Abu Heri : Jembatan Bailey Sangat Penting untuk Hadapi Darurat Bencana

Redaksi
10 Jan 2026 12:00
News Parlemen 0 428
2 menit membaca

ASPIRATIF .ID – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), T. Heri Suhadi dari Fraksi Partai Aceh yang akrab disapa Abu Heri, mengingatkan Pemerintah Aceh melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk segera menyediakan stok Jembatan Bailey.

Hal ini dinilai mendesak mengingat tingginya risiko bencana tahunan yang kerap memutus akses transportasi di berbagai wilayah Aceh.

“Belajar dari bencana saat ini yang banyak merusak infrastruktur jembatan maka sangat perlu ketersediaan jembatan bailey,” kata Abu Heri, Sabtu (10/01/2026).

Menurut Abu Heri, ketersediaan jembatan panel baja bongkar pasang (bailey) sangat krusial sebagai langkah penanganan darurat. Sebab,selama ini ketika jembatan permanen putus akibat banjir atau longsor, mobilitas warga seringkali lumpuh total karena proses perbaikan permanen membutuhkan waktu lama dan anggaran besar.

“Jika stok jembatan bailey kita mencukupi, setiap kali ada bencana yang memutus akses jalan, kita bisa langsung melakukan perbaikan cepat. Warga tidak perlu terisolasi terlalu lama sementara kita menunggu proses administrasi bantuan dari Pemerintah Pusat,” ujar Abu Heri.

Lebih lanjut Abu Heri menyampaikan keprihatinannya melihat fakta terhambatnya tindakan membuka daerah terisolasi hanya gara-gara kurangnya ketersediaan jembatan bailey termasuk dari Dinas PUPR Aceh.

Padahal, kebutuhan akan infrastruktur darurat ini merupakan investasi penting untuk mitigasi bencana.

“Kita harus peka dengan kebutuhan akan jembatan yang bisa mengatasi keadaan darurat termasuk jembatan bailey. Ingat,  jembatan bailey bukan sekadar pelengkap, tapi penyelamat ekonomi dan akses publik saat kondisi kritis. Untuk itu ke depan Dinas PUPR Aceh perlu menyediakannya,” tegasnya.

Kondisi saat ini, lanjut Abu Heri, Aceh beruntung masih memiliki beberapa unit jembatan bailey di gudang Dinas PUPR yang merupakan stok dari masa rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-tsunami 2004 silam.

Seperti jembatan bailey milik Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan TNI AD. Sisa-sisa material itulah yang selama ini diandalkan untuk menutupi kebutuhan darurat di lapangan.

“Beruntung kita masih punya sisa-sisa jembatan dari masa tsunami dulu di gudang. Tapi jumlahnya terbatas dan kondisinya tentu butuh peremajaan. Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada stok lama untuk menghadapi bencana masa depan,” tambahnya.

Abu Heri berharap agar ada perhatian khusus untuk kesiagaan menghadapi bencana pada tahun-tahun berikutnya, termasuk jembatan bailey.

“Bek sampe wakte troeh bencana ka gabuk loem tanyo. Sayang tat masyarakat. Bantuan akan na tapi kan leubeh loem got na ata tanyo ile yang jeut ta grak segera,” ( Jangan sempat bencana datang,kita baru sibuk, sayang masyarakat, memang bantuan akan datang,tapi akan lebih baik kalau kita sudah siapkan segera,” tutup Abu Heri.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x