Foto: Ilustrasi Kita hidup di dunia ini seperti melewati sebuah jalan dengan lintasan penuh dengan dinamika dan tantangan. Medan terjal yang harus terus kita daki, hingga menurun dan mendatar,tak boleh membuat kita terlena.
Perjalanan yang sudah kita lalui, menyisakan masa lalu sebagai pengamalan,masa kini sebagai kenyataan dan masa yang akan datang sebagai harapan.
Sehingga,kita butuh rambu -rambu agar kita senantiasa lancar dan selamat sampai ke tujuan, dan ketakwaan lah yang mampu memandu kita agar tetap berada pada jalan yang benar dan bekal yang paling baik dalam perjalanan.
“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.Bertakwalah kepada -Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat (QS Al-Baqarah:197).
Dalam sebuah perjalanan panjang,kita haruslah menyempatkan diri berhenti sejenak untuk mengumpulkan kembali semangat dan tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
Begitupun, dalam kehidupan di dunia,kita harus menyediakan waktu untuk melakukan introspeksi, evaluasi, menghitung, sekaligus kontemplasi yang dalam bahasa Arab disebut dengan muhasabah.
“Hisablah diri (intropeksi) kalian sebelum kalian dihisap,dan berhias dirilah untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisap). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisap dirinya saat hidup di dunia,” kata Sayyidina Umar bin Khattab.
Sebagai hamba Allah yang lemah dan tidak pernah luput dari khilaf dan salah, ada beberapa manfaat yang dapat kita rasakan setelah melakukan muhasabah.
Pertama, sebagai wahana mengoreksi diri
Dengan intropeksi diri, kita akan melihat kembali perjalanan hidup sekaligus mengoreksi manakah yang paling dominan dalam perjalanan selama ini.
Apakah kebaikan atau sebaliknya, apakah banyak manfaat atau mudharat atau apakah semakin mendekat atau malah semakin menjauh dari Allah SWT.
Kedua, upaya memperbaiki diri
Dengan intropeksi diri, kita akan mampu melihat kelebihan dan kekurangan diri kemudian memperbaiki nya di masa yang akan datang.
Dengan memperbaiki diri,maka kualitas akan lebih baik dan waktu yang dilewati juga penuh dengan manfaat dan maslahat bagi orang lain.
Ketiga, momentum mawas diri
Diibaratkan ketika kita pernah memiliki pengalaman melewati jalan yang penuh lika-liku,maka kita bisa lebih berhati-hati ketika akan melewatinya lagi.
“Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah! Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (ajaran Allah) dengan jelas,”
Keempat, memperkuat komitmen diri
Setiap orang pasti memiliki kesalahan. Oleh karenanya, instrospeksi diri menjadi momentum penting untuk memperbaiki diri dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali kesalahan yang telah dilakukan pada masa lalu.
“Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin,maka ia tergolong orang yang beruntung.Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia tergolong orang yang merugi. Dan siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin,maka ia orang yang dilaknat (celaka),” (HR Al-Hakim).
Kelima, sebagai sarana meningkatkan rasa syukur dan tahu diri
Kita harus sadar, bahwa keberadaan kita sampai saat ini sama sekali tidak lepas dari nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan Allah SWT.Itu sebab, intropeksi diri akan membawa kita mengingat nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku),maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih,”.(QS Ibrahim:7).
Mari kita akhiri tahun 2025 ini dengan melakukan muhasabah diri, bahwa kita adalah hamba yang paling lemah dan tidak pernah luput dari salah dan dosa. [Red]
Tidak ada komentar