Dari Aceh Moorden Jadi Aceh Bodoh, Kita Dirampok Oleh Bangsa Sendiri 

Redaksi
24 Mei 2026 19:40
News Opini 0 62
2 menit membaca

Oleh : T.Sukandi

DULU BELANDA menjuluki kita “Aceh Moorden” si pembunuh. Itu bukanlah hinaan, tapi itu adalah pengakuan, dengan pedang dan rencong, nenek moyang kita bikin penjajah muntah darah di tanah ini, julukan itu adalah medali kehormatan, itu adalah bukti bahwa Aceh tidak pernah tunduk pada penjajah

Sekarang Aceh disebut provinsi termiskin di Sumatera. Bukan karena kita miskin SDA. Tapi karena kita Bodoh mengelolanya, gelar itu menusuk, membuat kita malu dan sakit hati

Buktinya, listrik kita diatur oleh dan dari Medan. Kita punya PLTU Nagan Raya. Kapasitasnya cukup untuk menerangi seluruh ABAS dan ALA.

Tapi siapa yang pegang saklarnya? PT PLN DPPB Sumatera Utara.Arus listrik dari Nagan Raya ditarik dulu ke Medan. Baru diputar balik ke Aceh.

Ini bukan manajemen. Ini penghinaan. Kita menghasilkan, mereka yang mengatur, kita yang bayar mahal.

Semen kita diputar balik, pabrik semen curah ada di Lhoknga, Aceh.Tapi semen itu diangkut kapal ke Medan, dikantongi di sana dengan merek “Andalas”. Baru kemudian dikirim balik ke Aceh untuk dijual ke rakyat Aceh.

Berapa biaya bolak-balik yang kita tanggung?. Kalau kantong semen diproduksi di Aceh, harga bisa ditekan minimal 20% lebih murah. Tapi kita lebih enak menggemukkan Medan.

Sawit kita, pabriknya milik mereka. Kita punya kebun sawit luas.Tapi kita cuma punya pabrik CPO.  LCPO dikirim ke Medan. Diolah jadi produk hilir di sana.

Hasil akhirnya? Dijual balik ke Aceh dengan harga 3 kali lipat.  Kita jual bahan mentah, kita beli barang jadi. Pola kolonial yang sama, beda aktor.

Semua SDA kita nasibnya sama. Mineral, batu bara, kayu, semua dikirim keluar sebagai bahan mentah. Diolah di luar. Di-mark up.

Lalu, dikembalikan ke Aceh untuk dibeli. Kita jadi kuli di tanah sendiri. Penjajahnya bukan Belanda lagi. Penjajahnya adalah sistem yang kita biarkan.

Kita tidak dijajah militer. Kita dijajah secara ekonomi karena bodoh, takut, dan diam. Kita punya semua. Tapi kita tidak menguasai apa-apa.

Maka biarlah saya bicara jujur :

Saya lebih bangga jadi Aceh Moorden, daripada jadi Aceh Bodoh” yang kaya SDA tapi miskin harga diri, yang diam saat kekayaannya dirampok secara ekonomi oleh bangsa sendiri.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
x
x