Foto : IlustrasiDi sebuah rumah tanah liat di Kharaqan,tinggal seorang sufi bernama Abu al-Hasan al -Kharqani. Rumahnya kosong, hanya tikar buruk dan lampu minyak kecil.
Hidupnya miskin,tubuhnya rapuh,tetapi wajahnya tenang,seolah-olah ia tinggal di dunia yang tidak diukur dengan nikmat.
Suatu malam, seorang lelaki datang mengetuk pintu dengan mata sembab.Ia duduk di depan Syaikh sambil menahan isak.
“Aku sudah hilang semuanya,” katanya.
“Usaha hancur,hutang tidak terbayar,anak sakit,istriku pergi tanpa pesan. Setiap hari seperti hukuman.Aku merasa Allah tidak melihatku lagi,”.
Syaikh membiarkan lelaki itu menangis sampai suara tersendat,lalu berkata,
“Musibahmu berat, tetapi aku pernah jatuh dalam ujian yang lebih gelap”.
Lelaki itu menatap dengan mata bengkak.
“Aku pernah sakit tujuh tahun,” ujar Syaikh.”Luka di tubuhku bernanah sampai kain melekat pada daging. Jika dilepas,darah mengalir lagi. Kadang aku terbangun karena rasa sakit seperti pisau mencabik tulang. Tidak ada posisi yang membuatku tenang. Setiap hari tubuhku seperti mayat yang masih bernafas.”
Lelaki itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Keluargaku pergi satu persatu,” lanjut Syaikh. “Ada yang jijik,ada yang takut,ada yang tidak sanggup melihat.Aku tidur sendirian di ruangan gelap,tidak ada yang mengganti kain luka,tidak ada yang membantu membersihkan darah.Hanya aku,luka,dan malam yang sangat panjang,”.
Lelaki itu menggigil.
” Tidakkah engkau meminta Allah menyembuhkan?”
Syaikh menghela nafas.
“Pada tahun pertama aku terus berdoa sambil menangis.Tetapi tidak ada keajaiban.Tidak ada wahyu,tidak ada mimpi.Doaku seakan jatuh sebelum sampai kelangit.Pada puncak sakit, aku hanya berharap mati.Aku berkata, ‘Ya Allah,kalau hidupku begini,ambillah saja nyawaku.’Tetapi keesokan harinya aku masih hidup,”.
Air mata lelaki itu turun tanpa suara.
“Aku berhenti meminta kesembuhan,” kata Syaikh pelan.”Aku tidak lagi berkata,”Ya Allah,angkat semua sakitku,Aku hanya berkata,’Jika aku harus hidup dengan luka, jangan Engkau cabut redha dari hatiku.”
Syaikh menatap lampu minyak yang hampir padam.
“Pada tahun-tahun terakhir,aku mulai mengerti sesuatu yang tidak dapat dipahami tanpa musibah. Ketika semua manusia meninggalkan,ketika tubuhmu tidak pantas dipandang,ketika harga dirimu habis,Allah tetap tinggal.Di tengah bau busuk,ditengah luka yang membusuk, aku tidal merasa sendirian.Aku merasa dipeluk oleh kehadiran yang tidak terlihat.Aku tidak kuat, tetapi aku tidak ditinggalkan.”
Lekaki itu memegang dada,menahan pecahnya hati.
“Musibah bukan hanya sakit tubuh,” ujar Syaikh.” Ia menghacurkan ego, membongkar rasa aman,mematahkan keangkuhan,membuat kita sadar betapa kecilnya kita.Kadang Allah menunda kesembuhan bukam untuk menyiksa,tetapi untuk mencabut sesuatu yang kita tidak mau lepaskan:kemelekatan, keangkuhan,keyakinan bahwa kita dapat hidup sendiri,”.
Ia menggemgam tangan lelaki itu.
“Doa terbaik bukanlah ‘angkatlah semua penderitaanku.’
Doa terbaik adalah ‘Selama aku masih diuji,jangan Engkau cabut rasa redha dan kehadiran-Mu dari hatiku,”.
Lelaki itu menangis lebih keras,bukan karena lemah,tetapi karena merasa dilihat untuk pertama kali dalam hidupnya.
“Jika musibah membuatmu menangis setiap malam,” kata Syaikh, “menangislah. Allah tidak meminta hati yang kebal.Ia hanya meminta agar engkau tidak menutup pintu hati kepadaNya.Ketika semua pintu manusia tertutup,ketika harapan pecah,ketika tidak ada yang tersisa kecuali air mata itu bukan akhir.Itu saat ketika Allah memelul jiwa paling kuat,”.
Lelaki itu pulang malam itu,masih miskin, masih sakit,masih kehilangan tetapi tidak lagi merasa sendirian di dalam gelapnya sendiri.
Ia mulai percaya,musibah bukan hukuman.Musibah adalah cara Allah mematahkan kita perlahan sampai hanya cinta-Nya yang tinggal.[Red]
Tidak ada komentar