Yayasan HAkA: Deforestasi di Aceh Harus Dihentikan untuk Mengakhiri Banjir Berulang

Redaksi
18 Jan 2026 18:28
Daerah News 0 124
2 menit membaca

ASPIRATIF.ID – Banjir yang melanda berbagai wilayah di Aceh pada Akhir Tahun 2025 lalu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Bencana ini merupakan akumulasi dari kerusakan ekologis yang terus dibiarkan, terutama akibat deforestasi hutan yang masif dan berkepanjangan.

Hilangnya tutupan hutan telah merusak keseimbangan alam dan menghilangkan fungsi hutan sebagai pelindung alami dari bencana hidrometeorologis.

Raja Mulkan (Juru Kampanye Hutan dan Satwa Liar Yayasan HAkA) menyerukan penghentian deforestasi sebagai langkah mendesak untuk memutus mata rantai bencana di Aceh.

banner 350x350

Melalui aksi Kampanye “Stop Deforestation” adalah peringatan bahwa kerusakan hutan hari ini akan menjadi penderitaan masyarakat di masa depan.

Penyeruan ini bukan hanya ditujukan kepada pemerintah dan pelaku usaha, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat. Perlindungan hutan tidak dapat diserahkan kepada satu pihak semata.

Tanpa kesadaran kolektif dan keberanian untuk menghentikan praktik perusakan hutan, Aceh akan terus menghadapi krisis ekologis yang berulang.

Hutan Aceh adalah benteng terakhir hutan yang ada di pulau sumatera, memiliki peran strategis sebagai penyangga kehidupan, sumber keanekaragaman hayati, serta benteng alami terhadap bencana.

Kehilangan hutan berarti kehilangan perlindungan, kehilangan ruang hidup, dan kehilangan masa depan. Oleh karena itu, pembangunan tidak boleh lagi mengorbankan hutan, dan kebijakan yang melemahkan perlindungan lingkungan harus dihentikan.

“Meski Aceh punya hutan terluas di pulau Sumatera, itu bukan jaminan daerah ini bebas dari bencana hidrometeorologis. Faktanya, sekitar 47 persen daratan Aceh berada di wilayah dengan lereng curam hingga sangat curam. Sebagai bahan refleksi “Apakah bencana banjir yang kita alami sanggup mencegah manusia untuk tidak merusak hutan lagi,” kata Raja Mulkan, Minggu, 18 Januari 2026.

Momentum banjir yang terjadi saat ini seharusnya menjadi titik balik untuk menata ulang hubungan manusia dengan alam.

Yayasan HAkA mengajak semua pihak untuk melihat hutan bukan sebagai komoditas semata, tetapi sebagai penentu keselamatan dan keberlanjutan hidup bersama.

Stop deforestasi sekarang. Selamatkan hutan Aceh. Selamatkan masa depan.[]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x