Foto : IlustrasiAngin uhud siang itu panas dan keras.Debu berterbangan,menerpa wajah para sahabat yang berjuang mempertahankan Islam di saat-saat paling genting.
Diantara suara pedang yang beradu dan teriakan takbir yang menggema,ada satu sosok yang menjadi pusat perhatian musuh dan kekaguman para sahabat : Hamzah bin Abdul Muthalib,”Asadullah”-Singa Allah.
Tubuhnya tegap,langkahnya mantap,dan setiap ayunan pedangnya seperti badai yang memporak-porandakan pasukan Quraisy.
Ia mengenakan bulu burung unta di dadanya, simbol keberanian yang dikenal di medan perang. Namun,pada hari itu,sebuah rencana kelam sedang mengintainya.
Wahsyi Mengintai dari Kejauhan
Di kejauhan,dari balik sebuah batu besar,seorang budak Habasyi bernama Wahsyi memperhatikan setiap gerakan Hamzah.Ia adalah seorang pelempar tombak ulung.Majikannya menjanjikan kebenasan kepadanya dengan satu syarat: “Bunuhlah Hamzah,”
Hamzah telah membunuh pamannya, Tu’aimah,dalam perang Badar.Itu.menjadi alasan dendam dan obsesi mereka.
Wahsyi tidak peduli perang ini untuk apa,siapa yang benar atau siapa yang batil.Ia hanya menginginkan kebebasan.Dan untuk itu,ia menunggu momen yang tepat.
Hamzah Menerjang Seperti Singa
Hamzah bergerak semakin dekat.Ia memukul jatuh seorang musyrik,lalu menebas yang lainnya. Dalam riwayat disebutkan,ia tampak berapi-rapi,penuh keberanian,tanpa sedikitpun rasa takut.
Wahsyi menceritakan:
“Hamzah maju ke arahku.Aku pun mengincarnya dengan tombakku,sampai ketika aku yakin tombakmu mengenainya,aku lemparkan tombak itu,”
Tombak itu melesat. Dan menembus tubuh Hamzah.Hamzah terhuyung,jatuh berlutut,lalu roboh ke tanah Uhud. Sang Singa Allah telah gugur sebagai syahid.
Rasulullah Mencari Hamzah
Saat perang mulai mereda, Rasululah berjalan di antara para syuhada. Beliau mencari satu nama,satu sosok yang sangat dekat di hati beliau, Hamzah.
Ketika beliau menemukan tubuh pamannya,hati beliau seperti diremukkan.
Ibn Mas’ud meriwayatkan:
“Aku belum pernah melihat Rasulullah menangis seperti tangisnya hari itu atas wafatnya Hamzah,”.
(Disebutkan dalam riwayat Sirah Ibn Ishaq dan dikutip oleh ibn katsir, Rasulullah menangis bukan sekedar karena kehilangan seorang paman, tetapi juga sahabat dekat, saudara sepersusuan dan pembela paling gagah dalam islam)
Tubuh Hamzah Dirusak Musuh
Yang membuat Rasulullah semakin terpukul adalah keadaan jasad Hamzah.Kaum musyrik terutama Hindun binti Utbah telah melakukan mutilasi,merusak tubuhnya,memotong hidung dan telinganya, bahkan merobek dadanya.
Saat melihat itu Rasulullah menutup wajahnya dan menangis lebih dalam.
Beliau bersabda :
“Tidak pernah aku mendapatkan musibah seperti musibah kematianmu,wahai Hamzah,”.
Perkataan ini diriwayatkan dalam banyak kitab sirah.
Rasulullah Berdiri di Samping Jasad Hamzah
Rasulullah kemudian berdiri di sisi tubuh Hamzah yang telah berlumuran darah,lalu berkata dengan suara bergetar:
“Wahai Hamzah,semoga Allah merahmatimu.Engkau selalu menyambung silaturahmi,melakukan kebaikan,membela yang benar,dan selalu menolongku,
Beliau berulang-ulang memujinya,berdoa untuknya,bahkan berdiri lama sekali saking tidak tega meninggalkan jasad pamannya itu.
Rasulullah Hampir Mengqishas Mutilasi,Tapi Diturunkan Ayat
Karena begitu marah dan sedih, Rasulullah sempat berniat membalas perlakuan musyrik kepada Hamzah dengan cara serupa. Namun Allah segera menurunkan ayat :
” Jika kamu membalas,balaslah dengan balasan yang sama.Tetapi jika kamu bersabar, maka itu lebih baik,” (QS.An-Nahl:126).
Sejak ayat itu turun, Rasulullah memilih untuk bersabar dan meninggalkan niat membalas mutilasi.
Rasulullah Mendoakan Hamzah Seperti Memimpin Jenazah Banyak Orang
Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah menyalatkan syuhada satu per satu,dan setiap kali beliau menyalatkan seorang syahid ,beliau ikut memasukkan Hamzah dalam doa bersama mereka.
Hingga akhirnya, Rasulullah menyalatkan Hamzah lebih dari 70 kali.Demikianlah cintanya Rasulullah kepada beliau.[Red]
Tidak ada komentar