Foto : IlustrasiPagi itu, udara Makkah terasa begitu sunyi. Di depan rumah sederhana mereka, Abdullah bersiap mengikuti kafilah dagang menuju Syam.
Aminah berdiri di ambang pintu. Tangannya menggenggam ujung kain, matanya mengikuti setiap gerakan suaminya. Entah mengapa, pagi itu hatinya terasa berat.
Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, sesuatu yang membuatnya ingin meminta Abdullah tinggal. Namun, mereka sedang menanti seorang anak. Dan kehidupan mereka tidaklah berlebihan.
Mereka hanya memiliki sedikit harta dan beberapa ekor kambing. Abdullah merasa ia harus pergi berdagang.

Bukan sekadar untuk dirinya. Tetapi untuk istri yang dicintainya dan untuk bayi yang masih berada di dalam kandungan Aminah.
“Aku akan kembali,” seakan itulah yang ingin diyakinkan Abdullah melalui kepergiannya.
Aminah pun akhirnya merelakan. Meski matanya terus mengikuti langkah Abdullah yang semakin jauh.
Hari itu, ia belum tahu bahwa perpisahan itu adalah perpisahan terakhir. Kafilah itu sampai di Gaza. Namun dalam perjalanan pulang menuju Makkah, Abdullah singgah di Yatsrib.
Di sanalah tubuhnya jatuh sakit. Kawan-kawannya hendak kembali ke Makkah.
Tetapi Abdullah berkata bahwa ia belum sanggup melanjutkan perjalanan. “Berangkatlah kalian. Sampaikan kepada ayahku bahwa aku sedang sakit.”
Kafilah itu pun meninggalkannya. Mereka pulang membawa kabar tentang sakitnya Abdullah. Bukan kabar tentang kematiannya.
Abdul Muthalib yang mendengar berita itu segera mengutus Harits untuk menjemput putranya.
Harits berangkat menuju Yatsrib dengan satu harapan: semoga ia masih bisa membawa Abdullah pulang. Namun ketika sampai, yang menyambutnya bukan senyum. Bukan pula suara Abdullah.
Melainkan wajah-wajah penuh duka. “Abdullah telah meninggal…”
Kalimat itu mungkin hanya beberapa kata. Tetapi bagi seorang ayah… rasanya seperti dunia yang runtuh seketika.
Harits kemudian kembali ke Makkah. Dan berita itu akhirnya sampai kepada Aminah. Bayangkan, seorang perempuan yang beberapa waktu lalu masih menunggu suaminya pulang.
Kini ia harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang ia cintai, tidak akan pernah mengetuk pintu rumah itu lagi. Tidak akan ada langkah kaki yang ia tunggu.
Tidak akan ada suara yang menyapanya. Tidak akan ada suami yang kelak menggendong anak yang sedang ia kandung.
Abdullah pergi sebelum sempat melihat wajah anaknya. Sementara Aminah harus menjalani hari-hari berikutnya dengan sebuah kehilangan yang tidak pernah ia bayangkan.
Di dalam rahimnya, ada seorang bayi yang kelak menjadi manusia paling mulia. Namun saat itu, Aminah hanya seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya. Ia menangis. Bukan hanya karena Abdullah telah pergi.
Tetapi karena ada begitu banyak kebahagiaan yang tiba-tiba harus ia relakan. Ada seorang anak yang akan lahir, tetapi ayahnya tidak akan pernah melihat kelahirannya.
Ada tangan kecil yang kelak mencari tangan seorang ayah, tetapi tangan itu telah lebih dahulu berada di dalam tanah Yatsrib.
Dan mungkin, di antara air matanya, Aminah hanya mampu berkata dalam hati: “Mengapa engkau pergi sebelum sempat melihat anak kita?”
Namun Allah telah menuliskan takdir yang jauh lebih besar. Abdullah memang tidak sempat melihat putranya.
Tetapi putra itu kelak akan menjadi manusia yang namanya disebut di seluruh penjuru bumi.
Ia akan menjadi rahmat bagi alam semesta. Ia adalah Muhammad ﷺ. Dan sejak sebelum lahir pun, ia telah mengenal satu hal yang begitu dalam, kehilangan.
Rasul lahir tanpa pernah mengenal pelukan seorang ayah. Namun Allah tidak pernah meninggalkannya.
Karena terkadang Allah mengambil seseorang dari hidup kita, bukan karena Dia ingin menyakiti kita.
Tetapi karena Dia sedang menyiapkan jalan yang belum mampu kita pahami.
Sumber: Hikayat Cinta Baginda Nabi

Tidak ada komentar