
ASPIRATIF – Mempersiapkan perjalanan ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik dan pemahaman tata cara ibadah, tetapi juga pengetahuan tentang sejarah, kondisi geografis, serta budaya masyarakat di Tanah Suci.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Nashita Al Hujjaj menyelenggarakan kegiatan Manasik Haji Pertemuan ke-10 pada Ahad (8/11), bertempat di Masjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini menghadirkan Ustaz H. Muharril Ashary, Lc., Pimpinan Pondok Pesantren Babun Najah Banda Aceh sekaligus alumni program magister di Maroko, sebagai narasumber. Materi yang diangkat bertajuk “Mengenal Tanah Suci: Sejarah, Geografi, Budaya, dan Titik Penting Ibadah Haji.”
Dalam pemaparannya, peserta diajak mengenal lebih dekat sejarah Makkah dan Madinah, kedudukan Ka’bah, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi, serta lokasi-lokasi penting dalam rangkaian ibadah haji, seperti Arafah, Muzdalifah, Mina, dan Jamarat.

Selain itu, pembahasan mencakup penentuan miqat, kondisi geografis dan cuaca di Arab Saudi, hingga budaya serta adab berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz H. Muharril Ashary, Lc. menyampaikan bahwa memahami Tanah Suci tidak cukup hanya dengan mengetahui lokasi dan tempat-tempat pelaksanaan ibadah haji, tetapi juga perlu memahami sejarah dan makna di balik setiap tempat tersebut.
“Memahami Tanah Suci tidak cukup hanya dengan mengetahui lokasi dan tempat-tempat pelaksanaan ibadah haji, tetapi juga perlu memahami sejarah dan makna di balik setiap tempat tersebut. Pengetahuan ini penting agar jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik, memahami perjalanan Rasulullah SAW, serta menghayati setiap rangkaian ibadah haji. Dengan demikian, jamaah tidak hanya hadir secara fisik di Tanah Suci, tetapi juga memiliki pemahaman dan kesadaran spiritual terhadap ibadah yang dijalankan,” ungkapnya.
Ketua KBIHU Nashita Al Hujjaj, Hj. Zaidar Jaafar, S.Ag., menyampaikan bahwa manasik merupakan bagian penting dari ikhtiar mempersiapkan calon jamaah agar mampu menjalankan ibadah dengan baik, mandiri, dan penuh pemahaman.
“Menjadi tamu Allah adalah sebuah kehormatan sekaligus amanah yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Kami ingin jamaah tidak hanya memahami rukun dan wajib haji, tetapi juga mengenal lingkungan tempat mereka akan beribadah. Dengan bekal pengetahuan tersebut, jamaah diharapkan lebih siap, tidak mudah bingung, serta dapat menjalani setiap tahapan perjalanan haji dengan tenang dan khusyuk,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pembinaan jamaah tidak semata-mata berorientasi pada pemenuhan materi manasik, melainkan membangun kesiapan mental, spiritual, dan kebersamaan antarsesama calon jamaah.
Melalui pertemuan ini, KBIHU Nashita Al Hujjaj berharap seluruh calon jamaah semakin mantap mempersiapkan diri menuju Baitullah.
Sebab, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang membutuhkan ilmu, kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan.[Ari]

Tidak ada komentar