Masjid Tempat Berteduh, Bukan Tempat Membunuh

Redaksi
3 Nov 2025 19:23
Kolom News 0 106
2 menit membaca

(Refleksi Kegelisahan BKPRMI atas Hilangnya Peran Masjid yang Ramah Jamaah)

Oleh : Teguh Shiddiq (Kader Muda BKPRMI Aceh Selatan)

Tragedi yang terjadi di Masjid Agung Sibolga beberapa waktu lalu sungguh mengguncang nurani umat. Seorang mahasiswa perantau dari Aceh tewas setelah dianiaya, hanya karena dianggap “tidur di masjid tanpa izin”.

banner 350x350

Tersangka bahkan berkata, “Saya tak suka pendatang tidur di sini”. Kata-kata itu seolah menjadi tamparan keras bagi kita semua, terutama bagi komunitas masjid dan generasi muda Islam.

Masjid Bukan Milik Kelompok Tertentu

Dalam sejarah Islam, masjid bukan sekadar tempat sujud, tetapi rumah bersama: tempat berteduh, belajar, berdialog, bahkan tempat orang miskin mencari ketenangan.

Namun kini, di beberapa tempat, masjid mulai kehilangan wajah ramahnya. Ia dijaga dengan curiga, dijauhkan dari yang “berbeda”, bahkan menakutkan bagi yang sedang lemah.

Tragedi Sibolga adalah cermin retak dari realitas itu: ketika masjid tidak lagi menjadi pelukan, melainkan pagar yang memisahkan.

BKPRMI dan Panggilan Moral Umat

Bagi BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia), kejadian ini bukan sekadar berita kriminal. Ini adalah panggilan moral.

Masjid harus kembali menjadi ruang kemanusiaan, tempat siapa pun merasa aman dan diterima, termasuk pendatang, mahasiswa, atau pekerja yang sekadar ingin beristirahat di serambi masjid.

BKPRMI percaya, Masjid yang makmur bukan hanya yang ramai shalat, tapi yang menumbuhkan kasih dan peduli terhadap sesama.

Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan

BKPRMI dan pengurus masjid di seluruh Indonesia bisa mengambil langkah sederhana tapi bermakna:

1. Mendidik jamaah tentang adab dan empati terhadap sesama muslim dan pendatang.

2. Menyediakan ruang sosial di masjid, misalnya untuk musafir, mahasiswa perantau, atau warga yang sedang kesulitan.

3. Meningkatkan komunikasi pengurus–jamaah, agar setiap peraturan masjid diterapkan dengan hati, bukan dengan amarah.

4. Membuka forum remaja masjid untuk membahas isu sosial keummatan, agar masjid menjadi pusat dialog dan kasih, bukan kekerasan.

Kembali ke Spirit Masjid Nabi

Mari kita belajar dari Masjid Nabawi, tempat di mana yang miskin bisa tidur, yang lapar bisa makan, dan yang asing bisa menemukan rumah.

Jika masjid kini berubah menjadi tempat di mana “pendatang ditolak”, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan ruh Islam itu sendiri.

Mari kita jaga masjid agar tetap hidup, bukan hanya oleh lantunan ayat, tetapi juga oleh napas kasih.

Masjid harus menjadi tempat berteduh, bukan tempat membunuh; tempat menyembuhkan, bukan melukai.

Karena rumah Allah bukan hanya milik mereka yang mapan, tetapi juga bagi mereka yang sedang mencari jalan pulang.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x