Rektor UNHAN RI dengan Ketua Badan Reintegrasi Aceh Bahas Ruang Kolaborasi Penguatan Perdamaian bagi Aceh

4 menit membaca View : 3
Redaksi
Daerah, News - 27 Agu 2026

ASPIRATIF – Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) menegaskan dukungannya terhadap upaya Badan Reintegrasi Aceh (BRA) dalam menjaga, memperkuat, dan merawat perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade, tepatnya 21 Tahun Damai pada 15 Agustus 2026 lalu.

Dukungan tersebut dipandang penting mengingat perdamaian Aceh bukan sekadar berakhirnya konflik bersenjata, tetapi merupakan proses panjang membangun kepercayaan, memperkuat reintegrasi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memastikan keberlanjutan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.

Unhan menilai BRA memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan proses reintegrasi, khususnya melalui penguatan kapasitas mantan kombatan, korban konflik, masyarakat terdampak konflik, serta kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi bagian penting dari proses perdamaian Aceh.

“Perdamaian Aceh merupakan aset bangsa yang harus dijaga bersama. Karena itu, proses reintegrasi dan penguatan perdamaian harus terus dikembangkan melalui pendekatan yang kolaboratif, berbasis masyarakat, dan berorientasi pada keberlanjutan,” ujar Rektor Unhan RI, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., yang menyambut baik penjajakan tersebut serta membuka ruang kolaborasi melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mendukung penguatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan keilmuan yang konstruktif serta berorientasi pada kemanfaatan bersama.

Audiensi tersebut menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara Unhan RI dan BRA. Penjajakan kolaborasi selanjutnya akan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan kedua pihak, melalui berbagai bentuk kerja sama yang mendukung pengembangan pendidikan, perdamaian, reintegrasi sosial, serta penguatan ketahanan nasional.

Dalam konteks tersebut, Unhan membuka ruang kolaborasi dengan BRA melalui pendidikan, penelitian, pengembangan kapasitas, kajian strategis, serta penguatan model reintegrasi dan resolusi konflik yang sesuai dengan karakteristik Aceh.

Kerja sama antara perguruan tinggi dan lembaga yang memiliki mandat dalam bidang reintegrasi dinilai dapat menghasilkan pendekatan berbasis pengetahuan untuk memperkuat kebijakan perdamaian.

Kajian akademik dapat menjadi instrumen penting untuk mengidentifikasi berbagai tantangan perdamaian sekaligus merumuskan strategi pencegahan konflik yang lebih efektif.

Unhan juga memandang penting keterlibatan masyarakat hukum adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, generasi muda, perempuan, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil dalam menjaga perdamaian.

Pendekatan peacebuilding yang melibatkan berbagai unsur masyarakat akan memperkuat rasa memiliki terhadap perdamaian.

Sementara itu, Ketua BRA, Dr (Cand) Jamaluddin, S.H., M.H, menerangkan bahwa di era kepemimpinannya Akan terus memperkuat perannya sebagai institusi yang menjembatani berbagai kepentingan dalam proses reintegrasi dan pembangunan perdamaian Aceh.

Reintegrasi yang berhasil katanya, tidak hanya diukur dari penyelesaian persoalan administratif, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk membangun kembali hubungan sosial, kepercayaan, dan kesempatan ekonomi secara berkelanjutan.

“Yang perlu kita bangun adalah perdamaian yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Perdamaian harus hadir dalam bentuk keamanan, keadilan, kesejahteraan, kesempatan bagi generasi muda, dan hubungan sosial yang semakin kuat,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Dekan Kemahasiswaan Alumni Dan Kemitraan (KAK) FISIP USK, Dr. Masrizal, M.A, yang juga Tim ahli Teknis BRA, menjelaskan bahwa Kolaborasi Unhan dan BRA diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat sustainable peacebuilding di Aceh, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan model perdamaian yang dapat menjadi pembelajaran nasional maupun internasional.

Dengan semangat kolaborasi, Unhan dan BRA berkomitmen mendorong agar perdamaian Aceh tidak hanya dipertahankan, tetapi terus dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai modal penting bagi pembangunan Aceh dan keutuhanNegara Kesatuan Republik Indonesia.

Turut hadir Pejabat pendamping dalam pertemuan Unhan RI Dan BRA antara lain, Warek III Unhan RI, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Mayor Jenderal TNI Dr. Totok Imam Santoso, S.I.P., S.Sos., M.Tr.(Han)
Warek IV Unhan RI, Bidang Kerja Sama, Kelembagaan, Inovasi, dan Teknologi: Laksda TNI Buddy Suseto, S.E., M.Si (Han)., Ph.D.

Hadir pula Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Keamanan Nasional (FKN) Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Brigjen TNI Dr. Harri Dolli Hutabarat, S.Sos., M.Si.

Selanjutnya,kepala Prodi Damai dan Resolusi Konflik (DRK): Dr. Arifuddin Ukhsan, S.Ag., M.Ag.Dan sejumlah nama pejabat pendamping dari Fakultas Dan sivitas akademika dalam lingkup UNHAN RI.
S

edangkan rombongan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Hadir dalam pertemuan, Masfirah, S.H., M.H, Kabag Hukum, Humas Dan Publikasi BRA
Ghazi Ahmad, S.H., M. Kn.

Kabid Politik, Hukum Dan Pendidikan Damai Dr. Masrizal, M.A. Wakil Dekan Kemahasiswaan Alumni Dan Kemitraan (KAK), Intan Munirah, SH., M.H. Akademisi Fakultas Hukum.[]

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *