
ASPIRATIF – Upaya memperkuat pengelolaan sampah organik dan aksi perubahan iklim berbasis masyarakat terus dikembangkan di Gampong Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Melalui Tim PKMBGB USK bersama Aceh Climate Change Initiative (ACCI-USK) dan mahasiswa KKN Tematik USK, sebanyak 15 unit komposter aerob disediakan dan dipasang pada sejumlah titik di gampong.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penguatan Program Kampung Iklim (ProKlim) yang menghubungkan peningkatan kapasitas masyarakat dengan penerapan aksi lingkungan secara langsung.
Komposter aerob diharapkan dapat membantu masyarakat mengolah sampah organik dari sumbernya sekaligus menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan tanaman dan kebun.
Penyerahan dan Instalasi 15 Komposter

Sebanyak 15 unit komposter aerob secara resmi diserahkan pada Jumat, 25 September 2026, di Kantor Desa Gampong Alue Deah Teungoh. Penyerahan dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Sri Mulyati, S.T., M.T., IPU. kepada Irwansyah, S.E., Keuchik Gampong Alue Deah Teungoh, yang turut disaksikan oleh perwakilan dari tim DLHK3 Kota Banda Aceh Bidang Tata Lingkungan DLHK3 Kota Banda Aceh.
Sehari setelah penyerahan, Sabtu, 26 September 2026, tim melaksanakan instalasi seluruh unit pada 15 titik yang telah ditentukan, meliputi Kantor Desa, Waste Collecting Point (WCP), dan Kebun Desa.
Penempatan pada beberapa lokasi tersebut dimaksudkan agar komposter dapat langsung dimanfaatkan pada area yang memiliki aktivitas pengelolaan sampah organik serta kebutuhan pemanfaatan kompos.
Proses instalasi juga melibatkan mahasiswa KKN Tematik USK, khususnya mahasiswa Program Studi Teknik Kimia yang terlibat dalam aspek desain, pemasangan, dan pengenalan penggunaan komposter.
Dari Teknologi Sederhana Menjadi Aksi Lingkungan
Komposter aerob menjadi salah satu pendekatan sederhana yang dapat diterapkan untuk mengurangi sampah organik yang masuk ke sistem pembuangan.
Melalui proses pengomposan, bahan organik dapat diolah menjadi material yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan tanaman dan kebun.
Diva Camila Putri, mahasiswa KKN Tematik USK dari Program Studi Teknik Kimia sekaligus Penanggung Jawab Pelatihan Kompos, mengatakan bahwa edukasi penggunaan menjadi bagian penting dari penyediaan komposter.
“Penyediaan alat perlu diikuti dengan pemahaman tentang cara menggunakannya. Melalui pelatihan kompos, kami mencoba memperkenalkan proses yang sederhana, mulai dari pemilahan bahan organik hingga pemantauan proses pengomposan, sehingga komposter dapat digunakan secara konsisten,” ujar Diva.
Sementara itu, Zaki Muamar, mahasiswa KKN Tematik USK dari Program Studi Teknik Kimia dan Penanggung Jawab Desain dan Instalasi Komposter Aerob, menjelaskan bahwa pemasangan dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing lokasi.
“Kami menempatkan dan memasang komposter pada titik yang telah ditentukan dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan dan pemantauan. Harapannya, setiap unit dapat dikelola oleh penanggung jawab di lokasi masing-masing dan tetap digunakan setelah kegiatan instalasi selesai,” kata Zaki.
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Masyarakat
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi PKMBGB USK dan ACCI-USK dalam mendukung penguatan kapasitas masyarakat dan aksi iklim berbasis gampong.
Keterlibatan mahasiswa KKN Tematik USK memperluas ruang pembelajaran sekaligus mendukung penerapan pengetahuan akademik dalam persoalan lingkungan di tingkat lokal.
Irfan Zikri, perwakilan ACCI-USK sekaligus Anggota Tim PKMBGB USK, mengatakan bahwa pengelolaan sampah organik dapat menjadi pintu masuk untuk membangun aksi iklim yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Aksi iklim tidak selalu harus dimulai dari kegiatan yang kompleks. Pengelolaan sampah organik merupakan aksi yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan dapat dilakukan secara rutin. Yang penting adalah bagaimana teknologi sederhana seperti komposter ini terhubung dengan pengetahuan, kebiasaan, kelembagaan, dan pengelolaan yang berkelanjutan di tingkat gampong,” ujar Irfan.
Menurut Irfan, kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat perlu diarahkan tidak hanya pada penyediaan sarana, tetapi juga pada proses pembelajaran, pendampingan, pemantauan, dan penguatan kapasitas pengelola.
Dukungan Pemerintah Gampong
Keuchik Gampong Alue Deah Teungoh, Irwansyah, S.E., menyambut baik penyediaan 15 unit komposter tersebut.
“Kami berharap komposter ini tidak hanya menjadi bantuan dalam bentuk alat, tetapi benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Jika digunakan secara konsisten, kegiatan seperti ini dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memperkuat pelaksanaan ProKlim di Gampong Alue Deah Teungoh,” ujar Irwansyah.
Penyediaan komposter juga menjadi bagian dari pengembangan aksi ProKlim yang menggabungkan aspek kelembagaan, peningkatan kapasitas, dan aksi lingkungan di tingkat tapak.
Memperkuat Aksi ProKlim dari Tingkat Gampong
Sebanyak 15 komposter aerob yang ditempatkan di Kantor Desa, WCP, dan Kebun Desa diharapkan menjadi sarana pembelajaran sekaligus praktik pengelolaan sampah organik yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat.
Keberlanjutan program akan bergantung pada penggunaan rutin, pemantauan, perawatan, serta pembagian tanggung jawab yang jelas pada setiap titik. Dengan demikian, penyediaan komposter tidak berhenti pada penyerahan sarana, tetapi berkembang menjadi praktik pengelolaan lingkungan yang terintegrasi dengan aktivitas masyarakat.
Melalui kolaborasi PKMBGB USK, ACCI-USK, mahasiswa KKN Tematik USK, DLHK3 Kota Banda Aceh, Pemerintah Gampong Alue Deah Teungoh, dan masyarakat, kegiatan ini menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat pengelolaan sampah organik sekaligus mendukung pengembangan ProKlim dan ketahanan iklim berbasis gampong.[]

Tidak ada komentar