
Oleh : Heru Setiawan
RAMADAN adalah waktu terbaik untuk meningkatkan keimanan, membersihkan jiwa, dan memperbaiki diri dengan penuh keikhlasan. Manfaatkan setiap detiknya untuk beribadah, bersyukur, dan menebar kebaikan, menjadikan bulan ini momen transformasi positif.
Jadikanlah bulan ramadhan ini awal untuk melakukan kebaikan yang sudah kita tinggalkan atau belum pernah kita lakukan sama sekali, dan awal meninggalkan yang dilarang oleh Allah.
Di antara keutamaan dan keistimewaan Ramadan tersebut, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat,
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلَّ فِيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شهر
Artinya: “Telah datang kepada kalian semua bulan Ramadan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat (dibelenggu) dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.” (HR. Ahmad)
Kata berkah atau barakah atau mubarak berasal dari kata kerja yang merujuk kepada peristiwa yang terjadi pada masa lalu (fi’il madhi, past tense), baraka. Menurut Imam An-Nawawi, baraka itu artinya tumbuh, berkembang, bertambah dan kebaikan yang berkesinambungan.
Ar-Raghib Al-Asfahaniy memaknai kata ini dengan ats-Tsubut (ketetapan atau keberadaan) dan tsubut al-khayr al-ilahy (adanya kebaikan Tuhan). Atau, dalam istilah Imam Al-Ghazali, barakah itu ziyadatul-khair ala kulli syai’, bertambahnya kebaikan atas segala sesuatu.Kumpulan Khotbah Inspiratif
Dalam buku Durus al-‘Am, Syaikh Abdul Malik Al-Qasimi menjelaskan bahwa berkah atau barakah adalah
وَالْبَرَكَةُ هِيَ ثُبُوتُ الْخَيْرِ الْإِلهِي فِي الشَّيْءِ. فَإِنَّهَا إِذا حَلَّتْ فِي قَلِيلٍ كَثَّرَتْهُ وَإِذَا حَلَّتْ فِي كَثِيرٍ نَفَعَ
Artinya: “Barokah adalah adanya kebaikan yang berasal dari Allah pada suatu hal. Sesuatu yang sedikit jika mendapatkan keberkahan, berubah jadi terasa banyak. Sesuatu yang banyak jika mendapatkan keberkahan, terasa sangat besar manfaatnya.”
Dari pengertian ini saja, setidaknya ada tiga indikator bahwa sesuatu itu diberkahi.
Pertama, sesuatu yang sedikit jika barakah akan terasa banyak. Umur pendek yang diberkahi adalah umur yang diisi dengan berbagai kebaikan dan menghasilkan banyak karya dan amal saleh.
Ramadan disebut bulan penuh berkah karena di bulan Ramadan pahala amal kebaikan dilipatgandakan.
Amalan yang awalnya biasa saja menjadi luar biasa nilainya di hadapan Allah bagi yang menjalankannya.
Amalan sunnah diganjar sebagaimana layaknya amalan wajib. Di bulan ini kebaikan bertambah dan bertumbuh menjadi kebaikan yang berkesinambungan.
Kedua, sesuatu yang berkah adalah sesuatu yang membuahkan manfaat luar biasa.
Ilmu agama yang banyak dan berkah akan memberi manfaat yang mendunia dan mendatangkan kebaikan bagi banyak orang.
Umur panjang dan berkah akan membuahkan karya-karya (amal saleh) yang monumental dan besar manfaatnya bagi masyarakat luas
Dalam hal ini, jika amalan di bulan Ramadhan dimaksimalkan, maka ia akan mendatangkan manfaat yang besar bagi pelakunya.
Hatinya akan tertata kembali. Pikirannya dibersihkan dari berbagai prasangka dan negative thinking.
Ia akan lebih optimis dalam menghadapi problematika hidupnya. Karenanya, ketika Hari Raya tiba, ia akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan (al-faizin)
Ketiga, dikatakan berkah karena sesuatu atau keadaan itu bisa mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menambah kebaikan atau ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ramadan akan menjadi berkah bagi pelakunya, jika setelah Ramadan ia menjadi semakin dekat dan bertakwa kepada Allah.
Sebaliknya, jika setelah Ramadan seseorang tidak mengalami perubahan apapun, maka ia patut mengoreksi diri atas puasa Ramadannya.
Jadi, pelaku manusia ikut menentukan perubahan dalam dirinya. Jika berusaha untuk selalu mendekat kepada-Nya, maka Allah pun akan lebih mendekat kepada hamba-Nya.
Karenanya, tidak ada alasan lain bagi seorang muslim kecuali harus bisa meraih berkah Ramadhan.
Oleh karena itu, pola pikir manusia perlu diubah: bukan sekadar “yang penting berusaha” sebagai formalitas, tetapi “berusaha itu penting” sebagai prinsip hidup yang mendorong keseriusan dan komitmen.
Dalam realitas sosial, sikap ini akan mendorong seseorang untuk keluar dari zona nyaman, yang kerap menjadi jebakan.
Zona nyaman dapat menciptakan stagnasi, baik dalam produktivitas individu maupun dalam dinamika sosial, termasuk dalam aspek rezeki yang bersifat materi.
Ketika seseorang berhenti bergerak maju, ia juga kehilangan peluang untuk beradaptasi dengan perubahan sosial dan ekonomi di sekitarnya.
Dengan keimanan yang kokoh serta keyakinan terhadap rahmat-Nya, kita akan lebih mudah menghadapi ujian hidup dengan penuh ketabahan dan optimisme.
Semoga kita selalu termasuk dalam golongan orang-orang yang mampu melihat kemudahan di balik setiap kesulitan, serta senantiasa berpegang teguh pada petunjuk Allah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.[]
Tidak ada komentar