Belajar Ikhlas dari Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihis salam

3 menit membaca View : 89
Redaksi
Coretan Redaksi, News - 27 Mei 2026

LANGIT mina pagi itu dipenuhi gema takbir.Ribuan manusia bergerak membawa hewan qurban. Suara tangis doa bercampur dengan debu yang beterbangan di antara langkah-langkah hamba yang datang memenuhi panggilan Allah.

Namun jauh sebelum Idul Adha dikenal sebagai hari kebahagiaan. Ada seorang ayah yang berjalan dengan dada paling hancur di muka bumi.Namanya Ibrahim ‘alaihis salam.

Malam itu, beliau melihat mimpi yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.Bukan sekali, tapi berulang kali.Sebuah perintah dari langit, untuk menyembelih anak yang paling ia cintai.

Bukan anak biasa.Ismail, anak yang hadir setelah penantian panjang bertahun-tahun.Anak yang dulu diminta dalam setiap sujud dan air mata.Anak yang lahir ketika usia telah menua dan harapan hampir padam.

Dan kini, Allah meminta apa yang paling ia cintai.Bayangkan, betapa berat langkah seorang ayah yang harus menyampaikan perintah tersebut kepada anaknya sendiri.

Berhari-hari Ibrahim memendam sesak itu sendirian.Menatap wajah Ismail kecil yang polos, membantu pekerjaannya, tersenyum kepadanya tanpa tahu bahwa ayahnya sedang berperang melawan kehancuran di dalam dada.

Hingga akhirnya, Ibrahim tak mampu lagi menahan tangis yang terus menghantam hatinya.Dengan suara yang nyaring pecah ia berkata,

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.Maka, pikirkanlah bagaimana pendapatmu,”

Langit seakan ikut diam.Tak ada ayah yang ingin mengucapkan kalimat itu.Dan tak ada anak yang siap mendengarkannya.

Namun yang terjadi setelah itu, membuat dunia menangis hingga hari ini.Ismail tidak marah, tidak lari, tidak menangis ketakutan.

Ia justru menatap ayahnya dengan mata yang tenang.Mata seorang anak yang begitu mengenal Tuhannya

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,”

Kalimat itu mungkin terdengar singkat.Tapi hanya Allah yang tahu, betapa hancurnya hati Ibrahim mendengar ketabahan anaknya sendiri.

Hari penyembelihan itu akhirnya tiba.Langkah mereka menuju Mina terasa begitu panjang.Tidak ada suara selain desir angin gurun dan sesekali napas berat yang ditahan agar tangis tidak pecah di jalan.

Ibrahim berjalan di depan, Ismail berjalan di belakang. Dan setiap langkah terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati seorang ayah.

Sesampainya di tempat penyembelihan, Ismail berkata lirih,

“Wahai ayahku,ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak.Tajamkan pisaumu agar aku tidak terlalu sakit.Dan jangan tatap wajahku ketika menyembelihku, aku takut engkau tak sanggup melakukannya,”

Dunia mana yang sanggup mendengar kalimat itu tanpa air mata?, seorang anak, menenangkan ayahnya sendiri sebelum dirinya disembelih.

Lalu Ibrahim merebahkan putranya.Tangannya gemetar, matanya basah. Langit dan bumi seolah menunggu apa yang akan terjadi.

Pisau itu diletakkan di leher Ismail.Namun, saat cinta Allah telah mengalahkan cinta kepada dunia.Allah tidak mengambil Ismail.Allah menggantinya dengan sembelihan agung dari surga.

Dan di saat itulah tangis Ibrahim pecah.Bukan karena kehilangan, tetapi karena Allah ternyata tidak pernah menyia-nyiakan hati yang rela menyerahkan segalanya demi-Nya.

Hari itu bukan tentang darah kurban.Bukan tentang hewan sembelihan.Tapi tentang satu pelajaran yang seiring terlupakan,bahwa cinta sejati kepada Allah kadang diuji lewat sesuatu yang paling kita sayangi.

Idul Adha mengajarkan kita, bahwa ada hal-hal yang harus dikalahkan demi ketaatan. Ego, kesombongan, dunia, bahkan rasa memiliki.

Karena tidak semua yang kita cintai benar-benar milik kita.Semua hanyalah titipan,dan suatu hari,bisa diminta kembali oleh Allah kapan saja.[]

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *