
Sudah dua pekan bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor melanda wilayah Sumatera termasuk Aceh. Namun, pemerintah pusat belum juga menetapkan status bencana menjadi bencana Nasional.
Padahal,sudah 15 hari berlalu, penanganan bencana masih belum maksimal. Akses di beberapa daerah masih terisolir, bantuan logistik belum memadai, fasilitas umum masih lumpuh.
Akibatnya, Mualem merperpanjang status tanggap darurat bencana di Aceh hingga 25 Desember mendatang.
Tengok saja, saat jurnalis senior Najwa Shihab melakukan wawancara dengan Mualem beberapa waktu lalu. Mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu menangis tersedu.
Tangis Mualem itu bukan dibuat-buat,tapi tangisan pilu seorang pemimpin Aceh yang meratapi nasib rakyatnya yang saat ini di landa bencana.
Pak Presiden, 2 kali sudah Bapak berkunjung ke Aceh. Apakah tidak terbesik di hati bapak agar segera menetapkan Aceh,Sumatera Utara dan Sumatera Barat menjadi bencana Nasional.
Tidakkah Bapak belajar dari presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudoyono dan Yusuf Kalla saat menangani bencana Tsunami Aceh 21 tahun lalu.
Bahkan saat ini, Bapak melakukan lawatan ke luar Negeri, disisi lain anak buah Bapak setingkat Menteri terlihat masih “cuek bebek” dengan kondisi Aceh saat ini.
Pak Presiden, sepekan terakhir, publik di Aceh bahkan Indonesia memang sibuk dengan pemberitaan seorang Bupati di Aceh yang sedang melakukan ibadah umrah di saat bencana sedang melanda.
Hampir semua media nasional dan media sosial menayangkan beritanya. Di sosmed, Bupati Aceh Selatan yang bernama Mirwan itu babak belur di buat netizen hingga lupa bahwa ada hal penting yang harus kita lakukan bersama, yaitu mendesak Presiden Republil Indonesia agar segera menetapkan Aceh dengan status bencana Nasional.[Red]
Tidak ada komentar