Cerita Sufi Tentang Tawakal

Redaksi
25 Des 2025 06:56
News Tarikh 0 203
3 menit membaca

Ada seorang Sufi bernama Ibrahim bin Adham. Dulunya dia raja Balkh,istana megah,tentara ramai,khadam beratus,emas bertimbun.

Satu malam dia terjaga dari tidur di atas katil emas bertahta permata,tiba-tiba dia mendengar ada orang berjalan di atas bumbung istana.

“Siapa diatas?”teriak pengawal.

Suara menjawab:”Saya cari unta saya yang hilang,”.

Pengawal marah : “Gila kah engkau? Cari unta di atas bumbung istana raja?”

Orang itu ketawa kecil:” Lebih gila lagi kalian, cari ketenangan hati diatas katil emas dan di bawah mahkota besi.”

Suara itu menghilang,tapi kalimat itu terus bergema di dada ibrahim bin Adham sampai subuh.

Pagi itu dia tinggalkan segala-galanya.Mahkota dia letak di atas tahta,jubah diraja dia lepas,dia keluar istana tanpa alas kaki,hanya pakai kain buruk.

Dia berjalan bertahun-tahun,hidup seperti pengemis, makan nasi sisa pasar,tidur di bawah pohon.

Bertahun-tahun kemudian,seorang sahabat lamanya(berpangkat menteri) berjumpa Ibrahim sedang duduk di tepi jalan Mekkah,badan kurus,rambut kusut,tapi wajahnya bercahaya bak bulan purnama.

Menteri itu menangis.

“Tuanku,mengapa tuanku buat diri seperti ini? Kalau Tuanku mau kembali, tahta masih menanti.Tentara masih setia,emas masih bertimbun.

Ibrahim bin Adham senyum, kemudian dia angkat kepala ke langit, berkata perlahan:

“Dulu aku tawakal kepada tentara,kepada benteng dan kepada khazanah.

Setiap malam aku tidur pun risau,takut musuh menyerang, takut menteri khianat,takut uang habis.

Hatiku seperti burung dalam sangkar emas, nampak kaya, tapi tak pernah merdeka.Sekarang aku hanya tawakal kepada Allah.

Aku tak punya apa-apa, tapi aku tak takut kehilangan apa yang ada.

Aku lapar,tapi aku tahu Allah Maha Kaya tak pernah lupa. Aku letih,tapi aku tahu Yang Maha Kuat tak pernah lupa menjaga aku. Dulu aku raja,tapi aku hamba dunia.

Sekarang aku pengemis,tapi aku raja di hatiku sendiri.Sebab tak ada lagi yang boleh mengamcam aku,kecuali Dia yang aku cinta lebih dari segala-galanya.”

Menteri itu terdiam.Dia lihat Ibrahim bin Adham berdiri,angkat tangan kosong ke langit,dan berkata dengan suara penuh keyakinan;

“Ya Allah, Engkau tahu aku tak punya apa-apa hari ini. Tapi aku juga tahu Engkau Maha Punya segala-galanya.

Jadi aku serahkan urusan aku,urusan perut aku,urusan nyawa aku,sepenuhnya kepada-Mu.

Kalau Engkau mahu aku hidup seribu tahun lagi,aku terima. Kalau Engkau mahu aku mati sekarang,aku pun terima.

Aku hanya minta satu, biar aku mari dalam keadaab aku sedang tawakal kepada-Mu.

Angin sepoi-sepoi bertiup.Tiba-tiba datang seorang badwi bawa sekantung roti dan kurma,letak di depan Ibrahim,kemudian pergi tanpa kata.

Ibrahim ketawa kecil,memandang menteri lama.

“Tengok, dulu aku selalu diantar utusan ke gudang diraja baru dapat roti. Sekarang aku hanya angkat tangan ke langot.Dia hantar roti terus ke pangkuan aku.

Inilah tawakal.Bukan kita tak berusaha,tapi kita usaha kemudian kita lepaskan hasilnya sepenuhnya kepada Allh,seperti burung yang terbang mencari rezeki pagi-pagi,tapi balik ke sarang petang tanpa bawa satu biji pun,sebab dia tahu Yang punya langit tak lupa isi sarangnya.”

Menteri itu akhirnya letak mahkota kecilnya di tanah, duduk di sebelah Ibrahim,dan belajar cara anglat tangan kosong ke langit.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x