Isra’ Mi’raj : Malam Ketika Langit Dibuka untuk Seorang Hamba

Redaksi
3 Jan 2026 08:47
News Tarikh 0 575
3 menit membaca

Malam itu,Makkah tenggelam dalam sunyi.Tidak ada sorak.Tidak ada tanda-tanda keajaiban.Namun,disebuah rumah sederhana,Allah sedang mempersiapkan peristiwa yang tak pernah dialami manusia manapun sebelum dan sesudahnya.

Rasulullah Muhammad Shallahu alaihi wasallam baru saja melewati masa paling berat dalam hidupnya. Khadijah,istri yang menjadi penopang jiwanyya telah wafat. Abu Thalib, pelindungnya di hadapan Quraisy telah pergi.

Dakwah ditolak, tubuhnya dilukai di Thaif. Doanya hanya diangkat ke langit. Dan pada malam itulah,ketika bumi terasa sempit ,Allah memanggil hamba-Nya.

Dalam riwayat shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah menceritakan bahwa beliau didatangi oleh Malaikat Jibril.

Dadanya dibelah,hatinya dicuci dengan air zamzam, lalu diisi dengan iman dan hikmah. Bukan untuk menyakiti,tetapi untuk menyiapkan, karena perjalanan ini bukan perjalanan biasa.

Di hadapan Rasulullah,Allah menghadirkan Buraq,tunggangan putih,lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Setiap langkahnya sejauh mata memandang. Maka dimulailah perjalanan malam itu. Dari Masjidil Haram, Rasulullah di bawa menuju Masjidil Aqsa.

Perjalanan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan,ditempuh hanya dalam satu malam. Setibanya di Masjidil Aqsa,Rasulullah turun dari Buraq.

Di sana, beliau menyaksikan sesuatu yang menggetarkan langit dan bumi. Para  nabi dari Adam hingga Isa alaihissalam telah dikumpulkan.

Maka Rasulullah maju,dan beliau menjadi imam shalat bagi seluruh nabi. Isyarat itu jelas,risalah telah sempurna dan kepemimpinan umat manusia kini berada di tangannya.

Setelah itu, Mi’raj pun dimulai. Rasulullah dibawa naik menembus langit demi langit. Di langit pertama,beliau bertemu Nabi Adam alaihis salam. Di langit kedua,Nabi Isa dan Yahya.

Di langit ketiga,Nabi Yusuf yang wajahnya memancarkan cahaya. Di langit keempat,Nabi Idris. Di langit kelima Nabi Harun dan dilangit keenam Nabi Musa yang kelak menjadi saksi betapa beratnya amanah umat ini.

Dan dilangit ketujuh,Nabi Ibrahim bersandar di Baitul Ma’mur ,rumah ibadah yang setiap hari dimasuki tujuh puluh ribu malaikat.

Lalu Rasulullah dibawa ke Sidratul Muntaha. Tempat di mana pena berhenti menulis. Tempat di mana makhluk tidak bisa melampaui. Di sanalah , Allah berbicara langsung kepada Rasul-Nya,tanpa perantara,tanpa hijab.

Dan Allah mewajibkan shalat bagi umat Muhammad Shallahu alaihi wasallam.Lima puluh kali sehari semalam. Namun ketika Rasulullah turun dan bertemu Nabi Musa,beliau diberi nasihat : ” Umatmu tidak akan mampu.”

Rasulullah kembali menghadap Allah,hingga akhirnya shalat ditetapkan lima waktu,namun dengan pahala lima puluh,sebuah hadiah,sebuah bukti cinta.

Malam itu berakhir. Rasulullah kembali ke Mekkah sebelum fajar menyinsing. Tempat tidurnya bahkan belum dingin. Namun ketika beliau menceritakan peristiwa itu, banyak yang tertawa.

Banyak yang mendustakan,banyak yang berpaling. Kecuali satu hati yang tak goyah. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: “Jika Muhammad yang mengatakan, maka itu benar.”

Isra’ Mi’raj bukan hanya perjalanan menembus langit. Ia adalah penghiburan bagi hati yang terluka. Penguatan bagi seorang Nabi yang hampir sendirian.

Dan pesan bagi kita umatnya, jika hidup terasa berat,jika doa tak kunjung terjawab, jika dunia terasa sempit. Ingatlah, jalan ke langit selalu terbuka bagi mereka yang bersujud.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x