Melalui Blue Action, USK dan Mahasiswa KKN Perkuat Sabuk Hijau Pesisir Banda Aceh

5 menit membaca View : 3
Redaksi
Daerah, News - 02 Sep 2026

ASPIRATIF – Upaya memperkuat ketahanan masyarakat dan ekosistem pesisir terhadap dampak perubahan iklim dilakukan melalui aksi nyata di Gampong Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Gampong Binaan (PKM-BGB) Universitas Syiah Kuala (USK) Bersama Aceh Climate Change Initiative (ACCI-USK) dan 20 mahasiswa KKN Tematik menanam lebih dari 200 bibit mangrove sekaligus membangun sistem perlindungan bibit menggunakan bambu dan jaring.

Kegiatan yang berlangsung pada 30 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari program Blue-Green Action: Penguatan Kelembagaan ProKlim melalui Mitigasi Pesisir dan Manajemen Limbah di Gampong Binaan Alue Deah Teungoh.

Program ini mengintegrasikan aksi lingkungan dengan penguatan kelembagaan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di tingkat gampong.

Aksi di Alue Deah Teungoh tidak berhenti pada penanaman mangrove. Tim juga menerapkan Bamboo Protector, yaitu struktur perlindungan berbahan bambu yang dikombinasikan dengan net atau jaring untuk membantu mengurangi risiko kerusakan bibit akibat sampah laut, tekanan arus, serta dinamika pasang surut.

Pendekatan ini dikembangkan untuk menjawab persoalan rendahnya kelangsungan hidup bibit mangrove yang sebelumnya telah diidentifikasi sebagai salah satu tantangan prioritas di kawasan tersebut.

Bambu dipasang membentuk struktur pelindung di sekitar area penanaman dan dikombinasikan dengan net untuk membantu mengurangi masuknya sampah serta tekanan langsung terhadap bibit.

“Yang ingin kami bangun bukan hanya kawasan yang ditanami mangrove, tetapi sebuah model aksi iklim yang dapat dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat. Karena itu, penanaman kami kombinasikan dengan perlindungan bibit, penguatan kelembagaan, pengelolaan lingkungan, serta keterlibatan mahasiswa dan masyarakat. Harapannya, pendekatan ini dapat menjadi praktik lokal yang berkelanjutan dan mendukung penguatan ProKlim di Alue Deah Teungoh,” ungkap Irfan Zikri, Tim PKMBGB USK dan Program Manager ACCI.

Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi pesisir tidak dapat hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Tingkat keberlangsungan hidup bibit, pemeliharaan, pemantauan, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari keberlanjutan program.

Dari perspektif masyarakat, kegiatan tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi warga untuk terlibat langsung dalam menjaga kawasan pesisir.

“Kami tentu sangat mendukung kegiatan seperti ini karena kawasan pesisir merupakan bagian penting dari lingkungan tempat kami tinggal. Yang kami harapkan bukan hanya penanamannya, tetapi juga bagaimana mangrove yang sudah ditanam dapat dirawat dan dijaga bersama. Kalau masyarakat dilibatkan sejak awal, kami berharap rasa memiliki terhadap kawasan ini juga semakin kuat,” ungkap Ari Gunawan, Kepala Dusun di Alue Deah Teungoh.

Ia menambahkan, bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi dan mahasiswa memberikan manfaat tidak hanya dalam bentuk kegiatan lingkungan, tetapi juga melalui pengetahuan dan pendampingan yang dapat membantu masyarakat memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Pendekatan partisipatif tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam program Blue-Green Action, yang menempatkan masyarakat sebagai bagian dari proses penguatan ketahanan lingkungan di tingkat gampong.

Sebanyak 20 mahasiswa KKN Tematik terlibat langsung dalam kegiatan penanaman dan pemasangan struktur perlindungan mangrove. Mahasiswa turun ke kawasan pesisir untuk menanam bibit sekaligus menyiapkan dan memasang bambu serta net sebagai pelindung.

“Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya bagian dari program KKN, tetapi juga pengalaman belajar langsung di lapangan. Kami dapat melihat bahwa menjaga lingkungan pesisir tidak cukup hanya dengan menanam. Bibit juga harus dilindungi dan dirawat. Yang menarik adalah kami dapat bekerja bersama masyarakat dan tim untuk mencari solusi yang sederhana tetapi sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Abdur Rahim Mahasiswa KKN Tematik dari Program Studi Teknik Kimia USK

Menurut Abdur Rahim, keterlibatan mahasiswa lintas disiplin juga membuka kesempatan untuk memahami bahwa persoalan lingkungan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga melibatkan masyarakat, kelembagaan, dan aspek sosial.

Lebih dari 200 bibit yang ditanam diharapkan menjadi bagian dari penguatan kembali fungsi kawasan pesisir Alue Deah Teungoh sebagai sabuk hijau alami.

Dalam jangka panjang, keberadaan mangrove memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan kawasan pesisir terhadap abrasi dan dinamika pasang surut sekaligus menjaga kualitas ekosistem pesisir.

Program Blue-Green Action menempatkan keberlanjutan sabuk hijau mangrove sebagai salah satu sasaran ekologis dalam membangun ketahanan Gampong Alue Deah Teungoh.

Namun, penanaman merupakan tahap awal. Keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat bergantung pada pemeliharaan, perlindungan, pemantauan, dan keterlibatan Masyarakat setelah kegiatan berlangsung.

Karena itu, kolaborasi antara Tim PKM-BGB USK, ACCI-USK, mahasiswa KKN Tematik, Pemerintah Gampong Alue Deah Teungoh, dan Masyarakat diharapkan terus berkembang melalui kegiatan pemeliharaan, pemantauan, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Aksi penanaman dan perlindungan mangrove ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim) di Gampong Alue Deah Teungoh melalui aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat.

Program Blue-Green Action juga mendukung kolaborasi ACCI-USK dengan Pemerintah Kota Banda Aceh dalam memperkuat agenda rencana aksi gender dan perubahan iklim.

Sinergi dengan Pemerintah Gampong Alue Deah Teungoh dan Dinas Lingkungan Hidup Banda Aceh diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan ProKlim sekaligus mendorong aksi iklim berbasis masyarakat.

Bagi kawasan pesisir seperti Alue Deah Teungoh, pendekatan ini menunjukkan pentingnya menghubungkan rehabilitasi ekosistem, pengurangan risiko perubahan iklim, penguatan kelembagaan lokal, dan partisipasi masyarakat dalam satu kerangka aksi.

Melalui Blue-Green Action, penanaman mangrove diposisikan bukan sebagai kegiatan sesaat, tetapi sebagai bagian dari proses membangun ketahanan pesisir yang berkelanjutan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, mahasiswa, dan lembaga pendamping diharapkan dapat terus diperkuat sehingga aksi penanaman dapat berkembang menjadi gerakan pemeliharaan dan perlindungan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.[]

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *