Foto: Ilustrasi Pemerintahan yang sehat seharusnya dibangun di atas landasan kritik konstruktif dan akuntabilitas yang ketat. Namun, realitasnya seringkali dikaburkan oleh tirai tebal yang ditenun dari pujian halus.
Sanjungan, dalam konteks politik, telah berevolusi dari sekadar rasa hormat menjadi sebuah instrumen strategis.
Ia adalah “mata uang” politik yang paling efektif: murah untuk diucapkan, tetapi mahal dampaknya terhadap kesehatan demokrasi.
Pujian halus ini sejatinya adalah kemasan yang mengkilap untuk membungkus kepentingan pribadi yang destruktif.
Para penyanjung, yang seringkali merupakan elit politik atau birokrat di lingkaran dalam, tidak menyuarakan keagungan pemimpin karena ketulusan, melainkan karena perhitungan pragmatis.
Sanjungan adalah investasi untuk mendapatkan akses, memuluskan proyek, mengamankan jabatan strategis, atau bahkan meraih kekebalan dari pengawasan.
Ketika pemimpin terbuai oleh narsisme yang diciptakan oleh sanjungan ini, ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara loyalitas sejati dan kepura-puraan yang bermotif.
Dampak dari “pujian berkarat” ini menjalar jauh melampaui urusan pribadi sang pemimpin. Ia secara perlahan merusak tatanan pemerintahan melalui beberapa mekanisme utama:
1. Mengikis Integritas Kritik
Lingkungan yang penuh sanjungan menihilkan ruang bagi kritik yang jujur. Mereka yang berani menyuarakan kebenaran akan dicap sebagai pembangkang, pengkhianat, atau oposisi yang destruktif.
Akibatnya, mekanisme kontrol dan keseimbangan internal seperti lembaga pengawasan atau staf ahli yang independen menjadi lumpuh.
2. Menyuburkan Korupsi
Ketika kepentingan pribadi disamarkan di balik dukungan buta, penyalahgunaan wewenang menjadi tak terhindarkan.
Kebijakan publik tidak lagi dibuat berdasarkan kebutuhan rakyat, melainkan disesuaikan untuk mengakomodasi ambisi para penyanjung dan donatur.
Proyek-proyek yang tidak efisien, penunjukan pejabat yang tidak kompeten, dan korupsi sistemik pun menjadi konsekuensi logis.
3. Menciptakan “Gema Ruangan” (Echo Chamber)
Pemimpin yang terus-menerus disanjung hanya akan dikelilingi oleh orang-orang yang mengulang apa yang ingin ia dengar.
Hal ini menciptakan “gelembung realitas” di mana masalah-masalah riil di masyarakat tidak terdeteksi atau diabaikan.
Ketika pemimpin kehilangan sentuhan dengan realitas, keputusannya menjadi semakin bias dan tidak relevan.
4. Melumpuhkan Akuntabilitas
Dalam iklim di mana setiap tindakan pemimpin dianggap sempurna, konsep pertanggungjawaban menjadi kabur.
Kesalahan ditutup-tutupi, kegagalan dialihkan, dan mekanisme hukuman terhadap pelanggaran etika menjadi tumpul.
Pada akhirnya, sanjungan politik adalah alat yang paling halus dan paling berbahaya dalam menghancurkan tatanan.
Ia tidak menggunakan kekuatan militer atau ancaman langsung; ia bekerja secara diam-diam, meracuni logika, dan menggantikan kebenaran dengan ilusi kenyamanan.
Pemerintahan pun berubah dari institusi pelayan publik menjadi ajang persaingan para oportunis yang menari di atas panggung kekuasaan, sementara fondasi negara secara fundamental dirongrong dari dalam.
Untuk menjaga tatanan, bukan hanya kritik yang harus diperkuat, tetapi juga kemampuan pemimpin untuk menolak suara manis yang justru membawanya menuju jurang kejatuhan.[]
Tidak ada komentar