Cinta Abu Bakar Kepada Rasulullah yang Lebih Kuat dari Luka

Redaksi
16 Jan 2026 11:05
News Tarikh 0 130
3 menit membaca

MAKKAH siang itu tidak sedang ramai oleh perdagangan.Ia ramai oleh kebencian. Di pelataran Ka’bah, Rasullullah berdiri sendirian. Tidak ada pasukan, tidak ada pelindung. Hanya keyakinan yang tegak di dada, dan wahyu yang mengalir dari lisan.

Ayat-ayat Allah turun seperti hujan yang lembut, namun bagi para pembesar Quraisy, suara itu terasa seperti api. Mereka mengepung, cercaan berubah menjadi dorongan.

Dorongan menjadi pukulan, dan dalam sekejap, tubuh Rasulullah tersungkur di tanah suci yang tak lagi mereka sucikan.

banner 350x350

Di saat itulah, seorang lelaki yang imannya jauh lebih besar dari pada tubuhnya menerobos kerumunan. Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiallahu.

Ia tidak berteriak dengan kebencian. Ia berteriak dengan iman yang meledak dari dada : ” Apakah kalian akan membunuh seorang lelaki hanya karena ia berkata: Rabb-ku adalah Allah?”

Kalimat itu seharusnya mengguncang hati. Namun, hati -hati itu telah membatu. Mereka berbalik,bukan lagi kepada Nabi, tapi kepada Abu Bakar.

Pukulan pertama menjatuhkannya, pukulan kedua mematahkan pertahanan tubuhnya. Lalu datang ‘Utbah bin Rabi’ah, menginjak wajah Abu Bakar dengan sandal kerasnya. Berulang-ulang, hingga hidung Abu Bakar tak lagi dikenali. Hingga darah menutupi wajah yang selama ini paling lembut di sisi Rasulullah.

Ia terkapar,tak bergerak,tak bersuara. Orang-orang menyangka semuanya telah selesai. Bani Taim datang membawa tubuh Abu Bakar pulang. Dingin,lemah, nyaris tanpa napas.

Di rumah, ibunya menangis.Orang -orang berkata lirih: “Ia telah wafat.”Namun Allah belum mengambilnya.

Menjelang senja, Abu Bakar membuka mata, tubuhnya remuk. Wajahnya bengkak, darah masih mengering di pelipisnya.

Dan dari lisan yang nyaris tak mampu bergerak itu, bukan keluhan yang keluar. Bukan jeritan sakit.Kalimat pertama yang ia ucapkan adalah: “Bagaimana keadaan Rasulullah?”

Orang -orang terdiam. Mereka berkata,”Tenanglah, engkau hampir wafat.” Namun Abu Bakar mengulang. Lebih pelan,tapi lebih dalam : ” Bagiamana keadaan Rasulullah?”

Ibunya mencoba menenangkan. Kaumnya mencoba mengalihkan. Tapi Abu Bakar bersumpah,ia tidak akan makan, tidak akan minum, hingga ia tahu kabar Nabi Shalallahu alaihi wasallam.

Akhirnya kabar itu datang : Rasulullah selamat.Berada di rumah al-Arqam. Mata Abu Bakar basah. Wajahnya yang lebam seakan kembali bernyawa. Dengan tubuh yang belum layak berdiri,ia meminta ditopang.

Langkahnya tertatih di malam Makkah. Setiap langkah adalah rasa sakit,namun setiap langkah juga adalah rindu. Ketika pintu rumah al-Arqam terbuka,dan Rasulullah tampak di hadapannya, Abu Bakar jatuh menangis.

Rasulullah memeluknya, mendoakannya, menenangkan sahabat yang nyaris wafat demi dirinya. Abu Bakar tidak bercerita tentang luka, tidak mengadukan rasa sakit.

Ia hanya berkata lirih, dengan suara yang hampir habis: ” Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, tidak yang menyakitiku selama engkau selamat.”

Begitulah Abu Bakar. Ketika tubuhnya hancur,yang ia cari adalah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Ketika nyawanya nyaris lepas,nama yang pertama keluar dari lisannya bukan dirinya, tetapi Nabi Shalallahu alaihi wasallam.

Dan dunia pun tahu, orang yang menjadikan keselamatan Nabi lebih penting dari pada hidupnya sendiri,pantas menjadi sahabat paling setia dan menjadi khalifah pertama umat ini.[Red]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x