Foto : Pelabuhan Sawang Bau Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh SelatanASPIRATIF|ACEH SELATAN – Nelayan di Pelabuhan Sawang Bau, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, mendesak Pemerintah Aceh segera merealisasikan pembangunan dan pengembangan pelabuhan yang selama lebih dari satu dekade dinilai belum mendapat perhatian serius.
Pasalnya, pelabuhan Sawang Bau merupakan salah satu pusat aktivitas perikanan penting di Aceh Selatan. Selain menjadi tempat sandar kapal dan perahu nelayan, pelabuhan ini juga menjadi jalur utama distribusi hasil tangkapan ikan yang menopang perekonomian masyarakat pesisir.
Namun, kondisi pelabuhan saat ini dinilai semakin memprihatinkan. Tengoklah, tambak labuh atau muara yang menjadi akses keluar-masuk kapal dan lokasi sandar armada nelayan kian sempit akibat meningkatnya jumlah boat dan perahu yang beroperasi.Sebab,penambahan armada tidak diimbangi dengan pengembangan fasilitas pelabuhan yang memadai.
Akibatnya, nelayan kerap mengalami kesulitan saat berlayar maupun ketika melakukan aktivitas bongkar muat hasil tangkapan, terutama pada musim puncak penangkapan ikan.

”Tambak labuh saat ini sudah sangat padat. Banyak boat dan perahu harus berbagi ruang yang terbatas untuk bersandar. Saat musim tangkap, aktivitas menjadi semakin sulit karena kapasitas pelabuhan tidak lagi memadai,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjend) Panglima Laot Kabupaten Aceh Selatan sekaligus tokoh masyarakat setempat, M. Nazir, Senin 1 Juni 2026.
Selain keterbatasan ruang sandar, nelayan juga mengeluhkan pendangkalan muara akibat sedimentasi yang terus terjadi. Kondisi tersebut menghambat mobilitas kapal, terutama saat air laut surut, serta berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran.
Menurut para tokoh nelayan, meski memiliki peran strategis dalam mendukung sektor perikanan dan aktivitas ekonomi masyarakat, pembangunan infrastruktur Pelabuhan Sawang Bau belum menunjukkan perkembangan berarti dalam sepuluh tahun terakhir.
Untuk diketahui, pelabuhan Sawang Bau dikenal sebagai salah satu sentra perikanan produktif di Aceh. Bahkan, kawasan ini disebut sebagai penghasil ikan terbesar di wilayah Barat Selatan Aceh dan menjadi salah satu penyumbang pendapatan bagi daerah maupun Pemerintah Aceh melalui aktivitas sektor perikanan.
Itu sebab, nelayan meminta Pemerintah Aceh segera melakukan normalisasi tambak labuh atau muara, memperluas area sandar kapal, serta meningkatkan berbagai sarana dan prasarana pendukung guna menunjang keselamatan, kenyamanan, dan produktivitas nelayan.
”Kami berharap Pemerintah Aceh tidak menutup mata terhadap kondisi yang kami hadapi. Pelabuhan ini merupakan urat nadi ekonomi masyarakat pesisir. Jika dikembangkan dengan baik, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh nelayan dan masyarakat luas,” ujar sejumlah nelayan saat ditemui di lokasi pelabuhan.
Selain kepada Pemerintah Aceh, para nelayan juga berharap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Daerah Pemilihan (Dapil) 9 yang meliputi Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam dapat memperjuangkan aspirasi masyarakat terkait pembangunan Pelabuhan Sawang Bau.
Mereka meminta para wakil rakyat mendorong alokasi anggaran untuk normalisasi muara, penataan kawasan pelabuhan, pembangunan fasilitas sandar, serta penyediaan sarana pendukung lainnya yang dibutuhkan nelayan.
”Sudah saatnya aspirasi nelayan Sawang mendapat perhatian yang lebih serius. Kami berharap anggota DPRA Dapil 9 dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan Pemerintah Aceh agar pembangunan Pelabuhan Sawang Bau segera direalisasikan,” harap perwakilan nelayan.
Para nelayan meyakini pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Sawang Bau akan berdampak besar terhadap peningkatan produksi perikanan, membuka lapangan kerja baru, memperkuat perekonomian masyarakat pesisir, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh Selatan secara berkelanjutan.[Red]

Tidak ada komentar