Terkait Irigasi Gunung Pudung, Ini Kata Ketua Fraksi PNA DPRK Aceh Selatan

3 menit membaca View : 210
Redaksi
News, Parlemen - 29 Mei 2026

ASPIRATIF|TAPAKTUAN – Polemik terkait kondisi irigasi Gunung Pudung Kecamatan Kluet Utara mendapat tanggapan dari anggota DPRK Aceh Selatan, Arjuna.

Menurut ketua Fraksi Partai Nanggroe Aceh (PNA) itu,sedimentasi yang menumpuk di pintu intake disebut menyebabkan distribusi air ke areal persawahan masyarakat terganggu selama hampir setahun terakhir.

Lebih lanjut, Sekretaris Komisi III DPRK Aceh Selatan itu menilai, lambatnya penanganan dari Dinas Pengairan Provinsi Aceh menjadi penyebab utama persoalan tersebut terus berlarut.

Itu sebab, sedimentasi pada pintu air membuat aliran menuju saluran irigasi di sayap kiri dan kanan tidak lagi berjalan maksimal sehingga berdampak terhadap ribuan hektare sawah masyarakat di kawasan Kluet Raya.

“Akibat sedimentasi yang menumpuk pada pintu air, aliran air tidak lagi mampu mengairi persawahan masyarakat secara maksimal. Kondisi ini sudah berlangsung kurang lebih selama satu tahun terakhir,” kata Arjuna, Jumat, 29 Mei 2026.

Selain itu, Arjuna menjelaskan, irigasi Gunung Pudung dibangun sekitar tahun 1993 dan selama ini menjadi sumber utama pengairan lahan pertanian masyarakat di Kluet Raya.

Namun, perhatian terhadap pemeliharaan dan normalisasi irigasi disebut minim meski berada di bawah kewenangan Dinas Pengairan Provinsi Aceh.

Kata Arjuna, persoalan distribusi air itu bukan pertama kali terjadi. Petani, kata dia, sudah berulang kali mengalami gangguan serupa, namun belum ada penanganan menyeluruh dari pemerintah provinsi.

“Ironisnya, perhatian serius terhadap irigasi ini hanya pernah dilakukan pada masa kepemimpinan Bupati Aceh Selatan Husen melalui program normalisasi. Setelah itu penanganannya terkesan tidak maksimal,” ujarnya.

Kondisi itu kini berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian masyarakat. Sejumlah petani disebut sudah melakukan pembajakan sawah dan menyiapkan benih, namun terancam gagal tanam akibat kekeringan.

“Petani sudah mengeluarkan biaya untuk pengolahan lahan dan penyediaan benih. Namun karena air tidak mengalir, sawah menjadi kering kerontang dan penanaman terancam gagal dilakukan,” ujar Arjuna.

Arjuna menambahkan, normalisasi kecil yang pernah dilakukan sebelumnya belum mampu mengatasi akar persoalan sedimentasi di intake Gunung Pudung.

Begitupun,Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Kepala UPTD Pengelolaan Irigasi Wilayah V di bawah Dinas Pengairan Provinsi Aceh, Bambang Yusri, terkait kondisi tersebut.

Tidak hanya itu , usulan penanganan irigasi Gunung Pudung juga disebut telah diajukan melalui APBA Murni 2026, namun hingga kini belum direalisasikan.

“Saya berharap normalisasi irigasi Gunung Pudung dapat segera diakomodir pada APBA Perubahan sehingga persoalan ini tidak terus berlarut dan petani tidak kembali mengalami kerugian akibat gagal tanam,” imbuhnya.

Arjuna juga mengingatkan kondisi kekeringan di kawasan Kluet Raya berpotensi mengganggu realisasi program BASAGA yang dicanangkan Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan.

Program tersebut dinilai membutuhkan dukungan infrastruktur irigasi yang memadai agar target produksi pertanian dan ketahanan pangan daerah berjalan optimal.

Menurutnya, jika sedimentasi dan kerusakan fungsi irigasi tidak segera ditangani serius oleh Pemerintah Aceh melalui dinas terkait, maka target peningkatan produksi pertanian di kawasan Kluet Raya berpotensi tidak tercapai.

“Jangan sampai program pertanian yang sudah dicanangkan pemerintah daerah justru terkendala karena lemahnya perhatian terhadap infrastruktur dasar pertanian seperti irigasi,” tutupnya.[HeKa]

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *