Tgk. Sumardy Tarmisal: Dayah dan Ulama Punya Peran Strategis Bangun Karakter Masyarakat Aceh Selatan

Redaksi
10 Jan 2026 13:12
Daerah News 0 248
2 menit membaca

ASPIRATIF.ID — Dayah dan ulama memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan karakter masyarakat Aceh Selatan. Selain sebagai pusat pendidikan keagamaan, dayah juga menjadi ruang pembinaan akhlak dan moral generasi, agar mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Hal tersebut disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Terpadu Darul Aitami Aceh Selatan, Tgk. Sumardy Tarmisal, saat menyampaikan pandangannya terkait peran dayah dan ulama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Menurut Tgk. Sumardy, sejak dahulu dayah telah menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter umat. Nilai-nilai yang diajarkan di dayah tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan akhlakul karimah, sikap rendah hati, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.

“Dayah mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan akhlak. Kemajuan tanpa adab akan kehilangan arah, dan pembangunan tanpa nilai akan mudah menimbulkan kegaduhan,” ujar Tgk. Sumardy.

Ia menjelaskan, di tengah dinamika sosial dan perbedaan pandangan yang ada di masyarakat, ulama memiliki peran sebagai penyejuk dan perekat umat.

Dakwah yang disampaikan dengan hikmah diharapkan mampu menjaga persatuan serta menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman.

“Islam mengajarkan kesejukan, bukan kegaduhan. Perbedaan adalah rahmat yang harus disikapi dengan kebijaksanaan, bukan emosi. Ulama berupaya mengajak umat untuk menjaga persaudaraan dan ketenangan bersama,” lanjutnya.

Tgk. Sumardy juga menekankan bahwa pembangunan karakter merupakan investasi jangka panjang bagi Aceh Selatan.

Menurutnya, santri yang dididik di dayah diarahkan untuk tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial, sehingga mampu menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat.

Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga Aceh Selatan dengan akhlak dan kesadaran kolektif. Kritik dan perbedaan pandangan, kata dia, hendaknya disampaikan dengan niat membangun, bukan untuk saling menjatuhkan.

“Menjaga ketenangan adalah bagian dari ibadah sosial. Aceh Selatan bukan milik satu kelompok, tetapi rumah besar yang harus dirawat bersama demi masa depan anak cucu kita,” tuturnya.

Dengan peran dayah, keteladanan ulama, serta dukungan masyarakat, Tgk. Sumardy optimistis Aceh Selatan akan terus melangkah menuju daerah yang damai, beriman, dan bermartabat, sejalan antara kemajuan pembangunan dan nilai-nilai keislaman yang telah mengakar kuat. []

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x