Tim Ekspedisi Patriot IPB Dorong Nelayan Kembangkan Budidaya BBL dan Ekosistem Bisnis Lobster

3 menit membaca View : 1
Redaksi
Daerah, News - 26 Agu 2026

ASPIRATIF – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Insitut Pertanian Bogor (IPB) University Jawa Barat, mendorong pengembangan budidaya Benih Bening Lobster (BBL) bersama masyarakat dan nelayan di sekitar kawasan transmigrasi Selaut, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh.

Kegiatan tersebut berlokasi di Desa Lafakha Kecamatan Alafan, Kabupaten Simeulue pada Minggu (23/8/2026).

Program ini tidak diarahkan sekadar sebagai kegiatan percontohan (prototype), tetapi sebagai langkah awal membangun ekosistem bisnis lobster dari budidaya hingga pemasaran.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB University, Dr Irzal Effendi kepada mefia ini, Rabu (26/8) menyebutkan, tim ini beranggotkan Fina Tanjung SPi, Dhara Devona SPi, Yesi Limbong SPi, Okto Ijen SPi MSi, dan Berli Adam Sah, STr Pi.

Katanya, pengembangan budidaya BBL merupakan tindak lanjut kajian dan pemetaan potensi perikanan TEP IPB University di kawasan transmigrasi Selaut dan wilayah pesisir Simeulue.

Dr Irzal menjelaskan, hasil kajian tersebut kemudian diarahkan menjadi riset aksi berskala usaha tani (farming research), sehingga teknologi yang dikembangkan dapat diuji langsung dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Menurutnya, mengubah potensi BBL bisa menjadi nilai tambah, karena Kabupaten Simeulue memiliki potensi sumber daya lobster yang besar.

Namun ungkap Dr Irzal, nelayan di sini masih menghadapi sejumlah kendala dalam pemanfaatannya, mulai dari keterbatasan wadah budidaya, transportasi antarpulau hingga kesulitan mempertahankan BBL setelah diperoleh.

Disampaikannya, salah seoang nelayan mengatakan, bahwa BBL relatif sulit diperoleh, tetapi ketika berhasil mendapatkan dalam jumlah tertentu, peluang untuk mengusahakannya tetap terbuka.

Ia menuturkan, permasalahan muncul ketika lobster harus di bawa ke rumah, karena tanpa wadah dan pengelolaan air yang tepat, lobster beresiko mengalami kematian.

“Kondisi tersebut mendorong TEP IPB University untuk mengembangkan sistem pemeliharaan yang lebih dekat dengan sumber BBL, salah satunya di sekitar Pulau Lekon,” kata Dr Irzal.

Dikatakannya, pendekatan ini juga dapat mengurangi kebutuhan membawa lobster dan air laut dalam jarak yang jauh.

Teknologi Disesuaikan dengan Kondisi Masyarakat

Lebih lanjut Dr Irzal menjelaskan lagi, bahwa budidaya BBL tidak harus menggunakan teknologi yang kompleks.

“Kalau tidak ada listrik, air laut bisa digunakan dan dialirkan ke dalam ember. Ada ember berisi air laut yang ditempatkan lebih tinggi untuk kemudian dialirkan ke ember yang berada lebih rendah,” ujarnya.

Dr Irzal mengungkapkan, sistem sederhana tersebut memanfaatkan aliran air secara gravitasi sehingga dapat menjadi alternatif untuk pemeliharaan skala rumah tangga di wilayah dengan keterbatasan listrik.

Sementara itu, anggota TEP IPB University, Fina Tanjung mengatakan, budidaya BBL di sekitar Pulau Lekon dapat dikembangkan melalui beberapa pendekatan sesuai kondisi lingkungan.

“Budidaya lobster bisa dilakukan di sekitar Pulau Lekon dengan menyesuaikan kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat,” imbuh Fina.

Menurutnya, budidaya BBL tidak hanya dapat menggunakan Recirculating Aquaculture System (RAS) di darat, tetapi juga Meramba Jaring Tenggelam (KJT) di laut.

Fina menjelaskan, penggunaan KJT dinilai sesuai dengan kondisi perairan yang mendukung serta keterampilan masyarakat setempat yang telah terbiasa melakukan aktivitas penyelaman.

Dari BBL Menuju Juvenil
TEP IPB University

Dr Irzal menyampaikan, ia mendorong agar BBL tidak berhenti sebagai komoditas awal, tetapi dipelihara dan di dederkan hingga ukuran juvenil.

“Karena proses tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat,” tandasnya.

Dr Irzal mengatakan, pengembangan ini diarahkan untuk menciptakan peluang pendapatan melalui pemeliharaan lobster.

“Kami mencoba menciptakan nilai ekonomi melalui produksi lobster hingga ukuran juvenil. Dengan pemeliharaan sekitar dua bulan, masyarakat sudah memiliki peluang mendapatkan nilai ekonomi,” katanya.

Ditambahkannya, BBL yang diperoleh sesuai dengan ketentuan yang berlaku kemudian dipelihara dengan teknologi yang sesuai, dikelola kualitas airnya dan didederkan hingga ukuran juvenil sebelum masuk ke rantai pemasaran.[]

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *