Jangan jadikan Ramadan “trash in, trash out”

Redaksi
19 Mar 2026 23:16
News Opini 0 36
3 menit membaca

Oleh : Heru Setiawan

Tanpa terasa, kita sudah berada di penghujung bulan suci Ramadan. Di akhir Ramadan ini, berbagai cara dilakukan untuk menutup bulan yang penuh berkah ini.

Ada yang merasa sedih dan berduka seolah-olah terkena musibah, namun ada juga yang berbahagia karena mampu menjaga puasanya dengan baik.

banner 350x350

Artinya, ada yang bersedih, menangis, dan merasa kehilangan seperti orang yang terkena musibah. Mereka adalah orang-orang yang memahami bahwa dalam bulan suci Ramadan terdapat banyak keistimewaan yang akan segera berlalu. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

‎ِإذَا كَانَ َاخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ بَكَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلاَرْضُ وِالْمَلاَئِكَةُ مُصِيْبَةً لِاُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قِيْلَ اَيُّ مُصِيْبَةٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم هِيَ ذَهَابُ رَمَضَانَ لِاَنَّ الدَّعْوَاتِ فِيْهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالصَّدَقَةًَ مَقْبُوْلَةٌ

Artinya: Ketika malam terakhir bulan Ramadan tiba, langit, bumi, dan para malaikat menangis karena musibah yang telah menimpa umat Nabi Muhammad SAW. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah ini sebuah bencana, wahai Rasulullah?”

Maka Rasulullah menjawab, “Perpisahan dengan bulan Ramadan, karena di bulan ini semua doa kita dikabulkan oleh Allah dan zakat kita diterima oleh-Nya.” Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

‎مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap ridha Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis atau sabda Rasulullah Muhammad SAW ini menunjukkan keistimewaan bulan Ramadhan, sehingga dosa-dosa kita yang telah lalu pasti akan diampuni oleh Allah SWT. Sebab, amalan puasa kita.

Selama Bulan Ramadan, seluruh kaum muslimin yang beriman telah dididik, sedemikian rupa untuk memegang prinsip kejujuran, tanggung jawab serta kepekaan, sosial terhadap sesama manusia muslim dan pembiasaaan pembiasaan positif lainnya, seperti sholat berjama’ah di Masjid, membaca al-Qur’an, mampu mengendalikan diri dan hawa nafsu serta perbuatan perbuatan positif lainnya yang diperintahkan oleh Allah SWT dan di ajarkan Rasulullah SAW.

Namun ketika menjelang akhir Ramadan, tentunya kita harus bertanya kepada diri kita masing masing, masihkah kebiasaan kebiasaan positif selama Ramadhan tersebut akan tetap dipertahankan? akankah kita tetap istiqomah dengan semua itu?, atau sebaliknya, setelah Ramadan, kita akan kembali meninggalkan masjid,
meletakkan kembali al-Qur’an dan tidak membacanya apalagi mengamalkan isinya ?, dan banyak lagi pertanyaan yang muncul.

Sudahkah seorang muslim memanfaatkan umur untuk kepentingan mencapai ridha Allah SWT, melaksanakan perintah perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT, atau kah kita sekadar memanfaatkan umur dengan diperbudak oleh hawa
nafsu?,

Jangan sampai puasa yang telah dilaksanakan hanya tinggal kenangan sebagai satu rutinitas yang tidak memiliki makna dan mampu menjadikan diri kita menjadi yang terbaik dihadapan Allah SWT.

Jangan sampai kita menjadi manusia muslim yang tidak mampu meraih hikmah dari berpuasa kecuali lapar dan dahaga saja, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa apa dari puasanya itu kecuali hanya lapar dan dahaga saja “.

Jangan kita berhenti di sini. Kebaikan-kebaikan di bulan Ramadan harus kita lanjutkan dengan baik. Begitu pula dengan keburukan yang kita lakukan, harus kita hentikan.

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bermuhasabah menyiapkan diri atas hari akhir kelak. Sebagaimana dalam QS. Al-Hasyr ayat 18.

‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok [akhirat]. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Kita jadikan muhasabah sebagai karakter dari diri seorang muslim. Terus memantau diri kita, terus melihat amalan kita, dan senantiasa memperhatikan atas amalan yang telah dilakukan untuk hari esok. Kita sambut hari esok dengan bekerja keras pada urusan ukhrawi.

Jadikan Ramadhan sebagai awal untuk berubah jadi baik dan awal untuk istiqamah dalam kebaikan. Jangan “trash in, trish out” (Masuk dalam keadaan buruk, Keluarpun masih dalam keadaan buruk).

Semoga pada akhir hari-hari puasa di tahun 1447 H ini, Allah SWT benar-benar mengabulkan segala doa yang kita panjatkan, serta mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita.

Dan semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan kemenangan, yaitu mereka yang meraih keutamaan malam Lailatul Qadar. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x