Foto : Ilustrasi Langit Madinah sore itu begitu teduh. Angin berembus pelan melewati daun-daun kurma yang bergoyang lembut. Namun, di salah satu sudut kota, dua orang lelaki justru sedang berselisih.
Hanya karena Satu pohon kurma. Bukan ratusan. Bukan ribuan. Hanya sebatang pohon yang tumbuh di pekarangan salah seorang di antara mereka.
Pemilik tanah berkata dengan mata berkaca-kaca, “Wahai Rasulullah, pohon itu menghalangiku menggarap tanahku. Tolong perintahkan ia agar memberikannya kepadaku.”
Semua mata kemudian tertuju kepada Rasulullah ﷺ. Ia memandang pemilik pohon itu dengan penuh kasih. Tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman.

Hanya sebuah tawaran yang membuat langit seakan ikut terdiam. “Berikanlah pohon itu kepadanya dan Allah akan memberimu sebuah kebun kurma di surga.”
Bayangkan satu pohon ditukar dengan kebun di surga. Bukankah itu keuntungan yang tak mungkin ditolak? Namun ternyata,hati manusia tidak selalu melihat dengan mata iman.
Lelaki itu menundukkan wajahnya. Lalu berkata pelan, “Tidak, wahai Rasulullah.” Ia memilih mempertahankan satu pohon yang sebentar lagi akan mati dimakan usia daripada kebun yang tak pernah layu selamanya.
Suasana mendadak hening. Seakan semua orang merasakan betapa beratnya hati yang masih terpaut kepada dunia. Namun di tengah keheningan itu, seorang lelaki berdiri. Namanya Abu Dahdah.
Seorang sahabat Anshar yang dikenal memiliki kebun kurma yang sangat luas. Ratusan pohon berdiri kokoh, lengkap dengan sumur dan taman yang menjadi sumber kehidupan keluarganya.
Dengan napas yang masih tertahan ia bertanya, “Benarkah, wahai Rasulullah… bila pohon itu diberikan, Allah benar-benar menggantinya dengan kebun di surga?”
Rasulullah ﷺ menjawab singkat, “Benar.” Tak ada lagi pertanyaan. Tak ada lagi keraguan. Abu Dahdah langsung menemui pemilik pohon itu.
Lalu mengucapkan kalimat yang membuat semua orang terdiam. “Juallah pohon itu kepadaku. Aku menukarnya dengan seluruh kebun kurmaku.”
Seluruhnya. Bukan separuh. Bukan sebagian. Tetapi seluruh kebun yang berisi sekitar enam ratus pohon kurma.
Angin Madinah seakan berhenti berembus.Orang-orang mematung.
Bagaimana mungkin enam ratus pohon ditukar dengan satu pohon?
Tetapi Abu Dahdah tidak sedang menghitung untung rugi dunia. Ia sedang menghitung janji Allah. Ketika transaksi itu selesai, Rasulullah ﷺ tersenyum.
Lalu ia bersabda dengan penuh kebahagiaan, “Betapa banyak tandan kurma milik Abu Dahdah di surga.”
Rasul mengulanginya berkali-kali. Seolah ingin seluruh penduduk Madinah mendengar bahwa tidak ada sedekah yang benar-benar hilang.
Abu Dahdah kemudian berjalan pulang. Langkahnya ringan. Meski ia tahu, sesampainya di rumah. Ia sudah tidak lagi memiliki kebun. Di depan kebun itu berdiri istrinya bersama anak-anak mereka.
Dengan suara lembut ia memanggil, “Wahai Ummu Dahdah, keluarlah dari kebun ini. Aku telah menjualnya kepada Allah.”
Bayangkan menjadi sang istri. Tempat yang selama ini menjadi sumber penghidupan, tempat anak-anak bermain, tempat keluarga berteduh kini bukan lagi milik mereka. Namun tak ada jeritan. Tak ada keluhan. Tak ada penyesalan.
Sang istri hanya tersenyum. Lalu berkata, “Sungguh, ini adalah perdagangan yang sangat menguntungkan.” Ia menggandeng anak-anaknya keluar dari kebun itu.
Bahkan diriwayatkan, ketika ada buah kurma yang masih berada di tangan anaknya, ia mengambilnya dengan lembut lalu mengembalikannya, karena kini kebun itu telah menjadi milik orang lain.
Begitulah orang-orang yang benar-benar percaya kepada akhirat. Mereka rela melepaskan apa yang dicintai karena yakin Allah tidak pernah ingkar janji.
Lalu kita? Sering kali kita masih menimbang-nimbang untuk bersedekah. Masih takut rekening berkurang. Masih khawatir harta habis.
Padahal yang Allah minta hanyalah sesuatu yang akan kita tinggalkan saat mati.[]

Tidak ada komentar