
ASPIRATIF – Kabupaten Aceh Selatan memiliki kekayaan laut yang melimpah ruah. Salah satunya adalah di laut Trumon yang terkenal dengan hasil tangkapan ikan Tuna dan lainnya.
Menurut salah satu nelayan Trumon Jasmudin saat dikonfirmasi Aspiratif Id, Minggu (30/08/2026) mengatakan hasil tangkapan ikan di kecamatan Trumon mencapai 8 sampai 12 ton setiap bulan dan sebagian,khususbya jenis ikan terbaik,selain di pasarkan ke luar daerah juga di ekspor ke Malaysia.
“Jenis-jenis ikan tangkapan nelayan setempat yang diekspor ke Malaysia di antaranya tenggiri, udang kelam, bawal, kakap besar, kakap merah, kakap hitam, janang, sapan dan ikan jumbo,” kata Jasmudin.
“Ikan-ikan berkualitas bagus ini harganya berkisar antara Rp80.000 hibha Rp90.000 per kilogram, sedangkan udang kelam mencapai Rp100.000 per kilogram, dan khusus ikan janang mencapai Rp70.000 75.000 per kilogram,” sambungnya.

Lebih lanjut Jasmudin menjelaskan, selain ikan berkualitas bagus untuk eskpor tersebut, nelayan Trumon juga menghasilkan ikan jenis biasa, seperti ikan selar kuning, selar gelek, dancis, gembung, aso-aso, belata, tenggiri dan bawal.
Jenis ikan tersebut kata Jasmudin, selain untuk konsumsi masyarakat lokal juga diolah menjadi ikan asin.
Begitupun, jumlah nelayan yang berasal dari Keude Trumon, ujar Jasmudin, mencapai puluhan orang dengan jumlah boat ukuran 4 GT sebanyak 8 unit dan boat robin serta sampan mencapai 32 unit.
“Untuk jenis ikan berkualitas ekspor, biasanya dihasilkan oleh boat 4 GT ke atas, karena mereka mampu mencari ikan di lautan lepas di atas 10 mil laut atau sampai ke wilayah sekitar Pulau Banyak dan Sinabang (Simeulue), sedangkan boat robin dan sampan biasanya mampu mencari ikan di perairan laut dibawah 10 mil,” jelasnya.
Jasmudin menambahkan, di saat cuaca sedang bagus boat nelayan 4 GT yang mencari ikan di atas 10 mil laut, mampu menghasilkan ikan tangkapannya mencapai 2 sampai 3 ton dalam sekali berlabuh atau bongkar.
Namun, jika di saat cuaca sedang tidak mendukung, tak jarang pula para nelayan tersebut terpaksa harus menganggur di darat yakni selain untuk menghindari terjadi musibah juga menghindari rugi karena dalam kondisi angin kencang serta ombak besar, ikan susah dijumpai.
Namun,yang jadi persoalan selama ini, sambung Jasmudin, semangat para nelayan setempat mencari ikan di laut tidak didukung dengan ketersediaan fasilitas Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) dan Tempat Pendaratan Ikan (TPI).
Pasalnya, satu-satunya fasilitas dermaga tambat kapal yang ada di Keude Trumon yang telah disulap oleh nelayan setempat menjadi tempat sandar boat dan sampan, kolam pelabuhannya telah dangkal sehingga menghambat para nelayan setempat saat melabuhkan boatnya.
“Inilah persoalan yang sangat dikeluhkan nelayan di Keude Trumon ini, karena setelah kolam pelabuhan itu dangkal, para nelayan terpaksa menambatkan boatnya di bibir kuala dekat perairan laut yang berjarak sekitar 100 meter dari dermaga. Jika air laut pasang, boat-boat itu tidak aman dan rawan terseret arus laut,” kata dia.
Karena itu, pihaknya meminta kepada Pemkab Aceh Selatan melalui dinas terkait segera melakukan pengerukan kolam pelabuhan yang telah dangkal tersebut, sehingga nelayan bisa dengan mudah menambatkan boat-boatnya ke dermaga pelabuhan itu.
Sementara itu,kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Selatan Hadi Suhaima,S.Pi,M.Si saat dikonfirmasi Aspiratif Id mengatakan pihaknya saat sedang mengajukan usulan ke pemerintah Aceh terhadap perluasan dan rehabilatasi dermaga dan penggerukan pelabuhan yang dangkal.
“Kita sudah usulkan ke pemerintah Aceh melalui DKP Aceh, salah satunya pelabuhan nelayan di Keude Trumon,” kata Hadi Suhaima.
Lebih lanjut Hadi Suhaima menjelaskan, beberapa Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) di Aceh Selatan seperi PPI Bakongan, Sawang Ba’u,Keude Meukek dan Labuhan Haji dan Keude Trumon memang menjadi prioritas agar dilakukan penggerukan dan rehabilitasi.
“Semoga tahun 2027 PPI yang dimaksud dapat dilakukan perluasan, penggerukan dan rehabilitasi sesuia dengan kondisi dan kebutuhan,” tutup Hadi Suhaima.[]

Tidak ada komentar