
Oleh: Ayah Ilham
Sembilan tahun telah berlalu sejak malam duka itu menyelimuti Aceh Selatan. Namun bagi para santri, masyarakat Pasie Raja, Tapaktuan, Kluet Raya, hingga banyak penjuru Aceh, kepergian Abuya Tgk. H. Mohd. Yunus At-Thaiby bukanlah akhir dari sebuah kisah.
Ia justru menjadi awal dari kesadaran bahwa pernah hidup di tengah-tengah umat ini seorang ulama besar, pendidik sejati, dan penjaga warisan ilmu yang jejaknya terus hidup sampai hari ini.
Haul ke-9 ini bukan sekadar mengenang tanggal wafatnya seorang tokoh, tetapi menghadirkan kembali nilai, keteladanan, dan perjuangan seorang guru yang mendedikasikan hidupnya untuk agama, pendidikan, dan kemaslahatan masyarakat.
Lahir dari Kampung, Besar untuk Umat
Abah Yunus lahir di Ladang Tuha, Kecamatan Pasie Raja, pada 22 Agustus 1945. Dari kampung sederhana itulah tumbuh seorang anak yang kelak menjadi salah satu ulama paling berpengaruh di Aceh Selatan. Sejak muda, beliau menunjukkan kecintaan yang mendalam kepada ilmu agama.
Beliau menempuh pendidikan di Dayah Darussa’adah Kotafajar, di bawah asuhan ulama kharismatik Abuya Jailani Musa. Pada masa itu, beliau dikenal sebagai santri yang sangat cerdas, tekun, dan memiliki daya tangkap luar biasa. Kecerdasan beliau bukan hanya diakui sesama santri, tetapi juga oleh gurunya sendiri.
Dalam satu kisah yang masih dikenang, ketika para guru senior tidak lagi berada di kelas tertentu, Abuya Jailani Musa mengumpulkan santri dan menanyakan siapa yang sanggup mengajar. Semua terdiam. Hingga akhirnya Abuya menunjuk Yunus muda dengan kalimat yang kemudian melegenda:
“Nyoe meunan gata, Tgk. Yunus gantoe uloen.”(Mulai sekarang engkau, Tgk. Yunus, menggantikan saya.)
Amanah besar itu diterima dengan linangan air mata. Bukan karena takut, tetapi karena beratnya tanggung jawab ilmu. Sejak saat itu, Abah Yunus mulai dikenal sebagai tangan kanan gurunya.
Menyempurnakan Sanad Keilmuan
Perjalanan ilmunya berlanjut ke Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh, Bireuen, di bawah bimbingan Abu TU (Tgk. H. Muhammad Amin). Di sana pun beliau menempati posisi terhormat sebagai murid tua dan guru senior.
Dari majelis-majelis ilmu yang beliau isi, lahirlah banyak kader ulama dan pemimpin dayah. Di antaranya tokoh-tokoh yang kini dikenal luas di Aceh, seperti:
– Abu Paloh Gadeng
– Abon Yazid Al-Yusufi Blang Pidie.
– Para pimpinan dayah di Aceh Selatan, Abdya, Simeulue, dan daerah lainnya.
– Putra-putra beliau sendiri yang meneruskan estafet pendidikan
Beliau bukan hanya pengajar kitab, tetapi pencetak generasi.
Membangun Benteng Pendidikan
Setelah kembali ke kampung halaman, Abah Yunus tidak memilih hidup tenang. Beliau memilih jalan pengabdian.
Dengan kesungguhan dan keberanian, beliau mendirikan beberapa lembaga pendidikan Islam yang menjadi mercusuar ilmu di Aceh Selatan:
– Dayah Ihya Ulumuddin – Ladang Tuha (1982).
– Dayah Madinatuddiniyah Jabal Makmur, Pucok Krueng Pasie Raja (1991).
– Dayah Terpadu Jabal Rahmah, Lhok Bengkuang Tapaktuan (2004)
Setiap dayah yang beliau dirikan memiliki karakter perjuangan tersendiri.
