
Oleh: Tgk. Zoel Syahman Amin. SH
(Pimpinan Dayah Nurul Huda Kluet Tengah).
Muharram telah tiba. Detik-detik awal Tahun Baru Hijriyah kembali mengetuk hati kita untuk melakukan evaluasi bukan hanya sebagai individu yang beriman, tapi juga sebagai umat yang hidup bersama dalam satu daerah, satu tanah kelahiran, satu kebersamaan.
Hijrah bukan sekadar kisah perpindahan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah transformasi peradaban, dari keterpurukan menuju kemajuan, dari konflik menuju persatuan, dari kelemahan menuju kekuatan. Dan ini bukan hanya tugas personal, tapi juga kolektif.
Perpecahan Menghambat Kemajuan
Hari ini, kita menyaksikan masih banyak perpecahan di tengah umat. Kadang karena beda pendapat, kadang karena beda ormas, kadang karena beda kepentingan. Bahkan tak jarang, perbedaan itu ditarik hingga ke tingkat lokal, memecah belah tokoh dan masyarakat dalam sekat kelompok yang tidak sehat.
Padahal, sejarah Hijriyah mengajarkan bahwa ketika umat bersatu, maka kemenangan akan datang. Di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Di situlah lahir kekuatan Islam yang menyinari dunia. Tanpa persatuan, hijrah tidak akan pernah membuahkan peradaban.
Begitu pula di daerah kita. Perbedaan itu adalah rahmat jika dikelola dengan akhlak dan ilmu. Tetapi jika terus dibiarkan menjadi bara perselisihan, maka akan merusak tatanan sosial, merusak kepercayaan, dan akhirnya menghambat kemajuan daerah yang kita cintai.
Ulama Sebagai Pemersatu Umat
Dalam sejarah Aceh, dan khususnya di tanah Selatan, para ulama selalu tampil sebagai penyejuk dan pemersatu. Mereka tak pernah berdiri di satu sisi kepentingan duniawi, tetapi di atas semua golongan demi kemaslahatan umat.
Tokoh-tokoh seperti Abuya Darussalam Syaikh Muda Wali Al Khalidi, Abu Teupin Gajah Tgk HM. Daud Al Yusufy, hingga para tuan guru kita hari ini telah mewariskan peran mulia: menyatukan umat di atas ilmu, hikmah, dan kasih sayang.
Kini, kita butuh kembali menjadikan ulama sebagai titik temu. Ulama tidak boleh dikerangkeng dalam kubu politik, tetapi harus tetap menjadi suluh bagi umat yang mencari jalan terang.
Mari Hijrah: Dari Saling Curiga ke Saling Rangkul.
Tahun baru ini adalah momentum untuk hijrah sosial:
Dari prasangka ke saling percaya,
Dari ego kelompok ke kerja sama daerah,
Dari debat tak berujung ke dialog yang membangun.
Mari kita letakkan kepentingan daerah di atas kepentingan pribadi. Mari kita bangun kembali nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah dalam kehidupan kita.
Penutup
Hijrah adalah panggilan untuk berubah. Bukan hanya berubah dalam ibadah pribadi, tapi juga dalam perilaku sosial dan kontribusi kita terhadap kemajuan bersama. Jangan jadikan Muharram sekadar momen seremonial. Jadikan ia titik balik bagi persatuan dan pembangunan.
Sebagaimana Madinah dibangun di atas dasar persaudaraan, mari kita bangun daerah kita—Aceh Selatan—di atas fondasi yang sama: persatuan umat dan kepemimpinan moral ulama.
Semoga tahun baru ini benar-benar menjadi awal kebaikan yang berlimpah. Aamiin.
Penulis Merupakan Pimpinan Dayah Nurul Huda Gampong Malaka, Menggamat, Kluet Tengah, Aceh Selatan dan Penyuluh di KUA Kluet Tengah
Tidak ada komentar