
ASPIRATIF|BANDA ACEH -Memasuki awal Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijrah Nabi Muhammad SAW yang bertepatan dengan 16 Juni 2026 Miladiah, Paduka Seri Baginda Duli Yang Maha Mulia Tuanku Muhammad (I) ZN Al-Haj Panglima Perkasa Berdaulat Dzilullah Fil Alam selaku Pemegang / Pengemban Amanah / Waris Istiadat Diradja / Yang di-Pertuan Besar dan Agung Keradjaan Atjeh Darussalam, secara resmi mengeluarkan Maklumat DiRadja dari Istana Darul Ihsan.
Melalui Majlis Istiadat Diradja Keradjaan Atjeh Darussalam, disampaikan bahwa peringatan 1 Muharram tahun ini dilaksanakan dengan nuansa yang berbeda. Menyikapi situasi terkini, peringatan kali ini difokuskan murni pada kegiatan doa bersama dan santunan kepada anak anak yatim.
Majlis Istiadat juga mengonfirmasi bahwa prosesi Istiadat Pengibaran bendera pusaka Alam Peudeung ditiadakan untuk tahun ini, mengingat Nanggroe Aceh masih dalam suasana duka yang mendalam pascabencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah.
Peringatan tahun ini ditekankan sebagai momentum refleksi dan kewaspadaan bersama dalam mencermati berbagai gejolak yang tengah melanda dunia dan Indonesia.

Dalam amanat agungnya, Duli Tuanku menitikberatkan pada beberapa poin utama yang menuntut perhatian seluruh rakyat Aceh khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.
Mencermati eskalasi perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat dan Iran, serta ketegangan yang kian mencekik Timur Tengah, Keradjaan Atjeh Darussalam menyerukan agar duka lara umat ini segera diakhiri melalui lisan kebijaksanaan diplomasi, bukan dentuman senjata.
Bersamaan dengan itu, Keradjaan mendesak Pemerintah RI untuk meninjau ulang atau keluar dari keanggotaan Board of Peace, yang dinilai kerap menjadi kepanjangan tangan hegemoni global dan tidak selaras dengan napas perjuangan kemerdekaan mutlak Bangsa Palestina.
Penolakan Tegas Terhadap Pangkalan Militer Asing di Indonesia
Mengingatkan pada sejarah infiltrasi penjajah masa lala dulu, Tuanku menyuarakan kekhawatiran mendalam atas desas-desus pendirian pangkalan militer Amerika Serikat maupun kekuatan asing lainnya di wilayah Republik Indonesia.
Kehadiran militer asing dinilai mencederai maruah bangsa; pertahanan terbaik negara harus bersumber dari kemandirian militer nasional dan persatuan rakyat.
Sejarah Peradaban Atjeh Masa Lalu Dukung Kemajuan Industri Pariwisata
Arah Pembangunan Pemerintah Provinsi Aceh dan Keadilan Ekonomi
Di tengah ancaman perlambatan ekonomi nasional, Duli Tuanku secara khusus menyoroti arah kebijakan pembangunan oleh Pemerintah Provinsi Atjeh.
Kekayaan alam Aceh (minyak, gas, dan hasil bumi) dituntut untuk dikelola seadil-adilnya bagi kemakmuran rakyat lokal.
Praktik eksploitasi yang menyebabkan ketimpangan ekonomi dan membiarkan masyarakat pesisir serta gampong dalam jerat kemiskinan harus segera dihentikan.
Konflik Ekologis dan Kelestarian AlamMerespons rentetan bencana hidrometeorologi (banjir dan tanah longsor) yang membawa duka bagi Nanggroe Aceh, maklumat ini mengecam keras tindakan pembalakan liar, perusakan lingkungan, dan berbagai bentuk konflik ekologis lainnya.
Praktik rakus yang merusak kelestarian alam dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap titipan Sang Khalik.
Perang Mutlak Melawan NarkobaKeradjaan menyerukan penegakan hukuman seberat-beratnya bagi para pengedar dan pihak yang merusak kewarasan akal generasi penerus agama dan bangsa melalui peredaran narkotika (sabu dan sejenisnya).
Revitalisasi Peran Lembaga AdatSeluruh Kerabat Di Radja, Uleebalang, Ulama, dan Pemangku Adat diinstruksikan untuk turun ke tengah masyarakat sebagai pelayan umat (khadimul ummah).
Lembaga adat dituntut untuk menjadi mitra yang lurus dan kritis bagi jalannya pemerintahan—menegur jika bengkok, menyokong jika benar—serta terus mengawal implementasi keadilan dan syariat.
“Jangan biarkan tanah Nusantara yang berdaulat ini digadaikan kedaulatannya, dan jangan biarkan rakyat kita diseret menjadi tameng atau medan palagan bagi kepentingan pertarungan imperium-imperium besar dunia! Pertahanan terbaik adalah kekuatan rakyat yang bersatu dan militer nasional yang mandiri.”katanya.
Kutipan Maklumat DiRadja, Paduka Seri Baginda Tuanku Muhammad (I) ZN Al-Haj.Maklumat ditutup dengan ajakan memperkuat semangat meuseuraya (gotong royong) dan ta’awun (tolong-menolong) untuk membantu para korban bencana alam, serta munajat agar Nanggroe Atjeh Darussalam dan Republik Indonesia senantiasa dilindungi dalam maghfirah dan penjagaan Allah SWT.[]

Tidak ada komentar