Jabal Makmur berdiri di kawasan perbukitan, jauh dari hiruk-pikuk kota, namun melahirkan banyak santri tangguh.
Sedangkan Jabal Rahmah didirikan pada masa konflik Aceh, ketika banyak orang takut membangun. Tetapi Abah Yunus justru hadir dengan visi besar: menyelamatkan pendidikan dan menyiapkan generasi masa depan.
Beliau memadukan sistem salafi dan pendidikan umum, sehingga santri mampu menguasai ilmu agama sekaligus siap menghadapi tantangan zaman.
Ulama yang Dekat dengan Pemerintah dan Rakyat
Abah Yunus bukan ulama yang mengasingkan diri dari persoalan umat. Beliau hadir di tengah masyarakat, memberi nasihat kepada rakyat kecil, sekaligus menjadi rujukan pemerintah.
Beliau pernah mengemban amanah sebagai:
– Anggota MPU Provinsi Aceh
– Ketua MPU Aceh Selatan
– Tokoh pembina majelis taklim pemerintahan Aceh Selatan
– Anggota DPRK Aceh Selatan periode 1999–2004.
Namun jabatan tidak pernah mengubah kesederhanaannya. Beliau tetap tampil sebagai guru kampung yang teduh, mudah ditemui, dan menjadi tempat bertanya bagi siapa saja.
Pengaruh Besar di Pasie Raja, Kluet, dan Aceh Selatan
Nama Abah Yunus sangat harum di Pasie Raja, tanah tempat beliau tumbuh dan mengabdi. Tetapi pengaruh beliau meluas ke Kluet Raya, Tapaktuan, Samadua, Labuhanhaji, hingga daerah-daerah lain.
Banyak masyarakat mengenang beliau sebagai:
– penyejuk saat konflik sosial
– penengah ketika terjadi perselisihan
– penguat moral di masa sulit
– penjaga marwah ulama di tengah perubahan zaman
Beliau dicintai bukan karena kekuasaan, tetapi karena akhlak dan keberkahan ilmu.
Malam Duka yang Tak Terlupa
Pada Minggu malam, 6 Agustus 2017, sekitar pukul 24.00 WIB, Abah Yunus berpulang ke rahmatullah di RSUD Zainal Abidin Banda Aceh, setelah menjalani perawatan.
Kabar duka menyebar cepat ke seluruh Aceh Selatan. Ribuan masyarakat berduyun-duyun datang ke kompleks Dayah Jabal Rahmah. Santri menangis, masyarakat kehilangan, para tokoh merasa sepi.
Beliau kemudian dimakamkan di lingkungan dayah yang beliau bangun sendiri, seolah ingin tetap dekat dengan santri dan ilmu hingga akhir zaman.
Haul ke-9: Bukan Sekadar Seremoni
Haul ini bukan sekadar acara tahunan. Ini adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:
– Sudahkah kita mencintai ilmu seperti beliau?
– Sudahkah kita mendidik generasi dengan ikhlas seperti beliau?
– Sudahkah kita menjaga persatuan umat sebagaimana beliau teladankan?
Karena ulama tidak benar-benar wafat selama ilmunya masih diamalkan.
Hari ini, ketika azan berkumandang di dayah-dayah yang beliau dirikan, ketika santri membaca kitab di ruang-ruang belajar, ketika masyarakat menyebut namanya dengan hormat, di situlah Abah Yunus masih hidup dalam doa dan kenangan.
Selamat mengenang Haul ke-9 Abuya Tgk. H. Mohd. Yunus At-Thaiby. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya, meninggikan derajatnya di sisi para shalihin, dan menjadikan ilmu yang beliau wariskan sebagai cahaya yang terus menerangi Aceh sepanjang masa.
Al-Fatihah untuk Abah Yunus
Penulis bernama Tgk. Ilham Misal, MA, Merupakan Dosen STAI Tapaktuan dan Aktivis Dayah Aceh.[]
Tidak ada komentar