Foto : Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia
ASPIRATIF|JAKARTA – Meme “Mas Bahlil Ganteng” viral mengepung warganet di pelbagai platform media sosial. Apakah menguntungkan Golkar dan Bahlil?

Netizen mengenal meme berupa jinggle itu dengan judul “My Little Bolu Ketan”, lagunya bisa disematkan oleh akun-akun yang membuat video di akun masing-masing.
Begini penggalan liriknya:
MBG, Mas Bahlil ganteng.

Buah apa yang paling manis?
Buahlil. Tambah ganteng aja
My little bolu ketan.
Akun tersebut rajin mengunggah lagu-lagu olahan artificial intelligence (AI) dengan jenaka.
Di TikTok, akun Sania Leonardo (@panggilakubambang) dengan 3,1 juta followers membuat reaksi mengomentari lagu itu tiga hari lalu dan hingga kini sudah disukai 3,8 juta akun.
Di Instagram, lagu itu juga bertebaran, belum lagi konten di YouTube, jingle itu menjadi viral.
Lalu, bagaimana sejatinya Partai Golkar membaca fenomena lagu viral tersebut?
Golkar merasa diapresiasi
Sekjen DPP Partai Golkar yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, M.Sarmuji menilai, viralnya lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” merupakan bagian dari kreativitas warganet di media sosial.
Menurut dia, lagu tersebut dapat dibaca sebagai bentuk apresiasi publik terhadap kerja keras Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
Oleh karenanya, partai tak mempersoalkan apabila sejumlah akun yang berafiliasi dengan Golkar ikut menggunakan lagu tersebut dalam unggahan media sosial mereka.
Dia bilang, hal itu merupakan sesuatu yang wajar karena para pengelola akun juga merupakan bagian dari pengguna media sosial atau netizen.
“Itu, kan, justru berasal dari kreativitas netizen sebagai salah satu bentuk penghargaan netizen atas kerja keras Pak Bahlil. Kalau ada akun Golkar yang ikut meramaikan, ya wajar saja, mereka bagian dari netizen juga,” kata Sarmuji kepada Kompas.com, Senin (25/5/2026).
Sarmuji juga menegaskan, Partai Golkar tidak ambil pusing terhadap viralnya lagu tersebut.
Ia berpandangan, lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” justru terkesan menghibur dan tidak perlu dipandang secara berlebihan. “Ya nggak masalah. Silakan saja. Lagunya terkesan menghibur juga,” ujar Sarmuji.
Golkar bisa untung lewat riding the wave
Sementara itu, Pengamat Komunikasi Politik, Kunto Adi Wibowo, menilai Golkar bisa untung lewat strategi riding the wave atau menunggangi gelombang viralitas di jagad sosial.
Ia beranggapan, langkah itu justru menjadi pilihan paling aman dibanding bersikap defensif terhadap konten yang sudah telanjur ramai dibicarakan publik.
Kunto menilai, apabila lagu tersebut direspons secara keras, lewat pelarangan atau langkah hukum, misalnya, citra partai justru berpotensi memburuk di mata publik, khususnya anak muda.
Sebaliknya, dengan membiarkan bahkan ikut menikmati tren tersebut, Golkar dapat tampil lebih santai, dekat dengan kultur digital, dan tidak terkesan kaku menghadapi candaan publik.
“Yang bisa dilakukan Golkar, mumpung ada lagu itu sekalian riding the wave aja. Kalau dengan riding the wave kan kelihatan bahwa Golkar partainya asyik, bagian anak muda, bisa diajak santai. Dan ini juga memperbaiki citra Golkar di anak muda,” ujar Kunto, Senin.
Ia juga menilai viralitas lagu tersebut secara tidak langsung menjadi sarana pengenalan figur Bahlil Lahadalia kepada publik yang lebih luas.
Dana kampanye untuk mempromosikan sosok Bahlil pun bisa ditekan.
“Jadi justru Golkar enggak harus mengeluarkan apa pun untuk kemudian menggarap kampanye untuk Ketumnya,” ucap Kunto.
Kunto berasumsi, meski efek lagu itu tidak bekerja secara keras atau frontal, pengulangan yang terus-menerus di media sosial membuat nama Bahlil semakin mudah diingat publik.
Ia tidak memungkiri, lagu dengan lirik jenaka dan mudah dihafal memiliki daya sebar yang kuat, terutama di kalangan anak muda hingga anak-anak.
Ketika lagu terus diperdengarkan di berbagai platform media sosial, publik secara perlahan akan semakin akrab dengan sosok yang disebut dalam lagu tersebut.
“Dia (lagu itu -red) diingat oleh orang banyak, anak kecil banyak yang menyanyikannya, maka itu akan jadi efek yang sifatnya mengepung dan di mana-mana kita diperdengarkan itu, mau enggak mau ya kita pasti ingat,” ujarnya.
“Persuasi biasanya lebih masuk ketika kita menanggapinya dengan santai dan tidak defensif,” imbuh Kunto.
Lebih jauh, Kunto melihat fenomena ini memberi keuntungan tersendiri bagi Golkar.
Selama ini, basis pemilih partai tersebut dinilai cukup beragam dan tidak semata bertumpu pada figur ketua umum.
Namun, apabila ketua umum partai memiliki tingkat pengenalan publik yang semakin kuat, hal itu dinilai dapat menjadi modal tambahan untuk mendongkrak elektabilitas partai.
“Kalau Ketumnya kemudian punya modal kuat untuk elektoral, untuk meningkatkan elektabilitas Golkar, lebih mantap lagi menurut saya. Dan lagu ini gampang diingat oleh anak muda, anak-anak, bahkan dan banyak yang orang tuanya juga ikut nyanyi gara-gara liriknya jenaka,” jelas Kunto.
Pada akhirnya, konten bernuansa humor, meme, dan lagu jenaka dapat menjadi medium politik yang efektif karena lebih mudah diterima publik dibanding pendekatan yang terlalu formal atau defensif.[]
Sumber : Kompas.Com




Tidak ada komentar