USK dan Nonviolent Peaceforce Philippines Teken Kerja Sama, Bahas Perdamaian dalam Bingkai Kearifan Lokal

Admin
11 Nov 2025 17:20
3 menit membaca

ASPIRATIF.ID – Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah PascaSarjana Universitas Syiah Kuala, menggelar kuliah umum bertema “Damai dalam Bingkai Kearifan Lokal” yang dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementation Agreement (IA) antara USK, Sekolah Pascasarjana, serta Program Studi MDRK dengan Nonviolent Peaceforce Philippines, (Selasa, 11/11/2025).

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Drs. Mahdi Effendi, Kepala Sekretariat Badan Reintegrasi Aceh (BRA), serta Dr. Delsy Ronnie, head of mission, phillipines and regional representative for asia.

Dalam paparannya, Mahdi Effendi menegaskan bahwa BRA terus berkomitmen memfasilitasi reintegrasi mantan kombatan, tahanan politik, dan masyarakat korban konflik.

Fokus BRA kini, lanjutnya, ialah memperkuat perdamaian berbasis kearifan lokal melalui pendidikan damai, konsolidasi sosial, pemberdayaan ekonomi, serta rehabilitasi sosial bagi yang terdampak konflik.

“Dalam setiap proses rekonsiliasi, kami selalu melibatkan tokoh adat, ulama, dan perempuan. Mereka adalah penjaga nilai-nilai damai dalam budaya Aceh,” ujar Mahdi Effendi.

Sementara itu, Dr. Delsy Ronnie menyoroti pentingnya memasuki fase positive peace atau “perdamaian positif” setelah dua dekade perdamaian Aceh.

Ia menjelaskan bahwa perdamaian sejati hanya dapat terwujud apabila pemerintah berfungsi dengan baik, lingkungan bisnis berjalan sehat, tingkat korupsi rendah, serta adanya penerimaan terhadap hak-hak semua pihak, termasuk kelompok minoritas.

“Pemerintah perlu memastikan pelayanan publik yang baik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, upaya mengatasi tingginya angka pengangguran di Aceh serta  pemberdayaan kelompok minoritas maupun rentan. Selain itu, bicara investasi juga bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang keberlanjutan dan kesejahteraan sosial. Aceh harus siap untuk itu, termasuk menghadapi dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks,” ungkap Dr. Delsy Ronnie.

Lebih lanjut, Delsy menilai bahwa lahirnya Program Magister Damai dan Resolusi Konflik USK merupakan langkah penting dalam upaya menjawab tantangan global dan lokal dalam membangun perdamaian.

“Program ini sangat relevan dengan semangat untuk memahami konflik, mengembangkan solusi damai, mendorong perubahan positif, dan menghubungkan teori dengan praktik. Namun sejauh ini, yang sudah berjalan dengan baik baru pada tahap memahami konflik, sementara tiga aspek lainnya masih menjadi tantangan besar ke depan,” ujar Delsy Ronnie.

Direktur Pascasarjana USK, Prof. Dr. Hizir dalam sambutannya mengatakan, dalam menjawab tantangan pentingnya menjaga perdamaian di Aceh, kehadiran perguruan Tinggi adalah untuk memberikan sumbangsih pemikiran pengetahuan perdamaian.

Sehingga dengan hadirnya Program Studi Magsister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) SPs-USK, menjadi sebuah solusi dalam memperkuat sumberdaya manusia Aceh dalam mengisi Aceh paska konflik.

Program Studi Damai Dan Resolusi Konflik di Indonesia telah ada di UGM, Dan Unhan. Sedangkan untuk di luar Pulau Jawa baru kita pertama di USK.

Selanjutnya, sambutannya sekaligus membuka acara, Rektor USK, Prof. Dr. Marwan, menjelaskan bahwa Penandatanganan MoU Dengan Nonviolent Peaceforce yang dilaksanakan hari ini menjadi sebuah misi bagi USK untuk terus mempersiapkan USK sebagai Kampus WCU (World Class University) dalam menyuarakan misi perdamaian.

Senada dengan itu, Koordinator Program Studi MDRK, Dr. Masrizal, S.Sos.I., M.A., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang dihadiri oleh mahasiswa USK dan UIN Ar-Raniry berjalan dengan lancar.

“Kegiatan ini menjadi ruang reflektif dan inspiratif bagi mahasiswa untuk memahami praktik perdamaian yang dikaitkan dengan kearifan lokal Aceh. Kami berterima kasih kepada para narasumber dan pihak Nonviolent Peaceforce Philippines atas kolaborasi dan dukungannya,” kata Masrizal.

Melalui kegiatan ini, Program Studi MDRK USK menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi akademik dan internasional dalam membangun perdamaian berkelanjutan berbasis kearifan lokal, serta mendukung peran Aceh sebagai model rekonsiliasi dan resolusi konflik di dunia.

Hadir dalam pertemuan ini Direktur Pasca Sarjana, USK. Prof. Dr. Hizir, Wadir Bidang Akademik. Dr. Ikhsan Sulaiman, Tim Dari Badan Reintegrasi Aceh Dan komisioner KKR Aceh beserta para mahasiswa dari UIN Ar-Raniry, mahasiswa dari FISIP Dan FH USK Dan mahasiswa Magister Damai Dan Resolusi Konflik USK.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x