
Perjalanan panjang pendidikan dayah di Aceh adalah wujud kontribusi besar lembaga ini dalam menjaga dan meneruskan peradaban Aceh, yang telah melewati jalan berliku hingga hari ini.
Dari balai-balai sederhana, dayah melahirkan ulama, hakim, dan pejuang. Dari sanalah nilai, adab, dan keilmuan Islam mengalir ke seluruh sendi kehidupan masyarakat.
Keberlangsungan pendidikan dayah bertumpu pada dua pilar: santri dan khazanah keilmuan dayah. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Santri yang tidak terikat dengan tradisi keilmuan dayah akan kehilangan jati diri, dan pada akhirnya dayah itu sendiri akan kehilangan ruhnya.

Sebaliknya, betapapun kita membanggakan luasnya khazanah kitab kuning dengan beragam tema besarnya, warisan itu akan memudar bila tidak ada santri yang terus menekuni, mengkaji, dan menghidupkannya.
Kitab tanpa pembaca hanyalah lembaran, dan santri tanpa kitab hanyalah semangat tanpa arah.
Karena itu, Hari Santri semestinya menjadi lebih dari seremoni. Ia adalah momentum muhasabah: sejauh mana kita telah menjaga amanah ilmu yang diwariskan para ulama terdahulu?
Sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ tidak boleh terputus di tangan generasi kita.
Atas nama Himpunan Ulama Dayah (HUDA) Aceh Selatan, saya mengucapkan selamat Hari Santri, 22 Oktober 2026.
Mari kita teguhkan diri sebagai santri sejati: mendalami dan mengkaji ilmu agama dengan sungguh-sungguh, mengamalkannya dengan adab, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.[]
Penulis : Abati. Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufy, Lc (Ketua HUDA Aceh Selatan)

Tidak ada komentar