Perjalanan Lembut Abdurrahman bin Auf Menjaga Iman dari Dunia

Redaksi
5 Jan 2026 06:44
News Tarikh 0 161
3 menit membaca

Di antara sahabat nabi, ada seorang lelaki yang langkahnya tenang, suaranya lembut dan matanya selalu tertunduk karena rasa takut kepada Allah.

Namanya Abdurrahman bin Auf. Ia bukan hanya seorang pedagang ulung,tapi juga seorang yang hatinya bergetar ketika mendengar nama akhirat.

Hijrah, dari kaya menjadi tak berpunya,ketika perintah hijrah turun. Abdurrahman meninggalkan seluruh kekayaannya di Makkah. Rumah,harta,emas,perniagaan,semuanya di tinggalkan demi Allah dan rasulnya.

banner 350x350

Ia tiba di Madinah tanpa membawa apa-apa. Debu masih masih melekat di wajahnya,ketika Rasulullah mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Robi Al anshari,seorang sahabat kaya dan dermawan.

Sa’ad berkata dengan tulus :

“Wahai saudaraku,aku memiliki dua kebun,dua istri dan harta yang banyak,ambillah salah satu untukmu,”

Tapi Abdurrahman hanya tersenyum dan menepuk pundak saudaranya dan berkata dengan lembut :

“Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu,tunjukkan saja kepadaku dimana pasar,hanya itu,”

Sebuah kalimat sederhana,tapi dari sanalah kisah keajaiban rezki dimulai. Kekayaan yang tak di minta. Abdurrahman memulai dari nol,berjualan susu,minyak,kain lalu perhiasan.

Setiap keuntungan ia sisihkan sebagian untuk sedekah.Hari berganti,bulan berlalu ,tangannya tak henti memberi dan Allah terus menambahnya.

Tak lama, seluruh Madinah mengenalnya sebagai pedagang paling jujur,paling dermawan dan paling berhasil. Namun, ketika kekayaan mengalir deras,hatinya justru semakin sesak.

Malam malamnya kerap di isi dengan air mata dan doa. “Ya Allah,Engkau telah memberiku harta,tapi jangan Engkau jadikan ini tali yang menjeratku di dunia dan penghalangku menuju surgamu,” pinta Abdurrahman dalam doanya.

Air Mata di Tengah Kekayaan

Suatu hari,ia menangis saat melihat makanan yang sangat lezat di hadapanya. Sahabat-sahabatnya bertanya,mengapa engkau menangis wahai Abdurrahman.

Ia menjawab lirih,Mus’ab bin Umar. Sahabat terbaik kami gugur di Uhud dengan hanya selembar kain menutupi tubuhnya. Sedang aku kini menikmati semua ini. Aku takut Allah telah mempercepat balasanku di dunia. Mereka terdiam dan tak ada yang mampu menjawab.

Kekayaan yang Menggetarkan Langit

Ketika Rasulullah memanggil kaum muslimin untuk berinfak di jalan Allah, Abdurrahman datang membawa empat ribu dinar emas. Ia berkata, dua ribu untul keluargaku,dan dua ribu lagi untuk Allah dan rasulnya.

Rasulullah tersenyum lalu bersabda :

” Apa yang engkau sisakan untuk dirimu wahai Abdurrahman,”

Ia menjawab :

” Aku sisakan Allah dan Rasulnya,”

Rasulullah mengangkat tangan dan mendoakannya :

“Ya Allah,berkahilah harta Abdurrahman bin Auf,”. Dan doa itu terkabul,hartanya tak pernah habis,meski ia memberi tanpa henti.

Abdurrahman bin Auf tak pernah meminta menjadi kaya. Ia hanya ingin menjadi hamba yang taat,walau harus hidup miskin.

Tapi Allah memilihnya untuk menjadi saluran rezki bagi umat. Ia seorang dermawan yang takut kepada Allah, dan seorang sahabat nabi yang di jamin masuk surga.[Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x