Foto : IlustrasiDalam sebuah komentar di Grup Rumoh Gedong Aceh Selatan, salah satu anggota grup inisial Us, mengeluarkan stagmen yang menusuk ke hulu hati, bagi siapa saja yang saat ini berprofesi sebagai wartawan alias jurnalis.
Komentar menohok ini,tentu saja dilontarkan oleh Us, atas pengalaman yang pernah dia lihat atau dia dengar. Apalagi Us menceritakan bahwa ia pernah ikut pelatihan jurnalistik saat masih sekolah SMU dulu.
Us protes dan tidak mau melanjutkan jadi wartawan sekalipun ada tawaran. Sebab,menurutnya wartawan kebanyakam cari duit dengan cara cari-cari kesalahan orang atau lembaga. Setelah dapat,minta tebusan,kalau tidak diberikan akan diancam di publikasikan ke kemedia. Pekerjaan jahat dan bejat tutup Us dalam komentarnya.
Sebagai insan pers saya tertegun dan terhenyak membaca komentar pak Us tersebut. Sebab, selama 23 tahun menulis dan pernah menimba ilmu jurnalistik,ternyata sehina itukah profesi wartawan di mata pak Us.
Begitupun, bisa jadi banyak masyarakat lain yang berpikir sama seperti Pak Us terhadap profesi wartawan. Jahat, bejat atau apalah namanya.
Pak Us, sebagai salah satu pimpinan Media di Aceh,saya hanya ingin mengatakan tidak semua wartawan sama seperti yang pak Us katakan.
Mungkin yang pak Us maksud adalah wartawan gadungan yang tidak memiliki integritas dan pengalaman jurnalistik yang matang. Sama juga seperti ustadz gadungan yang hanya memanfaatkan ayat Tuhan untuk mencari kekayaan.
Pak Us, saya tahu latar belakang anda seorang yang ahli dalam ilmu agama, meskipun kita tidak kenal dekat. Saya bukan membela diri dan merasa sok suci, sebab sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa.[Red]
Tidak ada komentar