
Pagi itu, seorang pemuda telah meninggal dunia.Namanya dikenal oleh hampir seluruh penduduk Bashrah. Ia dikenal sebagai seorang pendosa.
Mereka tahu maksiat yang pernah ia lakukan. Bahkan, ketika ia berjalan melewati pasar, sebagian orang memilih menjauh.
Ada yang mencibir.Ada yang menggelengkan kepala. Ada pula yang berkata,pemuda itu tidak akan pernah berubah.”
Mereka mengenalinya dari dosa-dosanya. Dan mungkin, mereka tidak pernah berusaha mengenal hatinya. Ketika kabar kematiannya tersebar,Bashrah tetap berjalan seperti biasa.

Pedagang masih membuka kedainya.Orang-orang masih berlalu-lalang.Tetapi di sebuah rumah sederhana, tubuh pemuda itu telah terbujur kaku. Tidak ada lagi langkah kaki.Tidak ada lagi suara.
Tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Jenazahnya kemudian disiapkan. Namun, hanya sedikit orang yang datang.
Tak banyak yang menangis.Tak banyak yang mengiringi.Seolah kepergiannya tidak meninggalkan luka di hati siapapun.
Ia yang sepanjang hidupnya merasa tidak layak di mata manusia, kini bahkan meninggalkan dunia dalam kesunyian.
Tetapi,ada satu hal yang tidak diketahui penduduk Bashrah. Sesuatu yang hanya muncul ketika Rabiul Awal datang.
Setiap kali bulan itu tiba, pemuda tersebut seperti menjadi manusia yang berbeda. Ia akan mandi. Ia mengenakan pakaian terbaik yang ia punya. Ia memakai wewangian.Ia menyiapkan makanan.
Lalu duduk dengan tenang untuk membaca kisah kelahiran Rasulullah. Dan ketika nama Muhammad Shalallahu alaihi wasallam disebut, hati pemuda itu luluh.
Air matanya jatuh perlahan.Bukan karena ia merasa dirinya sudah menjadi orang saleh. Justru sebaliknya, mungkin ia menangis karena tahu betapa banyak dosa yang telah ia lakukan. Betapa jauhnya ia dari akhlak kekasih Allah.
Barangkali dalam kesendiriannya,ia hanya mampu berbisik,”Ya Rasulullah, lalu air matanya kembali jatuh.
Seolah ia sedang berkata kepada dirinya sendiri,”Aku tahu aku bukan umat yang baik,aku tahu dosaku begitu banyak, tetapi izinkan aku tetap mencintaimu.
Dan setiap kali kisah kelahiran Rasulullah selesai dibaca, mungkin ia hanya bisa menundukkan kepala. Menangis, berharap.
Berharap bahwa suatu hari nanti. Allah tidak memandangnya hanya dari dosa-dosanya.Tetapi juga dari cinta yang ia simpan begitu dapat.Begitulah yang lakukan. Tahun demi tahun hingga ajal menjemput.
Pagi itu, jenazahnya dibawa. Sunyi. Namun sebelum benar-benar selesai menguburkan nya, terdengar sesuatu yang membuat penduduk Bashrah terdiam.
“Wahai penduduk Bashrah,hadirilah jenazah seorang kekasih Allah,”. Mereka saling berpandangan.”Kekasih Allah?”Siapa? Bukankah yang meninggal adalah seorang pendosa?
Namun suara itu terus menggema di hati mereka. Akhirnya, mereka datang. Orang-orang yang dahulu menjauhinya kini mengangkat jenazahnya.
Dan untuk pertama kalinya, mereka memberikan penghormatan kepada seseorang yang selama ini mereka anggap hina.
Malam tiba. Bashrah kembali sunyi. Namun malam itu, beberapa penduduk bermimpi melihat pemuda tersebut. Ia mengenakan pakaian sutra yang indah. Wajahnya berseri. Keadaannya begitu mulia.
Lalu seseorang bertanya, “Dengan apa engkau mendapatkan kemuliaan ini?”
Ia menjawab, “Dengan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.”
Barulah semuanya terasa jelas. Mereka selama ini hanya melihat dosanya. Tetapi mereka tidak pernah melihat air matanya.
Mereka hanya mengetahui maksiatnya. Tetapi mereka tidak pernah mengetahui cintanya.
Dan kita tidak tahu, mungkin seseorang yang hari ini terlihat begitu jauh dari kebaikan, sedang menggenggam satu cinta yang kelak menjadi jalan baginya untuk kembali. Maka jangan pernah merasa, “Aku terlalu banyak dosa untuk mencintai Rasulullah.”
Tidak. Datanglah dengan segala kekuranganmu. Bershalawatlah dengan segala dosamu. Bacalah kisah hidupnya meski hatimu belum sebersih yang kau inginkan. Sebab terkadang “Allah tidak menunggu kita menjadi baik untuk mencintai Rasulullah ﷺ.”[]

Tidak ada komentar