Santri Baru Dayah Perbatasan Minhajussalam di Peusijuk, Tandai Awal Tahun Ajaran Baru 2026/2027

3 menit membaca View : 6
Redaksi
Daerah, News - 06 Jul 2026

ASPIRATIF|SUBULUSSALAM – Sebanyak 225 santri baru Dayah Perbatasan Minhajussalam Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, mengikuti prosesi adat peusijuk dan seremonial serah terima santri untuk menandai dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026-2027, Minggu (5/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Mushala Utama dayah ini berjalan khidmat disertai tangis haru perpisahan antara orang tua dan anak yang mulai menetap di asrama.

Dalam prosesi serah terima, perwakilan wali murid, Tgk. Jakfar, secara simbolis menyerahkan mandat pendidikan anak-anak sepenuhnya kepada pihak dayah. Penyerahan ini disambut hangat oleh Rais ‘Am Dayah Perbatasan Minhajussalam, Abu Tgk. Syafruddin Alyusufy.

Dalam pidatonya yang disampaikan dengan gaya humoris namun penuh ketegasan, Abu Tgk. Syafruddin melaporkan bahwa animo masyarakat tahun ini sangat membeludak. Dari total pendaftar yang mencapai lebih dari 300 orang, keterbatasan kapasitas membuat dayah hanya mampu menampung 225 santri. Demi memastikan istirahat santri tidak terganggu, sebagian ruang belajar bahkan terpaksa dialihfungsikan menjadi asrama.

“Jadi bapak ibu para wali santri jangan heran nanti jika sesekali melihat anak-anak kita terpaksa belajar di teras masjid atau lapangan,” kelakar Abu yang langsung disambut tawa para hadirin.

Beliau juga mengingatkan bahwa wali murid kini telah menjadi bagian dari keluarga besar dayah. Oleh karena itu, jika ada kekurangan, ia meminta orang tua ikut bergerak memperbaiki, bukan sekadar mengkritik.

“Ada sampah jangan dikritisi, tapi diambil dan dibersihkan karena ini tempat kita bersama,” tambahnya.

Kepada ratusan santri baru, Abu memberikan wejangan tegas agar mereka tidak cengeng selama masa adaptasi di lingkungan pesantren.

“Kalau mau menangis karena rindu rumah, Abu cuma kasih waktu satu minggu di awal. Selebihnya tidak ada waktu lagi. Kalau lewat seminggu kedapatan menangis, nanti dihukum denda disuruh menangis lagi,” canda Abu memotivasi mental para santri.

Pada kesempatan tersebut, Abu turut menguraikan profil Dayah Perbatasan Minhajussalam yang kini genap berusia 16 tahun dan merupakan salah satu dari lima dayah perbatasan strategis di bawah binaan Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh.

Hingga saat ini, lembaga tersebut telah melahirkan 11 angkatan alumni dengan total 581 lulusan, serta mengasuh total 773 santri aktif.

Komitmen mencetak kader unggulan ini dijabarkan melalui visi “MISI BIRATA” (Bekal hari tua, Intelektual muslim yang handal, Rahmat dalam lingkungan hidupnya, Amanah, Takwa sebagai jati diri, Anak yang shalih), yang selaras dengan motto puitis dayah: “Kukejar citaku, Bersama cintamu”.

Pihak dayah menegaskan bahwa rekam jejak santri Minhajussalam telah teruji di berbagai pentas prestasi, mulai dari tingkat daerah hingga mewakili Aceh di tingkat internasional pada ajang Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) dan MTQ.

Kegiatan penyambutan ini resmi berakhir setelah pelaksanaan shalat Ashar berjamaah. Momen penutup dipenuhi haru biru saat para wali murid harus melangkah pulang dan merelakan putra-putri mereka tinggal di asrama demi menjemput impian menjadi generasi emas pembangga orang tua, agama, dan bangsa.[]

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *