoga Sugomo dan beberapa pejabat tertentu.

Pertemuan itu digunakan untuk mengevaluasi berbagai perkembangan politik, keamanan, maupun pemerintahan, sekaligus membahas perkiraan situasi ke depan beserta langkah antisipasinya.

“Pada dasawarsa 1980-an, penulis bersyukur sesekali diajak berdiskusi oleh Pak Yoga untuk mempersiapkan acara “Jumatan” tersebut. Kegiatan jumat malam ini tertutup bagi liputan wartawan,” ungkap Bambang.

Perjalanan rahasia Sang Presiden

Di luar rutinitasnya di Istana, Soeharto juga dikenal gemar turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat.

Berbeda dengan praktik “blusukan” yang dikenal saat ini, kunjungan lapangan pada masa Soeharto dilakukan secara tertutup dan melibatkan sangat sedikit orang.

Salah satu pengalaman tersebut dikenang Try Sutrisno saat masih menjadi ajudan presiden pada 1974, yang dikutip dalam bukunya berjudul “Soeharto: The Untold Story”.

Berdasarkan pemberitaan Kompas.com, suatu hari Soeharto mendadak memerintahkan Try menyiapkan kendaraan dan pengamanan dalam jumlah terbatas tanpa memberitahu pihak lain mengenai rencana perjalanan itu.

“Siapkan kendaraan, sangat terbatas. Alat radio dan pengamanan seperlunya saja dan tidak perlu memberitahu siapa pun,” perintah Soeharto, kala itu.

Perjalanan rahasia itu berlangsung selama dua pekan dengan rute melintasi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Hanya segelintir orang yang mengetahui kegiatan itu, yakni Try Sutrisno, Komandan Paspampres Kolonel Munawar; seorang ajudan; dokter pribadi, Mardjono; Ketua G-I/S Intel Pertahanan dan Keamanan Mayjen TNI Benny Moerdani; dan mekanik kendaraan yang mengurus kendaraan yang turut serta dalam perjalanan.

Bahkan, Panglima ABRI saat itu disebut tidak mengetahui bahwa presiden sedang berkeliling daerah dengan pengamanan seadanya.

Soeharto merasa perlu melihat langsung bagaimana program-program pemerintah dijalankan di lapangan, ketika Indonesia tengah memasuki Pelita II.

Dengan cara tersebut, ia dapat menyaksikan kondisi desa apa adanya sekaligus mendengar masukan masyarakat secara langsung tanpa persiapan khusus dari aparat setempat.

Try dalam bukunya juga mengemukakan bahwa rombongan menjalani kehidupan yang sederhana. Mereka tidak menginap di hotel maupun makan di restoran, melainkan bermalam di rumah kepala desa atau rumah-rumah penduduk. Bekal logistik pun dibawa dari Jakarta.

“Kami tidak pernah makan di restoran, menginap di rumah kepala desa atau rumah-rumah penduduk. Untuk urusan logistik, selain membawa beras dari Jakarta, Ibu Tien membekali sambal teri dan kering tempe. Benar-benar prihatin saat itu,” tutur Try.

Meski dirahasiakan, kedatangan Soeharto di sejumlah daerah pada akhirnya tetap diketahui pejabat setempat. Sejumlah pejabat sempat memprotes karena tidak mendapat kesempatan menyambut kepala negara tersebut.

Namun, hal itu tidak mengubah pola perjalanan yang memang dirancang agar presiden dapat melihat kondisi masyarakat secara langsung tanpa seremoni berlebihan.

Menurut Try, Soeharto juga tampak menikmati perjalanan keluar masuk desa. Berbagai temuan yang diperoleh selama di lapangan dicatat untuk menjadi bahan pembahasan dalam rapat kabinet.

Bahkan, ketika rombongan sempat tersasar akibat salah mengambil jalan, Soeharto tidak menunjukkan kemarahan.

Suka tegur sapa

Di tengah citranya sebagai pemimpin yang kerap dianggap berjarak dan otoriter, Soeharto ternyata meninggalkan kesan berbeda bagi sejumlah wartawan yang bertugas meliput kegiatan kepresidenan.

Salah satunya dirasakan mantan fotografer Reuters, Enny Nuraheni, yang bertahun-tahun bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan.

Menurut Enny, Soeharto sejatinya merupakan sosok yang cukup ramah dan senang berinteraksi dengan wartawan.

Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menyapa para pewarta dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang menunjukkan perhatiannya terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Sebetulnya Pak Harto kepingin seneng bercanda, dekat (sama wartawan). Terus dia suka nanya sudah jam berapa, sudah makan belum. Cuma orang-orang di belakang dia itu lho yang mungkin khawatir,” kata Enny, dikutip dari pemberitaan Kompas.com.

Meski demikian, hubungan tersebut tetap dibatasi oleh protokol yang ketat.

Pada masa pemerintahan Soeharto, wartawan tidak memiliki keleluasaan untuk melakukan wawancara langsung (doorstop) sebagaimana lazim dilakukan saat ini.

Sebagian besar pernyataan presiden hanya dapat diperoleh melalui konferensi pers atau pidato dalam acara resmi.

Namun, hubungan yang selama bertahun-tahun terjalin antara Soeharto dan wartawan Istana memasuki babak yang berbeda pada 1998.

Di tengah krisis ekonomi dan gejolak politik yang melanda Indonesia, para jurnalis yang biasa mengikuti kegiatan presiden mulai merasakan bahwa situasi tidak lagi berjalan seperti biasa.

Salah satu jurnalis yang merasakannya adalah wartawan Harian Kompas, Joseph Osdar. Momennya terasa ketika Soeharto bertolak ke Kairo, Mesir, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G15 pada 9 Mei 1998.

Sebelum berangkat ke Mesir, Soeharto sempat memberikan konferensi pers dan menyampaikan keyakinannya bahwa pemerintah dapat mengatasi situasi yang berkembang.

Akan tetapi, Osdar menangkap sesuatu yang berbeda pada hari itu. Biasanya, setiap kali melakukan kunjungan kerja ke luar negeri, Soeharto menyempatkan diri menyalami para wartawan Istana yang ikut dalam rombongan.

Namun, kali itu, kebiasaan itu tidak dilakukan. Bagi sebagian wartawan yang sudah lama mengikuti aktivitas presiden, perubahan kecil itu menjadi isyarat bahwa situasi yang sedang dihadapi negara memang tidak lagi biasa.

“Biasanya kalau kita berangkat ke luar negeri kan Pak Harto salaman. Pak Harto keliling rombongan itu (semua) disalami. Ini enggak. Langsung berangkat,” ungkap dia.

Saat disinggung soal alasan mengapa Presiden tidak menyalami wartawan, Osdar menyatakan tidak tahu alasannya secara pasti. Hanya saja dia mengakui saat itu ada perasaan bahwa Soeharto tak akan lama lagi menjabat sebagai Presiden.[]

Sumber : Kompas.Com

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *